Home / Berita / Opini / PKS dan PDIP, Tetap Semangat, Tapi Jangan Over!

PKS dan PDIP, Tetap Semangat, Tapi Jangan Over!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)

dakwatuna.com – Adakalanya kita berhadap-hadapan, sering terjadi kesalahpahaman antara kita. Tetapi adakalanya kita saling membutuhkan. Kita sering berbeda persepsi, tapi kita juga telah banyak berkolaborasi dan bekerja sama. Adakalanya kita berebut, adakalanya pula kita mesti berbagi. Begitulah kita, dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Semangat PDIP, semangat PKS. Semangat dan militansi kedua partai ini melebihi partai-partai yang lain. Jika pada umumnya mesin partai hanya bergerak kalau ada uang, kedua partai ini berbeda. Ada motivasi ideologis, memiliki lebih banyak kader militan yang bisa diajak kerja bakti.

Pantas saja, kader-kader PKS menjadi lokomotif koalisi Prabowo-Hatta. Padahal Capres yang diusung bukan berasal dari kader PKS. Kalau PDIP, wajar saja bermain all out. Karena calon yang diusung berasal dari kadernya sendiri.

Jika kedua partai itu berhadap-hadapan head to head, pertarungan pasti lebih seru dan menegangkan. Sampai-sampai timbul kekhawatiran jika ketegangan ini akan diikuti ekses negatif: terjadi huru-hara dan kerusuhan, misalnya.

Ketegangan Pilpres kali ini memang agak mengkhawatirkan. Mungkin, kita perlu introspeksi sejenak. Jangan sampai kepentingan bangsa yang besar dipertaruhkan untuk sebuah proses politik sesaat.

Terjadi gesekan dalam sebuah kompetisi adalah sesuatu yang lumrah. Sikapi dengan kepala dingin. Jika ada ketidaksempurnaan prosesnya, sudah biasa terjadi. Jangan juga menjadi kambing hitam. Saling menyalahkan bukan solusi.

Cairkan ketegangan. Jangan terlalu larut terhanyut dan bisa tenggelam. Ada saat harus serius. Perlu juga sesekali untuk rehat sejenak.

Mengakomodasi kepentingan dan berbagi partisipasi untuk sebuah bangsa yang besar dan majemuk. Agar besarnya energi potensial yang dimiliki PKS dan PDIP tidak terkuras habis untuk sebuah proses politik semata. Tetapi berguna menjadi solusi persoalan bangsa ini.

Tak lupa, agar seluruh rakyat Indonesia berpartisipasi menjadi wasit yang baik bagi kami.

Permainan Berbahaya Menjadi Permainan Menyenangkan

Mengingatkan kembali pesan yang sering disampaikan Presiden PKS, Anis Matta, yang cukup relevan untuk meredakan situasi yang sudah agak tegang.

“Berpolitik zaman sekarang terlihat menakutkan. Karena yang banyak dipertontonkan adalah politik kotor, kejam, hitam, horor dan sikut sana-sini. Horor, ibarat menonton film horor. Sudah mengeluarkan uang mahal, menonton tidak tenang karena takut ataupun was-was dengan konten yang disuguhkan. Setelah film selesai, bisa jadi tidak mendapatkan apa-apa. Malah teringat adegan yang menakutkan dan menjadi trauma. Uang pun hilang dengan percuma. Tak heran jika politik sekarang menjadi permainannya orang dewasa yang tidak mendidik dan menakutkan. Akibatnya, pemuda sekarang pun banyak yang tabu dan takut dengan dunia politik. Bahkan mendengarnya saja pun, mereka risih.”

“Mari kita buat politik itu menjadi permainan orang dewasa yang lucu dan mendidik. Sehingga semua orang berpartisipasi untuk kebaikan. Mari kita buat politik itu seperti meminum minuman berkarbonasi atau bersoda. Enak dan berkelas, tapi tidak memabukkan. Mari kita buat politik itu seperti pemilihan ketua OSIS saat SMP atau SMA. Ada persaingan, tapi tidak menakutkan dan tidak berbahaya.”

“Salah satu kanal untuk memperbaiki Indonesia adalah dengan politik. Mari ubah persepsi, mengubah politik kotor menjadi politik bersih. Mari ubah persepsi, mengubah politik horor menjadi film laga atau drama cinta. Mari ubah persepsi, mengubah politik hitam menjadi politik putih. Mari ubah persepsi, berpolitik dengan cinta yang sesungguhnya, memperbaiki Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya.”

Tetap konsisten dengan cinta, kerja dan harmoni!

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Surat Kabar Amerika Shock Berat dengan Kemenangan Trump