Home / Berita / Opini / Mencairkan Beban Sejarah Antara Umat Islam dengan (eks) PKI

Mencairkan Beban Sejarah Antara Umat Islam dengan (eks) PKI

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Terlalu berat untuk menutup sebuah luka. Tetapi terlalu perih untuk tetap memeliharanya. Tapi, ia bisa menjadi pembelajaran bagi generasi sesudahnya. Sebuah kesabaran menghadapi tantangan untuk mewujudkan suatu cita. Mengambil sikap ojo dumeh. Meski dalam keadaan leluasa berbuat apapun. Melampiaskan dendam dan angkara, suatu saat bisa menjadi bumerang.

Bangsa ini telah mengalami banyak ujian, dan akan terus menghadapi ujian. Yang telah terukir dalam sejarah, seharusnya menjadi sebuah pelajaran. Agar tak mengulangi kesalahan serupa, memperturutkan ego dan ambisi sesaat.

Tak menjadi Salahuddin al-Ayyubiyang baik jika menjemput kemenangan dengan duka, meninggalkan luka. Kemenangan itu tak menjadi seindah Fathu Makah jika kekerasan berbalas kekerasan, kebencian berbalas kebencian, menyisakan beban sejarah.

Terjebak pada sebuah situasi sulit, antara membunuh dan dibunuh, berada di antara pertarungan global melawan komunisme. Untuk tidak sekedar melihat garis pembatas antara benar dan salah.

Bukan hanya cita tentang Tuhan dan kasih yang bisa bertransformasi menjadi peperangan dan penjajahan. Cita indah kaum proletar di Indonesia pun bisa berujung genosida yang menyakitkan. Tanpa, peradilan dan tanpa kesempatan membela diri. Sebuah anomali. Ketika di berbagai belahan dunia lain, merekalah yang banyak melakukan tindakan seperti itu. Di Uni Sovyet, RRC, Eropa Timur, Kamboja dan banyak negara. Seabad ideologi komunisme, membawa korban ratusan juta nyawa manusia.

Sekian lama keluarga dan anak-anak mereka mengalami diskriminasi yang menyakitkan. Penderitaan janda dan anak-anak yatim korban tragedi 1965, menjalani keprihatinan hidup, menjalani hidup dalam keadaan serba kekurangan. Menghadapi diskriminasi dalam berbagai bidang; politik, pemerintahan, sosial hingga budaya. Mendapat stigma buruk, seperti menanggung dosa warisan. Sebuah anomali, ketika di berbagai belahan dunia lain, umat Islam yang lebih banyak mendapatkan perlakuan buruk seperti itu, menjalani hidup dalam tekanan rezim yang otoriter.

Tipu daya dunia ini terlalu luas. Tetapi perspektif yang diambil seringkali terlalu pendek, sebatas memainkan luapan emosi sesaat. Perang global melawan komunisme menjadi murah dan mudah, tak semahal yang dihadapi di Prancis atau sebanyak nyawa yang dikorbankan di Vietnam. Memang, tak sepenuhnya bisa dikatakan diperalat. Yang tergambar hanya sebatas ketika mereka, orang-orang PKI itu, sekian lama telah melakukan berbagai intimidasi dan teror, menginjak-injak agama dan melecehkannya, berada pada suatu interaksi yang penuh konflik dan ketegangan.

Wajah-wajah yang garang berbalik menjadi lunglai tanpa daya. Ketakutan yang dirasakan umat Islam telah sirna. Berubah menjadi derap langkah gagah sebagai penunjuk jalan, menjemput mereka yang harus diciduk, tetangga-tetangga mereka, bahkan kerabat sendiri. Di antara mereka yang memakai baju loreng itu, hanya satu dua yang benar-benar tentara. Selebihnya hanyalah sukarelawan Banser yang sebelumnya dilatih dan dipersiapkan untuk menghadapi konflik dengan Malaysia.

Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wilayah yang sama-sama menjadi basis utama NU dan PKI, sekian lama diliputi ketegangan, kemudian berhadap-hadapan. Nyatanya, euforia kemenangan yang dirasakan NU hanya sesaat. Dalam waktu tak lama kemudian disingkirkan dan didepak dari kekuasaan secara menyakitkan. Menyadarkan bahwa mereka diperalat oleh kekuatan global melawan komunisme.

Tragedi 1965 menumbuhkan secara spontan rasa trauma para korban kepada Islam, khususnya Banser. Banyak di antara mereka yang kemudian beralih menjadi non-muslim, atau setidak-tidaknya mengikuti Muhammadiyah. Realitanya, sebagian besar dari mereka terserap pada kultur NU beberapa dekade kemudian. Bahkan, banyak pula yang tumbuh dalam berbagai harakah. Hanya bisa berharap bahwa semua ini tulus. Karena kita tak memiliki kewenangan membolak-balikkan hati.

Pendekatan dan permintaan maaf yang dilakukan NU, menjadi sebuah upaya untuk menyembuhkan luka. Namun, sejauh mana ia bisa menjadi obat penyembuh?

Yang bisa dilakukan hanyalah apa yang bisa diperbuat oleh diri kita sendiri, mengambil pembelajaran dari sejarah masa lalu. Di antara ketegangan yang terjadi antara NU dengan MTA, di antara isu transnasional dan Wahabi, semestinya NU dapat membuktikan dirinya untuk bisa menyelesaikannya secara moderat. Jika pada tataran pemimpin umat masih mengedepankan emosi, akar rumput akan lebih mudah terprovokasi dimanfaatkan pihak ketiga. Apa yang dikhawatirkan sangat mungkin terjadi; sejarah terulang dalam bentuknya yang lain.

Orang-orang tertindas, tak berdaya menerima kezhaliman. Namun, di balik ketidakberdayaan mereka, tumbuh sesuatu yang dahsyat, meski tak tampak dan tak diungkapkan. Untuk mengetahuinya, cukup merasakan apa yang dialami umat Islam ketika berada pada puncak-puncak kezhaliman dunia: teraniaya, lemah dan tanpa kuasa membalas semua penaniayaan. Tapi, di balik itu memendam cita yang tak pudar. Cita yang teruji dalam keprihatinan hidup, menumbuhkan spirit yang menyala-nyala. Sebuah pengharapan, menunggu saat yang dinantikan tiba.

Terlalu naif jika kehilangan nyawa orang-orang yang dikasihi hanya ditebus dengan kata maaf. Meski hanya itu yang bisa dilakukan sebab masa lalu tetap tak bisa kembali. Sekedar ikhtiar yang tak seberapa untuk menyembuhkan luka keluarga korban tragedi 1965. Agar umat Islam memperbanyak upaya membantu mereka yang ditimpa kesulitan, menyantuni dan memberi mereka sedekah yang tulus. Berharap mengurangi sakit yang pernah mereka alami, berharap Tuhan Yang Mahakuasa membuka hati mereka.

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sayang jika bangsa ini terus terbelenggu masa lalu dan melewatkan masa depan yang menanti untuk diukir. Mengelola konflik dengan bijak, tak mengulangi kecelakaan sejarah. Menunjukkan jalan, berharap membuka mata hati mereka tentang Tuhan Yang Maha Pengasih, meraih surga yang keindahannya tak bisa dibandingkan dengan negeri utopia yang diimpikan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir