Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sederhana Agar Bahagia

Sederhana Agar Bahagia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Tulislah yang Anda bisa!” Begitu jawaban Prof. Imam Suprayogo ketika ditanya tentang cara sederhana agar bisa menghasilkan tulisan. Tepatnya, jawaban itu saya dengar ketika beliau dan saya diundang dalam acara Launching dan Bedah Buku “Menghidupkan Jiwa Ilmu” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu, 14 Juni 2014.

Ungkapan itu kedengarannya sederhana. Namun menyimpan hikmah mendalam. Saya mendapati selama ini banyak orang merasa sulit menghasilkan tulisan. Salah satu alasannya karena dia mau menulis sesuatu yang sebenarnya kurang atau tidak dipahami. Kalau pun akhirnya berhasil menulis, biasanya hasil tulisan itu susah dipahami. Kalimatnya muter-muter. Bahasanya juga rancu.

Dalam bidang pidato juga setali tiga uang. Sebab utama kenapa banyak orang gagal melisankan sesuatu secara baik dan mudah diterima pendengar, tentu karena dia kurang atau tidak memahami dengan baik materi yang disampaikannya. Dengan begitu, logikanya menjadi dangkal, tutur katanya keserimpet-serimpet. Kalau sudah begitu, tiada yang sampai ke pendengar selain kebingungan dan kemasygulan.

Apakah hanya dalam bidang menulis dan pidato? Tidak.

Dalam bidang apa saja. Tidak sebaiknya kita melakukan sesuatu yang tidak kita bisa. Bahkan, dalam beragama sekali pun, Tuhan memerintahkan agar kita menjalankan sesuai kadar kemampuan. “Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai batas kesanggupanmu,” firman Tuhan. Senada dengan itu, Rasulullah juga melarang kita beribadah secara berlebihan. Apalagi di luar langgam kemampuan. “Tiadalah seseorang mengeras-ngeraskan agama, kecuali agama akan mengalahkannya,” tutur Sang Nabi.

Dengan demikian, yang hendak disampaikan oleh Prof. Imam Suprayogo adalah soal kesederhanaan sikap. Sederhana itu indah. Beliau sendiri adalah orang yang sederhana dalam penampilan, tulisan, dan ucapan. Ketika mengatasi suatu persoalan, beliau juga menggunakan cara-cara sederhana. “Hidup ini, kan, sederhana. Lalu, mengapa harus mencari cara-cara yang rumit?” tutur beliau kepada saya, suatu ketika.

Sayang, sikap sederhana kerap kita lupakan. Padahal, sikap mulia itulah yang menyebabkan hidup menjadi mudah. Bayangkan jika baru belajar menulis, kita sudah membayangkan akan mengurai teori-teori muluk. Apalagi disertai kutipan-kutipan rujukan yang ketat biar disangka pakar dan bebas kritik. Alangkah beratnya mulai menulis dengan pikiran perfeksionis semacam itu. Tidak kalah susahnya dengan menyampaikan pidato berisi materi ndakik, bertabur ungkapan bahasa asing. Sementara kita sendiri awam terhadap maknanya.

Bagaimana dengan soal menjalani hidup? Kita yang “orang biasa” ini, cobalah berpenampilan ala “orang terkenal”. Pakaian, asesoris, kendaraan, makanan, bahkan parfum kita, alangkah mahalnya kalau disepadankan dengan milik mereka. Hasilnya, kita tidak akan pernah merasa puas. Karena hidup terus berpacu melawan keinginan. Kita juga menjadi lupa diri. Karena selalu diliputi perasaan iri.

Sederhana jelas menjadi kunci untuk mereguk bahagia. Sikap sederhana menjadikan nikmat sedikit akan terasa meruah. Karena ada rasa lapang di dada. Biar minim harta, tetapi kita memiliki jiwa qana’ah. Ingatlah sabda Sang Nabi, “Orang kaya bukanlah yang banyak harta, melainkan yang kaya jiwa.” Pastinya, tidak mungkin memiliki kekayaan jiwa jika hidup kita jauh dari sikap sederhana.

Sederhana bukan bukti kemiskinan. Kurang kaya apakah Abu Bakar dan Usman bin Affan? Tetapi sepanjang hidup, mereka tidak pernah berfoya-foya. Sederhana bukan bukti kerendahan. Kurang mulia apa Umar bin Khattab? Tetapi menjadi khalifah, beliau tidak pernah memperalat tahta untuk memperkaya diri dan keluarga. Sederhana bukan bukti kebodohan. Kurang pakar apa Ali bin Abi Thalib? Tetapi ungkapan hikmah beliau selalu mudah dimengerti siapa saja.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Husnaini
Pendidik dan Penulis Tinggal di Kota Soto Lamongan

Lihat Juga

Khutbah Idul Adha 1437 H: Kebahagiaan Adalah Hasil Perjuangan dan Pengorbanan