Home / Berita / Internasional / Amerika / Karena Memakai Jilbab, Muslimah di AS Dilarang Bertanding Basket

Karena Memakai Jilbab, Muslimah di AS Dilarang Bertanding Basket

Bilqis Abdul-Qaadir, Seorang Muslimah AS yang menjadi bintang Basket.  (masslive.com)
Bilqis Abdul-Qaadir, Seorang Muslimah AS yang menjadi bintang Basket. (masslive.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Bilqis Abdul-Qaadir, seorang muslimah yang menjadi bintang lapangan basket di Amerika Serikat (AS). Namun, cita-citanya untuk menjadi atlet bola basket internasional untuk saat ini harus terhenti. Sebab, terdapat sebuah aturan yang melarang atlet mengenakan jilbab saat bertanding basket di luar negeri.

“Saat ini, hanya FIBA (Federasi bola basket Internasional) yang menghalangiku,” ujar Bilqis seperti yang dikutip dari onislam.net, Jumat (29/6/2014).

Bilqis mengatakan banyak poin-poin peraturan internasional yang menghambat mimpinya menjadi atlet bola basket internasional. Anak bungsu dari 7 bersaudara ini berasal dari keluarga muslim yang taat.

Di dalam keluarganya, Bilqis diajarkan untuk mempraktekkan segala amalan yang menjadi perintah di dalam agama Islam dengan rasa bangga sebagai seorang muslimah. Dunia basket didalaminya secara alamiah sejak kecil.

Bakatnya bermain basket telah tampak sejak dia masih balita. Di usianya yang masih belia saat itu, dia hanya meniru kakaknya bermain basket dan dia sudah mampu memasukkan bola ke dalam ring.

Kini, Bilqis telah menjadi bintang lapangan. Bahkan dia telah mencatat sejarah saat berhasil menjadi pencetak angka terbanyak bagi timnya Massachusetts. Dia memecahkan angka 2.710 poin yang dicetak oleh pemain basket wanita dari National Basketball Association Rebecca Lobo 17 tahun yang lalu.

Bilqis kemudian menjadi bergabung dalam Divisi I tim basket di University of Memphis. Dia menjadi pemain wanita berjilbab pertama yang tergabung dalam Divisi I olahraga universitas di AS

Namun mimpinya kini dihentikan oleh peraturan FIBA yang melarangnya bertanding karena memakai jilbab. Pihak FIBA telah membenarkan adanya peraturan ini. Mereka mengatakan aturan ini diberlakukan demi menjaga netralitas agama.

Dengan adanya peraturan ini, berarti Bilqis tidak bisa bertanding di luar negeri. ”

Bilqis tak tinggal diam. Gadis yang lahir pada 11 November 23 tahun yang lalu ini menyuarakan protesnya atas peraturan ini.

“Mereka memberi kesan kepada muslim seperti mereka takut kepada kita. Apa yang dilakukan beberapa orang Islam tidak ada hubungannya dengan kita semua. Kita tidak semua sama, sama halnya dengan agama apapun yang (semua pemeluknya) tidak sama. FIBA mengatakan ingin menjaga agar tetap netral dalam agama, tapi ini diskriminasi,” kata Bilqis.

Peraturan yang Tidak Adil

Merasa aturan FIBA tidak adil, Bilqis menyatakan desakannya untuk memperbolehkan atlet basket wanita yang berjilbab diperbolehkan untuk ikut dalam pertandingan internasional.

“Ini tidak masuk akal bagi saya. Ini akan memakan waktu bagi mereka untuk mengubah peraturan yang ada saat ini dan saya tidak akan menunggu sampai hal itu terjadi. Saya tidak mengubah cara saya. Saya sudah datang sejauh ini, dan agama saya juga sudah membawa saya sampai sejauh ini,” imbuhnya.

“Saya ingin mencari pekerjaan di suatu tempat, mungkin menjadi pelatih di tingkat SMA.”

Meski karirnya sebagai atlet bola basket masih belum jelas arahnya, Bilqis sudah menjadi fenomena di dunia basket perempuan AS. “Saya banyak belajar dalam perjalanan ini,” tutur Bilqis.

“Di perguruan tinggi, Anda bertemu dengan banyak orang yang tidak menyukai Anda. Saya sudah melakukan banyak loncatan. Dan saya benar-benar berpikir bahwa segala sesuatu terjadi pasti karena suatu alasan.”

Dukungan dari Umat Muslim AS

Kasus ini telah mendapat banyak dukungan dari kelompok advokasi muslim terkemuka di AS. Salah satunya Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang menyerukan diperbolehkannya pemain basket berjilbab untuk ikut pertandingan.

“Bilqis adalah muslimah AS yang mengenakan jilbab, dan tidak bisa mengejar karier profesional tingkat internasional karena pasal 4.4.2 aturan dari FIBA yang melarang pemain menggunakan penutup kepala. Kami percaya aturan ini melanggar hak beragama Nona Abdul Qaadir dan bertentangan dengan norma-norma internasional tentang hak asasi manusia,” tulis CAIR dalam suratnya kepada Presiden FIBA Yvan Mainini.

“Tidak ada atlet yang bisa dipaksa untuk memilih antara iman dan olahraga. Perempuan muslim berusaha untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraha tidak seharusnya mendapat hambatan-hambatan dan kesewenang-wenangan.”

“Dewan Asosiasi sepak bola intenasional (FIFA) baru-baru ini telah mengakui hak beragama para atletnya dan memperbolehkan pemainnya mengenakan jilbab dan surban.”

Jilbab di dalam Islam adalah sebuah kewajiban bagi seluruh umatnya, bukan sekedar simbol yang menampilkan keyakinan seseorang.

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

gerakan menutup aurat dan berhijab syari dalam International Hijab Solidarity Day, Ahad (11/9/2016).  (LDK SSP )

Peringatan International Hijab Solidarity Day di CFD Jakarta

Organization