Home / Berita / Nasional / Psikolog Politik UI: Jokowi Bisa Bernasib Buruk Seperti Joseph Estrada

Psikolog Politik UI: Jokowi Bisa Bernasib Buruk Seperti Joseph Estrada

Joko Widodo dan Joseph Estrada (kompasiana.com)
Joko Widodo dan Joseph Estrada (kompasiana.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Terbatasnya kapasitas Jokowi untuk jadi Presiden membuat sejumlah pihak khawatir karena popularitas yang dia raih selama ini diyakini karena pencitraan. Jika dipaksakan menjadi presiden, dikhawatirkan dia akan terpuruk seperti mantan presiden Filipina, Joseph Estrada, sebagaimana diberitakan Okezone (22/6/2014).

“Dalam banyak kesempatan, Jokowi tidak menguasai dan memahami masalah negara secara makro. Terlihat ketika berkampanye dia selalu menyentil masalah-masalah yang teknis yang harusnya porsi menteri atau gubernur,” kata psikolog politik Universitas Indonesia, Dewi Haroen, Minggu (22/6/2014).

Masalah teknis yang selalu disentil Jokowi itu misalnya tentang pasar dan PKL. “Dia mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang merakyat karena sering meninjau pasar dan memantau PKL,” kata Dewi.

Padahal menurutnya, tujuan memimpin bangsa adalah membuat rakyatnya sejahtera. “Lantas apa hubungan sikap merakyat atau pemimpin yang sederhana dengan mensejahterakan rakyat? Harusnya dia menjelaskan bagaimana cara dia membuat masyarakat lebih sejahtera,” Dewi menekankan.

Menurut pakar personal branding ini, banyak hal dalam diri Jokowi-JK yang tidak nyambung, tapi dipaksa-paksa nyambung. Tim marketing politiknya membuat citra Jokowi jadi luar biasa. Dia menghipnotis rakyat dan jadi media darling.

“Ini permainan marketing politik dari tim sukses Jokowi-JK agar jagoannya laku meski kapasitasnya terbatas,” kata Dewi.

“Saya kuatir, jika Jokowi jadi Presiden dengan kapasitas segitu-gitu saja nasibnya bisa seperti presiden Filipina, Joseph Estrada,” imbuhnya.

Estrada yang akrab dipanggil Erap awalnya adalah aktor film Filpina yang jadi media darling di negara itu. Berkat media dan pencitraan yang berlebihan, dia membuat jutaan orang Filipina menyukainya, tapi tahun ketiga dia dijatuhkan oleh media, karena kapasitasnya terbatas.

“Erap tak cepat belajar sehingga rakyat dan media muak, akhirnya terpuruk karena kapasitasnya buruk,“ kata Dewi. Erap kini menjadi walikota Filipina. “Bisa jadi kalau Jokowi segini terus ya bisa terpuruk seperti Erap,” katanya. (okezone/rem/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (67 votes, average: 8,66 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rio Erismen
Alumnus Universitas Al-Azhar Cairo dan Institut Riset dan Studi Arab Cairo.
  • okabasi doma

    Pemimpin yg profesional itu, pemimpin yg MAMPU memanfaatkan para jagoan jagoan dalam segala lini ( BAIK YG LUAR MAUPUN DALAM NEGERI) untuk mampu menyerap dan melaksanakan apa yg tertanam dalam benaknya setelah menjadi pemimpin dan memimpin(rakyat).

    kata kunci adalah KEMAMPUAN memanfaatkan. Lihat P.Harto, Adam Malik,misalnya, kedua orang ini autoidak tulen, tetapi wadagnya dan otaknya mengalahkan ANDA yg “pakar”.

  • Pencari Data

    betul pepatah lama mengatakan…tong kosong nyaring bunyinya…

  • nobar

    kartu..kartu..kartu..

  • @dalban

    yah namanya jga pendukung masing2 akan membela jagoanya
    seperti dakwahtuna yg akan membela lutfi hasan yg sekarang dikandangin

  • Ririn Kecil

    cobalah anda review orasi-orasi pak prabowo dari awal kampenye pileg sampai sekarang selain janji-janji BOMBASTIK nyaris tidak ada penjabaran tentang langkah-langkah konkret yang akan beliau lakukan JIKA nanti menjadi presiden. Bahkan yang membuat saya agak heran kemarin beliau mengkritik pemerintahan yang sekarang sampai berbusa-busa, tetapi sekarang memuja-mujanya. labilkah bapak ini?

    • Wuryanto

      LANGKAH KONGRET ITU MENTERI YANG MENJABARKAN

    • Irvine Kinneas

      saya sih jelas sekali. intinya indonesia tidak boleh malas. lahan kita yang tidur sangat banyak. semuanya menunggu digarap oleh penduduknya, bukan orang lain.
      yang labil adalah yang selalu menjadi oposisi. tak peduli siapa yang memimpin selalu diseruduk. akan diam kalau dirinya sendiri yang duduk.

  • Elien Jon

    Vivanews. Dakwatuna. Belajar islam adalah Page yang kelihatan tidak Netral. dulu senang dengan Page ini tapi tidak dengan sekarang.

    • Irvine Kinneas

      media tidak harus netral pak, setiap orang punya filter masing masing. inilah eranya demokrasi dan kebebasan berpendapat. salah memilih pemimpin, yaa karena kebodohan sendiri.

  • http://www.dakwatuna.com/2014/

    wes to coy ga usah gawe ribut.. jajal ngko nek wis ngerti titiwancine, neng donya iki ra ono sing kebetulan kabeh wes diatur, mbok dukung nganti jengking jengking nek sing Kuasa ra Ridhoni yo raiso kabeh mau diatur Sing Kuasa,.. jajal mikir uripmu diatur sing Kuasa ora,,,, Mikir Mikir Mikir Kir Kir Kir

    • wafa NOER

      pokokke…. oJokuwi……. prabowo bae….prabowo bae… prabowo bae….sing wis pasti bisa memimpin….. ojo pilih pemimpin sing plentat plentut…

  • A Suwarno Warno

    marilah kita ber Do,a agar pilpres tahun ini aman jangan saling mencaci dan memfitnah satu sama lain,tentukan lah pilianmu,jangan meyebarkan isu2 yang mengandung dosa,terimakasih wasalam

  • Gusty aji

    Siapa pun presidenan kita sbgai masyarakat biasa cuma bisa mndkung sja..dan siapa pun presuden kita yg pnting ada prubahan yg positive..bsa memakmurkan rakyat..amin