Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Puasa Siapakah yang Terbaik?

Puasa Siapakah yang Terbaik?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
manzalawy.net
manzalawy.net

dakwatuna.com – Alhamdulillah, Ramadhan sudah tiba. Kita patut berbahagia. Terlebih, kita wajib bersyukur kepada Allah. Di bulan sebelumnya, bagi yang berdo’a, “Allahumma barik lanaa fi sya’ban wa ballighnaa Ramadhan”, pasti terasa getar tersendiri di dalam hati. Sebab ini adalah suatu kenikmatan yang besar dari Allah SWT. Banyak orang yang mengharapkan ia masih bisa bernafas dan mengikuti puasa Ramadhan tahun ini, tetapi ketetapan Allah sudah mendahuluinya. Semoga mereka mendapati ganti yang lebih baik di sisi Allah.

Saudaraku, mengenai awal Ramadhan, memang di negeri kita ini, kaum Muslimin memiliki keyakinan yang berbeda. Itu semua terjadi, karena memang ada dua cara penentuan awal Ramadhan yang dibenarkan dengan dalil yang kuat; hisab dan ru’yatul hilal (melihat bulan). Untuk metode ru’yatul hilal, ada pula dua bentuk keyakinan, yaitu ru’yatul hilal global dan ru’yatul hilal lokal.

Ru’yatul hilal global maksudnya adalah ketika ada satu orang muslim pun yang menyatakan sudah melihat bulan, dan ia bersedia bersaksi, maka seluruh muslim boleh mulai berpuasa. Sedangkan ru’yatul hilal lokal bermaksud bahwa bulan harus tampak di suatu daerah dulu, baru dimulai puasa. Jika tidak dapat melihat bulan, maka sesuai hadits Rasulullah, bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari.

Nah, saya pribadi, insya Allah sudah memulai puasa pada hari ini (Sabtu, 28/6/14). Lagi-lagi, di sini kita percaya dan meyakini berdasarkan dalil dan metode yang dibenarkan. Jadi, apa alasannya? Pertama, dengan metode pertama (hisab) sudah bisa ditetapkan bahwa 1 Ramadhan bertepatan dengan 28 Juni 2014. Kedua, dengan metode ru’yatul hilal, di beberapa daerah sudah terlihat bulan pada tanggal 27 Juni 2014, antara lain di Amerika Utara. Untuk mengetahui hal ini, kita bisa melihat hasil pengamatan bulan di situs moonsighting.com. Maka, sebagaimana metode ru’yatul hilal global yang diyakini oleh 3 imam madzhab (selain Imam Syafi’i yang menganut ru’yatul hilal lokal), seluruh umat Muslim di dunia sudah bisa berpuasa mulai hari ini.

Saudara-saudara sekalian, bagaimanapun metode yang kita yakini, itu tidak harus menyisakan bekas permusuhan dan pertikaian. Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, bila kita punya dalil yang kuat, maka itu dibenarkan. Nah, sekarang kita bertanya, puasa siapakah yang paling baik?

Jawabannya tentu saja bukan puasa orang yang berpuasa hari ini atau besok. Tidak! Bukan itu jawabannya. Orang yang puasanya paling baik adalah orang yang dengan berpuasa maka ketakwaannya kepada Allah semakin bertambah. Sekali lagi, mari kita simak Surat al-Baqarah ayat 183 yang menjadi dasar untuk ibadah puasa.

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Saudaraku, inilah perhatian utama kita; “agar kamu bertakwa.” Maka, sangat riskan apabila di awal-awal saja kita sudah saling cela dan merasa paling benar sendiri dalam penetapan awal Ramadhan. Padahal, masing-masing kita meyakini berdasarkan dalil yang kuat. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang bertakwa bila untuk menerima perbedaan (yang menjadi bagian dari rahmat Allah) saja kita tidak bisa?

Marilah berlapang dada dalam menyikapi perbedaan ijtihad. Toh, di sisi Allah, itu semua akan mendapatkan kebaikan. Ingatlah hadits Rasulullah, beliau mengatakan, kalau pun hasil ijtihad itu salah, sudah ada satu pahala, kalau benar akan diberikan dua pahala. Dan kebenaran itu hanya milik Allah. Allahu a’lam.

Sekarang, mari kita memperbaiki niat dan keyakinan untuk menjalani Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan dengan memperbaiki niat di dalam hati dan melaksanakan ibadah-ibadah dengan baik, kita terdaftar sebagai orang bertakwa. Sebab kerugian orang-orang yang diberikan karunia berupa kesempatan untuk mengikuti Ramadhan adalah tidak bertambahnya ketakwaan kepada Allah. Sementara, ada begitu banyak orang yang sangat merindukan kesempatan ini dan bila mereka berkesempatan tentu mereka akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Dalam momentum Ramadhan, mari kita memperbaiki keislaman kita secara sungguh-sungguh. Alangkah celakanya kalau kita menjadikan Islam hanya untuk menambah identitas belaka. Padahal, agama Islam bukan hanya untuk menjadi penghias KTP. Tetapi, ketika menyatakan beragama Islam, ada harga yang harus kita bayar. Sebab Islam adalah jalan menuju Allah. Bila tidak ditempuh, kita tidak akan sampai ke mana-mana. Hanya berdiri di tempat kita berpijak.

Saudaraku, terakhir di tulisan kali ini, saya ingin mengingatkan, orang yang paling baik adalah orang yang setiap saat berganti waktu maka bertambah baiklah keadaannya. Maka, kita bisa tercatat sebagai orang yang baik dan beruntung apabila pada Ramadhan kali ini, kita mendapatkan manfaat yang lebih besar dibanding Ramadhan sebelumnya. Beginilah orang yang bersyukur atas karunia Allah. Mereka tidak akan menyia-nyiakan apa yang ada di sisi mereka. Sebab, ini adalah hal besar yang tidak semua orang mampu merasakan.

Belum terlambat untuk membuka kembali buku-buku tentang puasa Ramadhan. Agar ibadah puasa yang kita jalankan ini benar-benar punya nilai kebaikan di sisi Allah. Mudah-mudahan kita tercatat sebagai hamba Allah yang bertakwa. Amiin.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini