Home / Pemuda / Essay / Begitukah Caramu Mencuri Hatiku?

Begitukah Caramu Mencuri Hatiku?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Tarbiyah wanita muslimah (ukkiunso3d.wordpress.com)
Ilustrasi – Tarbiyah wanita muslimah (ukkiunso3d.wordpress.com)

dakwatuna.com – Tepat saat duduk di bangku SMA kelas XI, diri ini merasa begitu bosan akan mencari bagaimana cara meraih kebahagiaan hidup. Jujur, awalku sekolah adalah bagaimana menjadi sosok yang berprestasi dan sukses agar suatu saat bisa membahagikan kedua orang tuaku dan beliau berkata, “Akhirnya, anakku ada yang berpendidikan melebihi orang tuanya yang hanya lulus SD.”

Prestasi pendidikan sudah di tangan, bahkan beasiswa pun berdatangan karena aku bisa melanjutkan sekolah dengan mengandalkan semua beasiswa. Organisasi sampai rohis pun aku ikuti. Karena aku sangat semangat menjadi organisator. Tapi, kembali lagi, apa yang sebenarnya kucari?

Waktu itu menjelang Ramadhan, aku diajak kepanitiaan Ramadhan. Sudah biasa, di daerahku tiap Ramadhan ada kuliah shubuh. Dalam benakku terbesit rasa galau. Karena waktu itu, aku merasa minder dengan keterbatasan ilmu agama serta belum berjilbab. Tapi, luar biasa orang-orang di daerahku yang mengajakku, mereka  menyambut luar biasa. Aku kira, ikhwan yang berjenggot dan akhwat yang jilbabnya lebar-lebar itu orang yang sangat ekslusif. Maklum, dulu sempat memegang faham “Feminisme”. Bahwa laki-laki dan perempuan sama saja. Tidak boleh dibedakan dalam urusan apapun. Dan aku dulu sangat fanatis dengan orang yang agamis.

Ternyata, saat terlibat mengikuti kuliah Shubuh termasuk menjadi panitianya, aku malah terperosok mengikuti pengajiannya. Sampai setelah lebaran, pengajian itu terus berlanjut jadi seminggu sekali. Dari sanalah aku kembali bertanya, “Kalau aku berkumpul dengan orang-orang ini, aku merasa tenang dan bahagia. Kukira, orang yang suka di masjid itu monoton. Ternyata, sesekali kita pernah diajak jalan-jalan ke gunung.”

Saat di sekolah karena akupun ikut rohis Bintalis (Bimbingan Mental Islam), aku punya prisnsip. Walaupun gak berjilbab, tapi aku tetep harus jadi orang baik. Jangan sampai aku menjadi anak nakal yang kebawa teman-temanku yang salah gaul, apalagi terjerumus narkoba. Walhasil, rajin pula aku mengikuti Bintalis karena ingin menjadi manusia yang lebih baik.

Di sekolah pun, aku menemukan seorang guru perempuan yang cantik dan jibabnya lebar. Aku menilai, “Kok gurunya agak cuek dan judes ya?” Atau mungkin karena aku belum kenal? Apalagi pas ketahuan temanku nyontek jawaban ke aku pas beliau menjadi pengawas. Wuuuiiihhh, tegasnya! Jawaban yang kubuat untuk temanku diambilnya. Jadi sedikit ill feel juga sih. Tapi, apa daya itu juga salahku ngasih contekan buat temanku.

Karena aku ikut beberapa organisasi dan salah satunya organisasi Islam, tentu aku suka berdiskusi banyak dengan pembinanya, Guru Agamaku. Kadang-kadang suka disindir pula dengan kata-kata yang baik, “Kapan mau berjilbab? Bukannya seorang perempuan menurut Islam wajib berjilbab?” Aku bilang, “Nanti, ah! Kalau aku sudah bisa menjadi lebih baik. Biar gak malu kalau berjilbab. Toh, banyak juga perempuan yang memakai kerudung, tapi bahasa yang diucapkannya kasar.” Guruku menjawab, “Yasudah, jangan mencontoh jeleknya. Tapi gak maksa juga sih. Karena yang berjilbab itu atas keinginan sendiri.” Cerita itu pun berlalu dan tak pernah dibahas lagi.

Menjelang kelas XI semester 2, galau kembali menyergapku akan diskusi terkait jilbab. Akhirnya, kutanyakan lagi pertanyaanku kepada guru Agamaku, “Pak, sebenarnya batasan aurat perempuan itu gimana sih?” Beliau menjawab, “Kalau dalam perintahnya, dari kepala hingga kaki kecuali wajah dan telapak tangan. Terus kalau laki-laki dari pusar hingga bawah lutut.” Aku bertanya kembali, “Terus, kalau jilbabnya gimana? Yang aku lihat, ada juga di daerahku yang jilbabnya dibeli-belit. Ada juga yang lebar dan sebagainya.” Guruku menjawab, “Coba deh bapak kasih tugas, coba kamu tanya dengan seorang Guru Matematika perempuan, namanya Dwina yang kebetulan mengajar di SMA ini. Beliau berjilbab rapi skali, cantik, dan insya Allah shalihah.” Aku menjawab, “Hah? Itu toh namanya? Bukannya beliau judes and galak, Pak?” Guruku menjawab, “Ah, itu mah kamunya yang belum kenal. Sok, coba kenalan, baik kok.”

Seminggu kemudian, aku mencoba mencari guru perempuan yang dimaksud guru agamaku. Tepat saat pekan remedial bagi siswa yang nilainya kurang beruntung, kumencarinya karena aku bebas pekan itu. Akhirnya, aku mendapatkan beliau di Lab IPA sedang mengawas Ujian susulan. Alhasil aku ‘kepo’ deh. Sambil agak deg-degan, aku bertanya, “Bu, maaf, dengan bu Dwina?” Beliau menjawab, “Ya, betul. Ada yang bisa saya bantu?” Aku kembali bicara, “Bu, aku mau tanya pendapat ibu mengenai jilbab. Aku mendapat rekomendasi dari pak Atep untuk menanyakan syarat jilbab untuk perempuan.” Akhirnya, panjang lebarlah diskusi mengenai jilbab yang sesuai dengan syariat Islam. Terakhir, beliau menyampaikan, “Kalau kamu kurang percaya, nanti saya kasih pinjam buku yang judulnya 63 Tanya Jawab Tentang Jilbab.” Saya dengan mantabnya menjawab, “Oke, Bu. Nanti bawa yah, saya pinjam.”

Ternyata, aku salah faham lagi. Akhwat berjilbab lebar itu memang baik. Wawasan ilmunya juga luas. Bahkan, aku dibuatnya terpesona. Berawal dari kepo itu, akhirnya pembicaraan tadi gak sebatas guru dan murid. Melaikan seperti seorang kakak kepada adiknya. Kami jadi sering diskusi, jalan-jalan, ditraktir dan diajak mabit.

Tepat tanggal 1 Januari 2007, aku memutuskan untuk berjilbab. Walau tahulah, awal-awal masih proses menuju lebih baik. Sebulan kemudian, aku mendapat kritikan dari temanku, “Ngapain dijilbab lebar kalau kelakuannya masih belum bisa dikontrol.” Terus terang, aku sedih di buatnya, aku merasa tersinggung. Kemana lagi tempatku curhat kalau bukan ke Bu Dwina. Subhanallah, jawabnnya begitu menenangkanku. Sambil tersenyum lembut, beliau menjawab, “Berhijrah dari masa jahiliyah ke keshalihan tentu begitu berat. Begitupun ketika memutuskan berjilbab. Tentu, butuh proses, kan kalau ingin berubah? Tahukan engkau, bisa jadi, dengan engkau berjilbab, jilbab yang kau kenakan bisa menahanmu dari melakukan maksiat karena kamu akan berfikir malu dengan jilbabmu.” Luar biasa guruku yang satu ini. Angkat jempol deh.

Kedekatan kita makin berasa. Tak sadar, aku dikenalkan olehnya tentang ‘Ngaji’. Aku jadi kepo juga. Aktivitas apakah yang sering beliau ikuti selain ‘ngaji’ yang gak hanya ngaji al-Quran? Menjelang April, tepatnya akan menghadapi ulang tahunnya sebuah partai, beliau mengajakku hadir ke acaranya. Yaitu Milad PKS ke-9. Aku mengikuti dan dijemput olehnya. Padahal, aku dulu gak terlalu care dengan namanya partai. Acara milad selesai. Aku merasa terpesona dengan acaranya yang berbeda dengan acara partai lain. Aku makin mantap mengikuti jejaknya. Walhasil, tak lama dari itu, kau mendaftarkanku untuk ikut pengajian di DPC tempat daerahmu tinggal, DPC Bojongloa Kidul. Niatnya biar gak terlalu jauh dengan tempat tinggalku di DPC Bojongloa Kaler.

Oya Bu, tahukah dirimu dengan kebaikan yang banyak engkau lakukan kepada rekan-rekan kerja, murid-murid dan teman-teman DPC daerahmu? Banyak terdengar pujian yang banyak untukmu. Murid-murid yang kau didik banyak yang memujimu bahwa engkau begitu cerdas, tegas dan baik. Bahkan, ada beberapa orang guru laki-laki tempatmu mengajar yang belum menikah sengaja mendekatiku. Agar bisa menyampaikan pesan ingin mengajakmu menjadi pendamping hidupnya. Eh, kejadian juga dengan beberapa ikhwan di daerah yang kepo juga. Tapi, aku tahu bagaimana kriteria calon hidupmu. So, tugasku hanya menyampaikan saja padamu.

Menjelang naik kelas XII, aku merasa sedih. Karena aku akan ditinggalkan guruku yang shalihah ini. Beliau mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi. Saking sedihnya diriku, akhirnya kutulis surat untuknya dengan beberapa pertanyaan :

  1. Bagaimana kepastian fiksasi ibu keluar mengajar dari sekolah ini?
  2. Apa pendapat ibu tentang aku, sekalian pesan nasihatnya.
  3. Tips dan trik awet muda seperti ibu bagaimana caranya?

Jawaban belum kunjung datang. Akhirnya, menjelang mengundurkan diri, kau membalas suratku. Ditulis langsung oleh tulisan tanganmu dengan dua warna: tinta merah dan biru.

24 Juni 2007

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

            Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya hingga kita tetap berada dalam naungan-Nya hingga sekarang. Shalawat dan salam bagi guru besar kita Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan pengikutnya hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk ke dalam barisannya di Hari Akhir kelak. Aamiin

Sebelumnya, ‘afwan jiddan kalau suratnya baru bisa dibalas sekarang.

Mengenai Ibu keluar dari sekolah ini belum bisa dipastikan. Tapi, kalaupun Ibu keluar dari sekolah ini, insya Allah kita tetep bisa bertemu di acara-acara DPC, kan?

Pendapat Ibu tentangmu…

            Ibu iri dengan dirimu yang sudah menemukan Islam yang kaffah di usia belasan. Soalnya, Ibu baru menemukan ketika usia 16 tahun. Tapi baru seutuhnya mengeksplorasi dan bergabung dengan barisan di usia 20 tahun. Tapi jangan khawatir, iri disini bukan berarti dengki. Ibu justru senang banget ngeliat anak/siswa yang semangat untuk mencari ilmu dan mengaplikasikannya. Bahkan, waktu dirimu ngotot gak ingin ikut salah satu acara sekolah yang menurutmu mengundang madhorot lebih besar, tentu Ibu bangga banget. Tapi di sisi lain, ada perasaan kecil banget di depan mu. Karena Ibu belum mampu dengan berani menghadapi mereka yang melakukan kesalahan. Biasanya, Ibu memilih jalan yang lebih aman, menghadapi mereka dengan jalan damai, memberi nasihat yag tidak disadari, tidak bisa terlalu frontal.

 Harapan Ibu, apa yang kamu lakukan sekarang akan terus berlanjut, istiqamah dalam melawan kemaksiatan dan menegakkan kebenaran. Umat Islam sangat membutuhkan sosok-sosok pemuda Ashabul Kahfi yang rela diasingkan demi sebuah kebenaran. TETAPLAH SEMANGAT!!!!

            Satu hal yang ingin ibu Ingatkan. Dakwah itu amat berat. Umat menuntut seorang dai yang sempurna dalam segi iman, ilmu dan amal. Padahal, pelaku dakwah juga manusia yang kerap kali mampu mengamalkan yang satu, tapi belum mampu mengamalkan yang lainnya. Untuk itu, seorang penyeru kebenaran butuh kesabaran yang besar. Sedangkan kebesaran itu sendiri mencakup sisi yang teramat luas. Kita harus mampu bersabar untuk terus mencari ilmu, sabar dalam mengistiqamahkan amalan dan ibadah kita, sabar dalam menghadapi cacian, gugatan dan guncingan. Sabar dalam melawan semua bentuk ketidakadilan (kezholiman), dan banyak lagi aspek sabar yang lain. Karena itu, ketika dirimu memasuki dunia dakwah, pancangkan kuat kesabaranmu. Karena semakin dalam memasukinya, dirimu akan menemukan cobaan yang semakin berat. Tetaplah bersabar menghadapi gugatan teman-temanmu. Tunjukkan kelembutan dan senyuman. Tapi kemudian, berikan mereka petunjuk bahwa hal itulah yang memang harus dilakukan. Dalam banyak kasus, kelembutan mampu mengalahkan banyak orang ke dalam jalan kebenaran. Lihat saja sosok Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shidiq.

            Soal pertanyaanmu tentang awet muda dan banyak disukai. Sama sekali ibu tidak minta untuk disukai banyak orang. Terus terang godaan/ujiannya berat. Ibu hanya mencoba menjadi diri sendiri berpedoman pada al-Quran dan hati. Ibu mencoba untuk tetap berada di jalan kebenaran. Kalau al-Quran dan hati berkata bahwa itu benar, maka Ibu lakukan dan sebaliknya. Ibu sangat tahu bahwa suatu saat nanti, Ibu akan mempertanggungjawabkan amalan ini sendirian. Jadi, tidak usah peduli bagaimana mereka berbicara dan bertindak. Karena suatu saat nanti, mereka pun tidak akan bisa membantu kita.

Untuk awet muda…

            Hadapi hidup dengan perjuangan yang maksimal. Mengenai hasil, serahkan saja semua pada Allah. Insya Allah, orang-orang yang beriman yang tahu arti tawakal pasti akan awet muda. Mereka mengetahui bahwa masalah dunia ini teramat kecil jika dibandingkan urusan akhirat. Jadi, gak akan terlalu dipikirkan. Jangan lupa juga, banyak tersenyum.

            Akhir kata, jadilah dirimu sendiri yang terwarnai dengan karakter Islam. Seperti Abu Bakar yang semula penuh kelembutan menjadi orang yang tetap lembut hatinya tapi gagah di medan perang. Seperti Umar yang gagah, ksatria dan kasar menjadi Umar yang tegas, tetap gagah, tapi terwarnai kelembutan setelah masuk Islam. Kita punya pribadi unik yang berbeda dengan orang lain. Pertahankan kebaikannya dan ubahlah kelemahannya melalui Islam untuk menjadi sebuah kekuatan. ALLAHU AKBAR!!!

Sungguh aku sayang, sungguh aku cinta karena Allah…

Tertanda

Dwina Saptani

 

Inilah suratmu yang dikirim untukku dan sampai saat ini suratmu masih kusimpan. Begitulah caramu membuatku mencitai dakwah ini. Sungguh mulia akhlamu, wahai guruku. Engkau memberikan contoh teladan yang baik di lingkungan yang engkau hinggapi. Sungguh, pengorbananmu, kesabaranmu dan keteguhan hatimu dalam mengajarkanku arti kebahagiaan ini belum bisa aku balas. Hingga sampai saat ini, terkadang kau menyempatkan diri main ke rumahku sambil membawa hadiah. Semoga Allah meng-istiqamah-kan kita semua. Cukuplah Allah yang membalas semua kebaikanmu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,22 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Manager Keuangan PT Sinergi Mitra Teckindo, Bandung.

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI