Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Selamat Datang, Bulan Penuh Cinta

Selamat Datang, Bulan Penuh Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (marufclub.com)
Ilustrasi. (marufclub.com)

dakwatuna.com – Dalam hitungan hari, insya Allah Ramadhan menyapa kita. Bulan istimewa yang datangnya satu tahun sekali dan amat berarti bagi mereka yang beriman. Suatu bulan penuh, ampunan dan maghfirah Allah, yang di dalamnya terdapat malam seribu bulan.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan  kedatangan Ramadhan. Agar kita menjadi manusia beruntung yang semakin mencintai dan dicintai Allah. Di antaranya adalah dengan melakukan evaluasi dan introspeksi diri. Tak ada manusia yang sempurna. Semua tak luput dari salah dan dosa. Yang ada adalah manusia yang secara sadar memilih berbuat atau tidak berbuat dosa. Manusia yang dengan sukarela berbuat maksiat atau meninggalkannya. Manusia yang menang menguasai hawa nafsunya atau justru manusia yang menjadi budak dan tunggangan hawa nafsunya sendiri.

Bila setiap diri mau jujur, sesungguhnya dalam hidup banyak ibrah, pelajaran dan hikmah yang Allah karuniakan untuk dipetik agar setiap manusia menjadi jauh lebih baik dari hari kemarin dan hari ini. Lihatlah di sekeliling, atau pada kita sendiri. Banyak hal yang telah berubah dibandingkan waktu yang sama menjelang dan saat Ramadhan tahun lalu. Mungkin, telah ada orang orang yang kita cintai, ayah ibu, adik kakak, anak, saudara, sahabat, tetangga, teman, ataupun orang yang kita kenal tak lagi ada bersama kita. Tak lagi ada senyuman, gurauan, dan nasihat mereka mengisi hari-hari.

Bersyukurlah jika kita masih hidup dan diberi Allah waktu untuk menjalani Ramadhan tahun ini. Bersyukur bukan hanya dalam kata. Tapi dalam bentuk perbuatan menaati-Nya dalam segala hal secara total tanpa syarat.

Sesungguhnya, bila saat ini jantung kita masih berdetak, nafas masih dikandung badan, semua adalah anugerah-Nya. Bukan karena kita hebat menjaga diri, mengatur gaya hidup dan pola makan, rajin berolahraga atau segala macam upaya untuk sehat. Namun semata, karena Allah menetapkan demikian. Belum sampai ajal kita seperti yang tertulis dalam lauhul mahfudh. Betapa banyak orang yang sehat, muda dan gagah, mendadak pergi meninggalkan dunia. Mungkin kecelakaan, atau sebab lain. Sebaliknya, betapa banyak pula orang yang sakit-sakitan, renta dan lemah, tetapi  belum juga mati. Ini semua karena kehidupan dan kematian jalan dan ketentuannya memang telah Allah tetapkan. Manusia hanya menjalani takdir dan tak punya daya kekuatan apapun untuk mengubahnya.

Demikian juga jika kita kaya harta, pandai, rupawan, punya jabatan dan kedudukan, sudah menikah, memiliki banyak anak, itu bukan karena kita hebat! Bukan karena kita smart! Itu bukan suatu prestasi yang bisa dibanggakan dan disombongkan. Semua hanyalah anugerah Allah semata. Bukankah rezeki, ajal, jodoh telah ditetapkan-Nya jauh sebelum penciptaan kita? Bukankah Allah memandang seseorang hanya dari ketakwaannya?

So, hebat itu jika kita takwa. Smart itu jika kita memilih menaati segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, tanpa kecuali! Seperti sabda rasul, manusia cerdas adalah yang memikirkan kehidupan setelah kematian. Karena kita pasti akan mati, suatu hari nanti, cepat atau lambat.

Manusia yang memikirkan kehidupan setelah kematian, pasti takut untuk menyalahi perintah-Nya, pasti berpikir ribuan kali untuk menyelisihi aturan-Nya.

Bila mati, kita tak lagi kita mampu mendengarkan adzan, melangkahkan kaki memenuhi panggilan-Nya untuk shalat. Bila mati, tak lagi kita mampu bangun di sepertiga malam terakhir untuk mengadu segala hal pada-Nya. Bila mati, tak lagi kita mampu menahan lapar dahaga karena-Nya. Bila mati, tak lagi kita bisa mengenakan jilbab dan kerudung menutup aurat. Bila mati, tak lagi kita mampu memandang wajah lugu dan ceria anak-anak, tak lagi kita bisa mengasuh, membimbing, mendidik dan membesarkan mereka.

Bila mati, tak lagi kita mampu melihat senyum dan air mata ibu saat mendoakan buah hatinya. Bila mati, tak lagi kita mampu mohon ampunan dan meneteskan air mata atas dosa-dosa, tak lagi bisa tersenyum kala bahagia. Bila mati, tak lagi kita mampu menatap indahnya alam ciptaan-Nya, tak bisa lagi kita menikmati sejuknya angin saat menyusuri jalan persawahan. Bila mati, tak lagi kita bisa merasakan dinginnya hujan rahmat-Nya. Bila mati, tak lagi kita mampu melakukan segala bentuk ketaatan pada-Nya. Pupus sudah kesempatan untuk Dia cintai, berakhir sudah segala nikmat duniawi. Hanya kain kafan yang menutupi. Hanya amal yang menemani. Tak ada ayah, ibu, pasangan hidup, anak-anak, saudara, kerabat, sahabat yang menemani. Kita sendirian di dalam tanah yang sering kita injak.

Sebelum datang Ramadhan, marilah evaluasi diri dan jadikan sebagai aktifitas yang selalu dilakukan setiap hari, terus menerus hingga denyut nadi berhenti. Kematian itu begitu dekat, kita tak pernah tahu kapan ia datang. Bisa nanti, besok, lusa tanpa pernah kita duga. Mari kita sama-sama introspeksi diri, perbaiki diri untuk menjemput khusnul khatimah.

Bertanyalah pada diri sendiri, sudahkah segala pikiran dan perilaku kita terpaut pada aturan-Nya? Sudahkah kita menuntut ilmu sehingga tahu mana yag benar dan salah, halal dan haram? Sudahkah tahu apa hukumya bekerja di berbagai lembaga keuangan, bank dan terlibat riba? Sudahkah tahu cara berjilbab dan berkerudung yang benar? Yang tak ketat, membentuk tubuh, menyerupai laki-laki, tipis dan trasparan.  Sudahkah tahu bagaimana pergaulan pria wanita diatur dalam Islam? Yang pasti Islam tak pernah mengajarkan kumpul campur baur, ramai-ramai, makan bersama antar beberapa keluarga yang suami atau istrinya saling berteman seperti tren sosialita saat ini, di restoran atau tempat makan lain sambil nonton bareng. Sudahkah memikirkan kehalalan harta yang kita peroleh di tengah maraknya kemudahan berhutang dari berbagai lembaga keuangan? Dan masih banyak hal lagi yang harus kita tahu. Kita cari hukumnya dengan menuntut ilmu setiap saat sepanjang hidup.

Sebait doa, mari kita panjatkan bersama, “Ya Allah, Sebelum mati, izinkan aku bertaubat. Izinkan hati, pikiran, lisan dan perbuatanku hanya terikat pada aturan-Mu. Izinkan aku tuk ikhlas beribadah pada-Mu. Izinkan aku tuk ridha dengan segala ketentuan-Mu. Izinkan aku tuk jatuh hati hanya pada-Mu. Mudahkan aku tuk selalu menaati-Mu. Hingga saat mati itu tiba, hanya kerinduanku pada-Mu yang aku bawa. Aamiin.”

Marhaban ya Ramadhan, kami menyambutmu penuh kerinduan.

Catatan kecil:

Selamat beribadah di bulan Ramadhan penuh berkah. Mohon maaf lahir bathin-dunia akhirat kepada semua kerabat, sahabat, teman, tetangga dan siapa pun yang mengenalku atas segala kesalahan dan tutur kata yang mungkin tak terjaga.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Masalah Sosial.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan