Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ahmad Nuaina, Qari’ Mesir yang Menghafal al-Qur’an di Usia 30 Tahun

Ahmad Nuaina, Qari’ Mesir yang Menghafal al-Qur’an di Usia 30 Tahun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Seorang guru mengajari hafalan Al-Qur'an (ilustrasi/inet)
Seorang guru mengajari hafalan Al-Qur’an (ilustrasi/inet)

dakwatuna.com – Syaikh Ahmad Nuaina adalah salah seorang qari’ yang sangat terkenal di Mesir.  Beliau adalah seorang hafizh al-Quran dalam 10 qira’at yang berbeda.

Yang menarik adalah perjalanan hidup beliau untuk menjadi seorang hafizh al-Quran. Kita akan mengira beliau mulai menghafal Quran sejak kecil, seperti halnya hafizh-hafizh al-Quran yang terkenal. Ternyata, beliau baru mulai menghafal al-Quran ketika umurnya mendekati angka 30 tahun. Yang paling menarik, beliau juga berprofesi sebagai seorang dokter anak.

Bagaimanakah beliau bisa menghafal al-Quran di usia yang tidak muda lagi dan sekaligus menjalani kesibukan sebagai seorang dokter? Ternyata, kuncinya ialah mulai dengan sesuatu yang kecil. Tapi lakukanlah dengan konsisten, dan tidak pernah ada kata terlambat.

Dikala usia beliau hampir mencapai 30 tahun, beliau mendatangi seorang ustadz yang juga pengajar qira’at al-Quran di Universitas Al-Azhar Kairo. Beliau mengatakan kepada ustadz tersebut bahwa ia ingin menghafalkan al-Quran tetapi tidak punya banyak waktu karena kesibukan sebagai seorang dokter. Kemudian, ustadz tersebut memberikan tips, hafalkanlah dua baris al-Quran setiap hari tanpa ada hari libur.

Ahmad Nuina bertanya, “Hanya dua baris?” Ustadz menjawab, “Iya. Dua baris saja. Tapi, hafalkanlah dengan sempurna dan jadikanlah hal tersebut menjadi aktivitas harian.” Sejak saat itu, mulailah Ahmad Nuaina menghafalkan dua baris al-Quran setiap hari. Setiap waktu maghrib beliau menyetorkan hafalannya kepada gurunya sampai ia dapat menyempurnakan bacaan dan menghafal 10 qira’at al-Quran.

Pelajaran yang bisa diambil ialah, apapun profesi kita, baik sebagai seorang dokter, pedagang, ilmuwan, insinyur dll, ternyata tidak menjadi halangan untuk menghafalkan ayat-ayat al-Quran. Sekarang, tinggal melihat pada diri kita. Sudah seberapa besar tekad yang ada pada diri kita? Kemudian seberapa besar prioritas yang kita alokasikan untuk belajar al-Quran?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Bagus Adiyanto
Bagus Adiyanto adalah seorang aktivis dakwah di Washington DC, Amerika Serikat. Ia secara rutin memberi khutbah Jumat di Kedutaan Besar Republik Indonesia, dan komunitas Muslim Indonesia di Washington DC. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 dalam bidang teknik industri dari STT Telkom Bandung (sekarang Universitas Telkom) pada tahun 1999, Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S2 dalam bidang Ilmu Komputer di Southeastern University, Washington DC pada tahun 2002. Sekarang Ia bekerja sebagai IT Konsultan dalam bidang pengembangan applikasi berbasis web di National Institute of Health. Ia juga bekerja sebagai dosen jurusan Sistem Informasi di Strayer Unversity, Arlington, Virginia. Di dalam organisasi beliau pernah menjabat sebagai direktur Publikasi dan Komunikasi, dan juga sekretaris umum IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) dari tahun 2010-2013.

Lihat Juga

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?