Home / Berita / Opini / Saling “Serang” dalam Pilpres 2014

Saling “Serang” dalam Pilpres 2014

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pasangan Peserta Pemilu Presiden 2014 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla saling menyapa sebelum Debat Capres-Cawapres di Jakarta. (Wahyudin/Jawapos)
Pasangan Peserta Pemilu Presiden 2014 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla saling menyapa sebelum Debat Capres-Cawapres di Jakarta. (Wahyudin/Jawapos)

dakwatuna.com – Tentu kita sering mengeluh, tapi cobalah sudi mendengarkan keluhan orang lain. Apa yang dikeluhkan pengamat politik Arbi Sanit tentang Pilpres ini barangkali perlu kita cerna dengan bijak, “Sudah brutal. Baik yang dilakukan calon maupun timnya. Ini sudah sangat kalap, sudah main kayu, ibaratnya.”

Pilpres ini beda. Terasa panas dan tegang. Kompetisi melaju tanpa terkendali, memasuki rute yang membahayakan. Tanpa memerhatikan lagi rambu-rambu kelayakan dan keselamatannya. Sedang bangsa ini kian terhuyung-huyung. Sebelum benar-benar terjadi ‘boom’, cobalah berpikir untuk cooling down, melepaskan ego, memformat ulang langkah, berkolaborasi dalam suatu harmoni, bersama berayun menuju pintu gerbang tujuan, berkompetisi secara fair.

Negeri ini seperti di ambang chaos. Banyak yang sudah pasang kuda-kuda. Main ancam. Pokoknya, tidak siap kalah, titik! Saling melepaskan kartu As, heboh foto Wimar Witoelar, transkrip percakapan Kejagung, tabloid obor, buku pink dan banyak lagi yang menjadi indikasi ke arah itu. Tak peduli harus membuat gol bunuh diri, yang penting penonton turun ke lapangan mengamuk.

Kita pernah merasakan sakitnya terfitnah. Menjadi bulan-bulanan media tanpa mau tahu duduk persoalannya atau tertimpa black campaign. Maka, jangan melakukan tindakan seperti itu pada lawan kita. Kita marah jika lawan berbuat zhalim, tapi mungkin kita atau teman kita pernah berbuat khilaf serupa pada lawan. Kita muak terhadap media yang berpihak pada lawan. Sebaliknya, lawan juga muak kepada media yang berpihak kepada kita.

Saat emosi dan kemarahan ingin ditumpahkan pada lawan, cobalah bersikap lebih bijak. Jangan mudah terpancing. Barangkali, tindakan mereka adalah ketidaksengajaan, miskomunikasi, atau bahkan ada pihak ketiga yang bermain, decoy operation, mengadu domba.

Saat-saat kita berhadapan secara frontal, saling ingin menjatuhkan dan menghancurkan, ingatlah kalau suatu saat mungkin kita akan saling membutuhkan, harus berpadu menghadapi suatu tantangan bersama, dan kita menyesali perseteruan ini.

Bagi yang kalah, anggap saja sebagai kemenangan yang tertunda. Masih ada kesempatan untuk meneruskan perjuangan. Toh, di setiap kompetisi biasa ada yang menang dan kalah.

Daripada kita hancur semua, kalah semua, lebih baik kita berbagi kememangan. Agar menjadi kemenangan bersama.

Maka, jangan membuat (pendukung) Jokowi terlalu marah. Agar apapun yang terjadi mereka tetap mengatakan, “Aku ra popo.” Sebaliknya, tentunya sebagai pesan untuk kedua belah pihak.

Hadapi kompetisi ini dengan maksimal. Tapi tetap dewasa dan fair. Bersikap adil terhadap kawan dan lawan. Pilih yang terbaik. Menang secara sportif, kalah dengan terhormat.

Bravo sportivitas!

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,88 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

DR. Thariq Suwaidan. (albosala.com)

Thariq Suwaidan: Kemenangan Trump Tidak Sepenuhnya Buruk, Karena Justru Akan Hancurkan Amerika