Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Tarbiyah Imaniyah, Menghidupkan Hati di Bulan Ramadhan

Tarbiyah Imaniyah, Menghidupkan Hati di Bulan Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
dar-alquran.com
dar-alquran.com

dakwatuna.com Ramadhan akan kembali datang, membawa beribu hadiah kebaikan; berupa diampuninya dosa, dibebaskan dari siksaan neraka, ditingkatkan derajat, dilipat pahala kebaikan kita, dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa Allah Ta’ala Maha Sayang kepada kita semua. Walaupun sangat sering bermaksiat, meninggalkan perintah, dan melanggar batasan-Nya, namun Allah Ta’ala masih memberi kesempatan untuk menutupi kesalahan, menambal kekurangan, dan mengejar ketinggalan.

Benarkah kita akan menyambutnya? Benarkah kita akan bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan yang sangat terbatas tapi bernilai ini?

Agar aktivitas ibadah Ramadhan kita jelas dan terarah, harus ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan itu sudah Allah Ta’ala umumkan dalam perintah-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 183]. Takwa adalah salah satu perwujudan hidupnya hati. Hati yang hidup adalah hati yang dipenuhi keimanan, sehingga ruh pun bergerak dan melahirkan amal shalih. Hati yang benar-benar hidup akan kuat bertahan memberikan kebaikan-kebaikan walaupun Ramadhan telah usai.

Oleh karena itu, tepat dan layakkah kita jadikan tujuan ibadah Ramadhan kita kali ini untuk menghidupkan hati kita? Apalagi jika kita ingat betapa cepatnya hilang pengaruh dan buah Ramadhan bahkan sejak hari pertama bulan Syawal. Apalagi jika kita tahu bahwa bobot ibadah sangat tergantung pada kehadiran hati kita saat melaksanakannya, bahkan dua orang yang melaksanakan shalat dalam satu shaf bisa mendapatkan derajat yang sangat berbeda kelak di akhirat. Rasulullah saw. bersabda, “Dan seseorang mendapatkan pahala hanya sesuai dengan yang diniatkannya.” [Bukhari dan Muslim].

Ada dua orang datang ke istana raja. Masing-masing membawa hadiah. Tamu pertama membawa banyak pernik-pernik perhiasan permata imitasi. Sedangkan tamu kedua hanya membawa sebutir permata. Kira-kira hadiah mana yang akan diterima sang raja? Siapa tamu yang akan disambutnya dengan hangat dan penuh penghormatan? Ibadah yang absen hati adalah ritual yang penuh kepalsuan, sedangkan ibadah yang disertai kehadiran hati, itulah ibadah yang penuh hakikat.

Saat berusaha menghidupkan hati dengan amalan ibadah bulan Ramadhan, kita dapat merasakan tanda-tanda kita telah mulai berhasil mewujudkan tujuan itu. Akan ada perubahan dalam perilaku kita. Iman yang memenuhi hati akan mendorong untuk memilih sikap yang baik  dan benar dalam setiap kasus dan kondisi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]. Sikap yang baik dan benar berasal dari hati yang hidup.

Rasulullah saw. juga menyebutkan beberapa perubahan yang menandakan hati sudah mulai hidup, “Tidak nyaman dengan negeri yang menipu, bersemangat kembali kepada negeri yang abadi, dan mempersiapkan kematian sebelum benar-benar tiba.” [Hakim dan Baihaqi].

“Tidak nyaman dengan negeri yang menipu” bisa diindikasikan dengan berkurangnya perhatian terhadap dunia, tidak ambisius dalam mengusahakannya, tidak terlalu bersedih saat kehilangannya, tidak berkompetisi merebutnya, dan tidak merasa iri saat orang lain menikmatinya.

“Bersemangat kembali kepada negeri yang abadi” bisa ditandai dengan bersegera dalam melaksanakan amal shalih, mengurangi kadar menikmati dunia, lebih mengutamakan kepentingan agama di atas kepentingan-kepentingan dunia.

“Mempersiapkan kematian sebelum benar-benar tiba” bisa dibuktikan dengan membebaskan diri dari hal-hal yang haram, mengembalikan hak-hak orang lain, selalu beristighfar, bertaubat, dan berusaha untuk selalu istiqamah.

Apa sarana yang akan kita gunakan untuk menghidupkan hati di bulan Ramadhan? Jawabannya yang pertama tentu adalah Al-Qur’an. Inilah kitab yang mampu menggetarkan hati untuk bangun dan hidup, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” [Az-Zumar: 23].

Kita memilih sarana ini, juga karena bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” [Al-Baqarah: 185]. Kita bisa bersama Al-Qur’an dalam tilawah, tarawih, tahajud, tadarus, dan tadabur kita. Bukan banyaknya ayat yang dibaca, tapi lebih pada seberapa kuat kita mengambil pengaruh dan manfaat dari Al-Qur’an.

Sarana yang kedua dalam menghidupkan hati di bulan Ramadhan adalah amal-amal shalih. Banyak sekali amal shalih yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan; doa, zikir, i’tikaf, silaturahim, membantu orang lain, dan sebagainya. Nilai-nilai keimanan yang kita ambil dari Al-Qur’an, jika diikuti dengan melaksanakan amal-amal shalih, akan menambah hidup hati kita. Amal shalih bagaikan air untuk menyirami tumbuhan, atau minyak untuk menyalakan pelita.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” [Fathir: 29]. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?