Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Melesatkan Amal dan Karya

Melesatkan Amal dan Karya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kaskus.us)
Ilustrasi. (kaskus.us)

dakwatuna.com – Amal dan karya merupakan dua potong kata yang banyak diinginkan oleh umat manusia. Tentunya keinginan untuk beramal dan berkarya secara produktif. Baik karya nyata di dunia maupun amal shalih di akhirat. Solusinya tidak jauh dari bagaimana kita menyiasati waktu yang ada. Faktanya, terlalu banyak orang yang memahami teorinya. Tetapi selalu gagal mempraktekkan di lapangan. Padahal, Allah menyayangi umatnya yang menghargai waktu. Adapun hal-hal yang dapat melesatkan amal dan karya antara lain:

1. Mengurangi Waktu Kosong

Kekosongan waktu merupakan bukti bahwa kita tidak menjadwalkan aktivitas keseharian dengan baik. Kekosongan merupakan muara bagi kebodohan dan kefuturan. Makanya, ada pepatah arab yang mengatakan “Al-waqtu atsmanu minna dzahabi.”(Waktu itu lebih mahal daripada emas). Karena keefektifan dalam menggunakan waktu saat ini menentukkan jauhnya lompatan pencapaian amal dan karya di masa depan.

2. Mengetahui Kebermanfaatan

Manusia terbaik ialah yang bermanfaat bagi lainnya. Kalimat tersebut merupakan hadits yang sudah familiar. Tetapi sedikit yang memahami maknanya secara mendalam. Sehingga hanya mengetahui dampak akhiratnya saja. Yaitu pahala amal shalih dari Allah Swt. Padahal, kebermanfaatan aktifitas kita di lapangan berdampak kepada kehidupan sosial yang semakin harmonis dengan lingkungan masyarakat. Psikologis kita menjadi lebih sehat. Karena amal baik mendatangkan rasa kasih sayang dan ketenangan jiwa pelakunya. Bahkan, kebermanfaatan kita di masyarakat berdampak kepada ekonomi, karir, hingga kesehatan.

3. Amal Jama’i

Sebuah pepatah arab mengatakan “Al-ittihadu asasu najjah.”(Bersatu adalah pangkal keberhasilan). Mungkin, inilah implementasi bahwa manusia ialah makhluk sosial. Sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Amal jama’i bukan hanya berbicara mengenai kebutuhan, tetapi juga percepatan. Bagaimana adanya keragaman yang bersifat melengkapi. Adanya kuantitas yang massif, membuat energi yang ada menjadi terminimalisir. Dan yang lebih penting dari semua kebermanfaatannya: bagaimana waktu dapat dipangkas habis dari kegiatan yang bersifat sia-sia.

4. Bekerja Dengan Hati

Banyak pekerja keras yang selalu mengeluhkan karya ciptaannya. Terlalu banyak orang cerdas yang terlihat bodoh dengan ketidakbersyukurannya. Banyak orang kaya yang terlihat miskin karena kekikirannya. Dan tak kalah banyak manusia pekerja yang tidak bahagia dengan pekerjaannya. Itu semua terjadi karena tak sedikit dari mereka yang bekerja menggunakan ambisi besar, egoisme, iming-iming harta, bahkan keserakahan. Padahal, pekerjaan yang berawal dengan sepenuh hati, tidak pernah mengecewakan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial