Home / Berita / Nasional / Pemda Diminta Bantu Petani Atasi Praktek Premanisme

Pemda Diminta Bantu Petani Atasi Praktek Premanisme

Aktifitas Petani (ilustrasi).   (rumahkeluarga-indonesia.com)
Aktifitas Petani (ilustrasi). (rumahkeluarga-indonesia.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Anggota Komisi IV DPR, Habib Nabiel Almusawa menyebutkan para petani, peternak dan pembudidaya ikan di pedesaan umumnya adalah golongan lemah.  Kelemahan dan ketidakberdayaan mereka sering dimanfaatkan oleh para preman setempat.

“Pemerintah Daerah (Pemda) mestinya bisa melindungi mereka dari praktek premanisme”, ucapnya  menanggapi informasi banyaknya aksi premanisme yang membuat petani makin sengsara.

Kementerian Pertanian melaporkan, banyak aksi preman pasar yang membuat petani kecil menderita dan harga produk pertanian di tingkat konsumen menjadi mahal.  Contohnya di Pasar Klampok, Jawa Tengah, peternak sapi dipaksa menjual sapinya ke pedagang (belantik).  Tidak bisa menjual langsung ke pembeli.  Pedagang menentang keras rencana pembuatan pasar lelang di tempat itu untuk memperpendek mata rantai perdagangan sapi hidup.

“Kami juga pernah mendapat keluhan dari pembudidaya ikan di Banjarbaru, Kalsel, bahwa saat datang ke pasar tidak boleh menjual dengan harga seenaknya.  Saat harga ikan tinggi, Ia diancam bila menjual dibawah harga pasar.  Karena harga tinggi, ikan yang terjual jadi lebih sedikit”, paparnya.

Para korban praktek premanisme tersebut, menurutnya, umumnya adalah mereka yang lemah dan miskin.  “Upaya mengentaskan kemiskinan bukan hanya dengan menyantuni, memberi pelatihan dan memberi modal usaha”, ujarnya.

“Pemda harus ikut aktif melindungi dan memfasilitasi agar mereka bisa menjangkau akses pasar dengan harga terbaik yang juga merupakan upaya pengentasan kemiskinan.  Ini tugas Pemerintah dan terutama Pemda”, tuturnya.

Pemda, lanjutnya, harus peduli dengan permasalahan ini.  “Bujuk dan beri arahan kepada mereka untuk tergabung dalam kelompok agar memiliki posisi tawar yang kuat.  Juga agar bisa mensuplai pasar dengan produk yang berkualitas dan berkesinammbungan”, katanya.

Di sisi lain, tambahnya, carikan pihak yang bersedia membeli produk mereka dengan harga terbaik.  “Kalau ada pasar swalayan, minta kepada pengelolanya agar mau menampung produk mereka”, ujarnya.

Kepada para preman, lanjutnya, lakukan pendekatan secara persuasif agar tidak mencari nafkah dengan cara mengintimidasi orang.  Berikan opsi pekerjaan lain, misalnya jadi pengaman pasar.  “Kalau mereka bersikeras ingin tetap jadi preman, lakukan tindakan kuratif dengan memprosesnya secara hukum”, tandasnya.

“Pemda harus terlibat aktif memfasilitasi hal ini, ingat bahwa tanggungjawab swa-sembada pangan itu bukan hanya urusan Pemerintah pusat, tapi bagian terbesarnya ada di daerah dan Pemda adalah ujung tombaknya”, pungkasnya.  (sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Kisah Pemuda Kuliah Bermodal Jahe Merah