Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tak Perlu Menjadi Presiden Untuk Menyejarah

Tak Perlu Menjadi Presiden Untuk Menyejarah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)
Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Pernahkah engkau bertanya-tanya tentang jagad raya? Iya, aku pernah.

Aku bertanya, pada malam yang senantiasa hadirkan gelap gulita. Pekatnya mematikan langkah, seakan mendatangkan putus asa. Semua makhluk mati sementara, memejamkan mata, tak ada lagi upaya-upaya.

Aku bertanya, pada mentari yang panasnya terkadang begitu membakar. Panasnya mengeringkan ranting-ranting di pekarangan, mematikan kehidupan di alam raya. Semua mengering, tak bersisa. Hingga datang kemarau panjang. Hadirkan nelangsa bagi tiap insan dan makhluk lainnya.

Aku bertanya, pada air yang derasnya begitu menghanyutkan. Ia yang dengan kekuatannya mampu meratakan kehidupan, dan semua yang ia lewati. Kedahsyatannya runtuhkan harapan, tenggelamkan tiap keinginan. Terlalu mengerikan!

Aku bertanya, pada angin yang hembusan kencangnya dapat runtuhkan kehidupan. Ia yang dengan kemarahannya mampu tumbangkan gedung tinggi menjulang. Hembusannya mampu menggulungkan samudera, lalu menumpahkannya ke tanah. Jadilah bencana!

Tapi, aku lupa…

Ialah indahnya malam yang akan hadirkan bintang-bintang. Ialah syahdunya malam, yang hadirnya dihiasi sejuk sinarnya rembulan. Gundahnya hatimu, resahnya jiwamu, tumpahkanlah semua dalam pekatnya kesendirian bersama malam. Lalu bermunajatlah! Esoknya akan kau dapati hati yang tenang tiada tara, jika kita ikhlas pasrah melakukannya. Kata Mario Teguh, “Jika tidak ada pundak yang dapat menjadi sandaran, maka sediakanlah lantai yang bersih. Lalu kita tumpahkan semua keluh kesah dalam sujud-sujud kita,”

Ialah bijaknya mentari yang akan berikan kehidupan bagi tetumbuhan di pekarangan. Ialah mentari, yang lengkapi kebutuhan semua makhluk-Nya. Meski jasanya hanya sekedar keringkan tumpukan pakaian-pakaian yang tertata rapi di halaman rumah. Namun, mampukah dayamu melakukan itu tanpa anugerah hangatnya?

Ialah sejuknya air yang hadirkan kesejukan dan kehidupan. Ia yang mengairi tanaman. Ia yang hadirnya melengkapi setiap kekurangan makhluknya. Tatap dirimu di depan cermin! Separuh lebih bagian tubuhmu, ada anugerah air di dalamnya.

Ialah perkasanya angin yang hadirkan takdir kehidupan, mendatangkan hujan. Untuk engkau nikmati, untuk engkau syukuri. Ialah dahsyatnya angin, yang dengan sentuhan ajaibnya menumbuhsuburkan benih-benih di pekarangan, sebarkan takdir-takdir kehidupan bagi tanaman yang butuh sentuhan lembutnya untuk bertahan di muka bumi.

Memang, hakikatnya hidup ini seperti sebuah koin. Kita akan selalu temui dua sisi yang berbeda. Lalu, di sanalah kita tampil layaknya ksatria untuk berani menjemput dan memperjuangkan takdir-takdir kita.

Hakikatnya hidup ini seperti selembar daun. Dari mata-mata tunas ranting engkau ditumbuhkan, lalu menghijau. Namun, akan tiba masanya engkau menguning, lalu jatuh ke tanah. Bukan untuk mati lalu tak berdaya. Tapi limpahan haramu akan menyusup ke dalam tanah, menimbulkan harapan baru bagi generasi nantinya. Engkau, bersama yang lain akan hadirkan sumber daya. Ya memang, manfaatnya tak akan selalu cepat kita rasa. Terlalu instan!

Ucap Abangku suatu kala, hiduplah untuk melegenda. “Tak akan aku biarkan diri ini mati, sebelum meninggalkan sesuatu di dunia. Hingga karena hal itulah mereka senantiasa mengingat dan mengenang diri ini,” begitu katanya. Itu hanya efek lain dari kebermanfaatan akan keberadaan diri kita. Karena kita hidup bukan hanya untuk mati segera.

Aku pernah mendengar suatu petikan kalimat, “Kualitas kerja-kerja menentukan kualitas diri kita”. Namun bagiku, ada benarnya. Kadang aku lihat, ada ia yang bekerja untuk sekedar dilihat manusia, dilimpahkan pujian, lalu ia merasa puas terhadapnya. Kupinjam istilah, mungkin itu mental-mental pedagang ulung. Ia menjual sesuatu untuk mendapat sesuatu. Kadang aku saksikan, ada ia yang lebih memilih bekerja dalam kediamannya, di hadapan orang lain ia seolah tidak berbuat apa-apa. Kupinjam istilah, mungkin itu mental-mental seniman. Bekerja dalam keheningan, lalu jadilah sebuah karya. Tapi ada juga, ia yang bekerja, ada tidaknya manusia, ada tidaknya pujian yang menghampirinya, ada tidaknya celaan yang membersamainya, namun semangat kinerjanya tetap, tak ada yang berbeda. Kutahu, ia pamrih! Pamrih kepada Allah semata! Ia bekerja ingin dilihat oleh Dia semata. Ah, kadang aku merindu sekali insan-insan itu.

Hiduplah untuk menyejarah. Tak perlu kita menjadi Presiden untuk dikenang sejarah, ataupun seorang pahlawan agar namanya terpampang di monument-monumen yang dikenang jutaan massa. Cukup hiduplah selayaknya, lalu berbuat baiklah. Hidupnya seorang anak yang berbakti kepada orangtua, pemuda yang taat pada agama dan pemimpinnya, pekerja yang setia pada profesinya, bawahan yang patuh terhadap atasannya, suami yang setia pada istrinya, istri yang bakti pada suaminya, sahabat yang dapat menjadi sandaran bagi saudara lainnya, manusia yang tulus melakukan kebaikan untuk siapa saja yang ditemuinya. Itu semua efek lain dari kesetiaan kita kepada ajaran Tuhan kita. Semoga dapat menginspirasi.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anita Nurrahmah
Mahasiswi S1 Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor 2011 asal Kota Patriot, Bekasi.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Facebook.com)

Miskomunikasi Suami Istri