Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Orang Tua; Solusi Problematika Pendidikan Masa Kini

Orang Tua; Solusi Problematika Pendidikan Masa Kini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Belum lama ini, dunia pendidikan kembali mendapat ‘tamparan keras’ karena kasus penganiayaan yang dilakukan oleh peserta didik di tingkat SMA yang berujung pada kematian. Pendidikan yang digadang-gadang bisa menjadi obat dari segala penyakit, kini tak nampak lagi. Banyaknya penyimpangan yang dilakukan pelajar ataupun guru dan jajarannya menambah catatan hitam pendidikan di Indonesia. Timbul pertanyaan, mungkinkah pendidikan masih bisa dipertahankan untuk mencetak pribadi yang cerdas? Cerdas dalam arti bisa membedakan segala hal yang baik dan buruk, lalu mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar teorinya saja.

Sejatinya, pendidikan di Indonesia –jika dilihat dari aspek kognitif- sudah memiliki bekal untuk bersaing dengan negara-negara tetangga. Banyak anak bangsa yang telah menorehkan tinta emas sejarah dengan menjadi juara dalam olimpiade matematika, fisika, ataupun lainnya -meskipun hanya segelintir orang. Akan tetapi, jika dilihat dari kacamata moral-spiritual, pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan.

Lihat saja pejabat-pejabat pemerintahan. Banyak di antara mereka yang memiliki daya intelektualitas tinggi. Tak jarang mereka menjadi duta besar yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Begitu juga mereka yang telah berhasil membangun relasi kerja sama (misal dalam hal ekspor-impor) dengan negara tetangga. Mereka semua patut diacungi jempol.

Namun, secara tiba-tiba, kita (sering) dikagetkan dengan kasus korupsi yang menjerat mereka. ‘Kecerdasan’ mereka (ternyata) hanya digunakan untuk mencuri kekayaan bangsa. Sungguh ironis. Dengan begitu, kita akan lebih yakin kalau dalam pendidikan di Indonesia memang ada yang salah. Dan, perlu adanya sebuah solusi yang bisa meminimalisir kesalahan yang (sampai sekarang) masih melekat dalam tubuh pendidikan.

Peran Orang Tua dalam Pendidikan

Saat ini, banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya dengan alasan agar mudah mencari kerja. Padahal, terlalu sempit kiranya jika tujuan mulia pendidikan direduksi maknanya menjadi mencari kerja. Inilah yang perlu dipahami dan dipecahkan bersama-sama. Pendidikan bukan hanya untuk mencetak peserta didiknya agar cakap bekerja. Melainkan juga mencetak pribadi paripurna ( memiliki kecerdasan spiritual, moral, dan intelektual). Dan, saat ini, pendidikan di Indonesia baru mampu menyentuh aspek intelektual saja.

Nah, untuk mencetak manusia yang berbudi baik, perlu adanya landasan yang jelas. Sebagai umat Islam, sudah sepantasnya kita mengacu pada al-Quran dan as-Sunnah. Namun, perlu diketahui juga bahwa dalam memahami kedua landasan Islam tersebut tidaklah mudah. Semua ada ilmunya. Untuk itu, seorang peserta didik harus bisa aktif dalam mencari ilmu-ilmu tersebut. Dalam hal ini, peran orang tua sangat dibutuhkan. Orang tua harus bisa cerdas dalam memenuhi kebutuhan belajar anaknya.

Seperti yang dilakukan oleh ibunda Thomas A. Edition dalam mendidik anaknya. Ia tiap kali ditanya oleh anaknya, meskipun pertanyaan sepele, selalu memberikan jawaban yang berkualitas –tidak asal menjawab. Sedangkan jika tidak memiliki sebuah jawaban, maka ia (ibunya Thomas) akan mencari seseorang yang lebih kompeten dalam bidangnya. Begitu seterusnya. Dari sini bisa dipahami bahwa sesepele apa pun pertanyaan anak, jangan sekali-kali diabaikan. Jawaban orang tua memiliki implikasi yang besar dalam kesuksesan anak kelak.

Keluarga sebagai dasar pendidikan anak. Jika pendidikan di keluarga sudah beres, maka di sekolah dan masyarakat pun akan berhasil. Keluarga bisa dianalogikan sebagai miniatur negara. Apabila Kepala Negara membuat kebijakan-kebijakan yang otokratif terhadap rakyatnya, maka rakyat pun menjadi manusia yang ‘setengah jadi’. Sebaliknya, jika Kepala Negara menjunjung tinggi budaya demokrasi, maka dipastikan rakyatnya menjadi manusia paripurna harapan bangsa.

Setelah kebijakan dibentuk, maka langkah selanjutnya adalah mengaplikasikannya dalam pola asuh keluarga. Keluarga harus mampu mengarahkan anak kepada hal-hal yang baik. Tentunya, cara yang paling mujarab adalah dengan keteladanan. Dengan kata lain, orang tua memiliki posisi strategis dalam keluarga, yaitu menjadi cermin bagi anggota keluarganya. Semakin jernih cerminnya, maka semakin jelas pula bayangan yang dibentuk.

Jika pendidikan di keluarga bisa maksimal, dalam arti orang tua memiliki kekompakan dalam mewujudkan visi-misinya (untuk mencerdaskan anaknya), maka kecil kemungkinan terjadi kekerasan antar peserta didik. Selain itu, peserta didik juga memiliki bekal moral-spiritual yang baik. Dengan begitu, mereka siap diberikan amanah, baik dari keluarga ataupun negara, dan menjalankannya dengan penuh tanggungjawab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Imron Mustofa
Lahir di daerah pesisir selatan kota Kebumen. Tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan PGMI UIN Sunan Kalijaga, Aktif di LPM Paradigma.

Lihat Juga

Ilustrasi - Monas dan Masjid Istiqlal di kejauhan. (city_data.com)

Ijtihad Shalat Jumat di Monas

Organization