Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Memimpin Sepenuh Hati

Memimpin Sepenuh Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Memimpin Sepenuh Hati".
Cover buku “Memimpin Sepenuh Hati”.

Judul Buku: Memimpin Sepenuh Hati

Penulis: Imam Suprayogo

Penerbit: Genius Media, Malang

Cetakan: Pertama, 2013

Tebal: xviii + 274 halaman

 

Menjadi Pemimpin Inspiratif

dakwatuna.com – Inilah kumpulan refleksi pemikiran Prof. Imam Suprayogo tentang kepemimpinan. Buku ini menarik disimak bukan hanya karena isinya yang bagus, tetapi lebih karena ditulis oleh seorang tokoh yang dikenal berhasil dalam memimpin. Saya sendiri merasa beruntung dapat berkenalan dan berkesempatan menyunting tulisan-tulisan Prof. Imam menjadi sebuah buku. Beberapa sudah terbit.

Prof. Imam merupakan cendekiawan yang berjasa besar dalam pengembangan dunia pendidikan dan pemikiran Islam. Beliau dikenal sebagai sosok inspiratif dan kaya ide. Pemikiran-pemikiran beliau wajib pelajari untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak susah. Karena setiap hari, beliau aktif mengunggah tulisannya di internet. Tulisan Prof. Imam umumnya sederhana, tetapi mengena. Orang mengagumi pemikiran beliau karena cerdas dan melintasi. Meski kadang sekadar pengalaman keseharian, tetapi penuh hikmah.

Di bidang kepemimpinan, tokoh kelahiran Trenggalek ini memang bukan sosok karbitan. Karier Prof. Imam dalam memimpin dimulai sejak menjadi Kepala MINU (Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama) di desa kelahirannya. Setelah itu, beliau bekerja di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mula-mula menjabat Kepala Perpustakaan, lalu Wakil Dekan, Dekan FISIP, Wakil Rektor I, dan Wakil Direktur Pascasarjana. Semuanya jika dijumlah, tidak kurang dari 20 tahun.

Ketika Prof. Imam menjabat Wakil Rektor I mendampingi Prof A. Malik Fadjar (1983-1996), jumlah mahasiswa UMM baru 500-an. Namun, di akhir masa jabatan beliau, jumlah mahasiswa meningkat pesat menjadi 23.000 orang. Tidak heran, Prof. A. Syafii Maarif memuji Prof. Imam sebagai seorang pemimpin yang memiliki daya imajinasi kuat dan mimpi besar. “Lewat sentuhan tangan dingin dan kerja keras Imam Suprayogo dan unsur pimpinan UMM, kampus yang dulu kecil menjadi maju dan berkelas,” tutur Buya Syafii Maarif.

Uniknya, kendati menjabat Wakil Rektor I, dan mampu mendongkrak UMM menjadi kampus papan atas, kondisi perekonomian Prof. Imam tidak mengalami peningkatan. Beliau tetap sosok yang sederhana, gigih, santun dan dermawan. Kepedulian beliau terhadap sesama masih terpatri dalam hati dan derap langkah. Diceritakan, setiap waktu sahur di bulan Ramadhan, Wakil Rektor I ini biasa keliling kampus. Ada apa gerangan? Rupanya beliau biasa menengok pos satpam, karyawan, termasuk petugas kebersihan. Kepada para bawahan itu, Prof. Imam bertanya, “Adakah yang belum sahur?” Beliau biasanya lalu menyodorkan nasi bungkus. Sesekali uang saku untuk sahur.

Cerita lain, apabila Prof. Imam pulang dari suatu acara, lalu mendapat makanan bungkus, beliau tidak memberikan makanan itu kepada istri dan anak-anak di rumah. Beliau lebih senang membawa makanan itu ke kampus UMM dan memberikannya kepada karyawan kampus yang belum makan. Prof. Imam membuktikan diri sebagai intelektual yang membumi. Ketika hendak berbuat welas asih, beliau tidak pernah memandang pangkat. Itulah pemimpin yang benar-benar berjiwa kesatria sejati. Selesai mengabdi di UMM pertengahan 1997, Prof. Imam mendapat tugas sebagai Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, berlanjut Ketua STAIN, kemudian Rektor UIN Maliki Malang dan baru berakhir pada Selasa, 30 April 2013.

Yang beliau rasakan, di setiap lembaga yang beliau ikut memimpin, pasti keadaannya dalam fase awal dan sedang tumbuh. Ketika menjadi kepala MINU, lembaga itu masih dalam taraf perintisan. Demikian pula, ketika turut babat alas di UMM, dan IAIN, sebelum kemudian berubah menjadi UIN Maliki Malang pada 2004.Memimpin lembaga pendidikan yang sedang dalam fase perintisan dan pertumbuhan memang berat. Semua serba terbatas dan kekurangan. Tetapi dengan keterbatasan itu, Prof. Imam justru tertantang untuk berusaha mencari peluang-peluang dan alternatif-alternatif untuk memajukan lembaga.

Hadis yang sering beliau kutip berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesama.” Untuk memberi manfaat, maka seseorang harus memiliki keunggulan dan keunikan. Dengan demikian, sejak memimpin kampus UIN Maliki Malang, Prof. Imam selalu membuat dan menerapkan konsep-konsep pendidikan yang belum banyak dilakukan oleh lembaga lain. Beliau, misalnya, mencoba menggabungkan tradisi perguruan tinggi dengan tradisi pesantren. Hal berbeda yang bersifat kreatif dan inovatif seperti ini menjadikan institusi yang sedang beliau pimpin bersifat unik dari lainnya. Selain itu, Prof. Imam mengembangkan bangunan keilmuan baru di UIN Maliki Malang, yaitu menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum dalam satu kesatuan.

Sudah pasti, Prof. Imam adalah sosok yang memiliki semangat tinggi dan tidak gampang menyerah. Ketika kampus masih bernama STAIN Malang di awal tahun 1998, dalam upaya membangun semangat kerja, beliau menempuh pendekatan kebersamaan. Menurut pengamatan beliau, semangat kerja yang rendah lebih banyak disebabkan adanya perbedaan kesejahteraan yang diterima oleh masing-masing orang. Beliau menyadari bahwa seluruh pegawai di kampus dengan status, tugas, dan golongan yang berbeda tidak mungkin menerima imbalan yang sama. Tetapi di tengah perbedaan yang mencolok, beliau membuat kebijakan yang menjadikan kebersamaan.

Kesamaan dan kebersamaan yang beliau pilih waktu itu berupa pemberian baju seragam dan juga THR menjelang Hari Raya. Kalau biasanya baju seragam antara pejabat, dosen, dan karyawan selalu dibedakan, beliau mengambil kebijakan menyamakannya. Entah itu pimpinan, dosen, karyawan, satpam, bahkan petugas kebersihan. Semua diberikan baju jas yang sama. Inilah yang beliau maksud sebagai kesamaan dan kebersamaan. Demikian pula tatkala menjelang Hari Raya. Manakala rektor mendapat THR Rp 100 ribu, maka satpam dan tukang sapu pun juga mendapat rupiah yang sama. Strategi ini ternyata berhasil menumbuhkan semangat kerja di kalangan pegawai tingkat bawah, karena mereka merasa diperlakukan secara sama.

Prof. Imam sering mengatakan, setiap orang memiliki keakuan yang menuntut orang lain mengakui. Tatkala harapan itu gagal diperoleh, biasanya orang akan tersinggung, kecewa, dan bahkan marah. Tidak ada orang yang mau dianggap keberadaannya tidak ada. Banyak orang merasa sedih, kecewa, dan bahkan marah hanya karena merasa dirinya dianggap tidak penting, tidak diorangkan, apalagi dianggap tidak ada. Orang akan bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas manakala keberadaan atau eksistensinya diakui. Tatkala pengakuan terhadap diri seseorang diberikan, maka yang bersangkutan akan senang dan bangga. Kesenangan dan kebanggaan itulah yang menyebabkan mereka mau dan sanggup bekerja maksimal.

Demikian itulah model kepemimpinan Prof. Imam. Sekali lagi, beliau telah menjadi pemimpin yang melayani. Lebih lengkap, silakan membaca buku ini. Semoga kita semua tergugah untuk menjadi pemimpin yang inspiratif.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Husnaini
Pendidik dan Penulis Tinggal di Kota Soto Lamongan

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PBNU Terkait #AksiDamai411: “Saatnya Memenuhi Rasa Keadilan Masyarakat”