Home / Pemuda / Cerpen / Perjuangan Anak Janda Menjadi Dokter Spesialis Jantung

Perjuangan Anak Janda Menjadi Dokter Spesialis Jantung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Malam terasa kian sunyi. Hembusan angin pegunungan menambah dinginnya suasana malam ini. Sesekali terdengar suara jangkrik mengisi kesunyian suasana malam pedesaan. Malam ini, bulan malu memperlihatkan pesonanya. Ia bersembunyi di balik kabut gelap. Samar-samar terlihat pula bayangan rerimbunan perdu dan bunga-bunga. Keheningan itu dipecahkan oleh suara tangis kak Nur, terisak-isak.

“Bu,” kata kak Nur yang duduk di samping ibunya sambil menangis tertahan. “Nur antar ibu ke rumah sakit ya? Ibu butuh pemeriksaan dari dokter secara intensif.” kata kak Nur menjelaskan.

“Tidak usah, Nak. Ibu sudah sangat bahagia bisa dirawat oleh kalian. Uangnya digunakan untuk  ongkos Sinar pergi ke Solo saja.”  Jawab Ibu sambil memandang kedua putranya.

“Kalau seperti itu, Sinar tidak usah pergi ke Solo. Sinar tidak mau meninggalkan Ibu yang masih sakit. Ibu harus sembuh dulu,”

“Jangan, Nak. Kesempatan mendapatkan beasiswa tidak datang dua kali. Ibu akan merasa sangat sedih jika kamu menyia-nyiakan kesempatan ini. Biar kak Nur yang merawat ibu. Percayalah. Ibu akan baik-bak saja.” jawab Ibu meyakinkan anaknya.

Sinar hanya bisa diam. Perasaannya berkecambuk tidak menentu. Di satu sisi, Ibu yang sangat dicintainya sedang terbujur lemah karena kanker payudara yang dideritanya sejak setahun lalu. Sedangkan di sisi yang lain, mimpinya menjadi seorang dokter sudah ada di depan mata. Ia mendapatkan beasiswa Bidik Misi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

“Sinar, Nur … sini, Nak. Tidur disamping ibu” pinta Ibu dengan lembut.

Sinar dan kak Nur pun bergegas mendekap dan tidur di samping ibunya.

“Nur, bagi Ibu kamu itu malaikat kecil yang Allah hadiahkan untuk Ibu. Sejak kecil sampai sekarang, kamu selalu setia di samping Ibu. Sedangkan kau, Sinar. Kau adalah cahaya kehidupan ibu. Disaat Ibu merasa sedih dan gundah, kau ada untuk menghibur Ibu,” kata Ibu dengan penuh kasih sayang.

“Anak-anakku, kalian harus meraih kesuksesan yang hakiki. Kesuksesan yang tidak hanya diukur dari materi. Tetapi dinilai dari nikmatnya ketenangan hati dan kebermanfaatan kalian terhadap sesama,” jelas Ibu dengan bijak.

“Ya, Bu. Kami akan berusaha semampu kami.” jawab kak Nur.

“Sinar juga ….” jawab Sinar menambahi.

“Iya, anak-anakku. Ibu yakin kalian bisa meraih semua mimpi-mimpi kalian. Doa dan restu Ibu menyertai. Ibu mencintai kalian.” kata Ibu sambil mengelus-elus kepala dan mengecup kening kedua anaknya.

Sinar dan kak Nur tersenyum sembari menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca.

Malam semakin larut. Suasana malam begitu hangat. Sehangat kasih Ibu kepada anak-anaknya. Ibu adalah sumber kekuatan bagi Sinar dan kak Nur setelah kepergian ayah mereka karena serangan jantung dua tahun yang lalu.

***

“Ibu, Sinar pamit. Mohon doa dan restu dari Ibu agar Sinar bisa sukses. Sesampainya di Solo, Insya Allah Sinar akan langsung mengirimkan SMS ke Kak Nur.” Sinar sesenggukan dalam dekapan Ibunya.

“Tentu saja, anakku. Doa Ibu senantiasa menyertaimu. Hati-hati, ya Nak. Jaga diri baik-baik.”

“Iya, Bu.”

“Hati-hati di jalan ya, Dik. Jangan lupa untuk sering-sering mengabari kami.”

“Iya, Kak. Titip ibu ya ….”

“Iya, Dik… Insya Allah.”

Dengan satu tarikan napas panjang, Sinar berdiri menjinjing tas kecil berisi berbagai makanan dengan tangan kanan dan menempatkan tas besar berisi pakaian di kedua bahunya. Lalu bersalaman kepada Ibu dan kakaknya, kemudian berjalan melintasi gerbang menuju ke stasiun sambil melambaikan tangannya.

Jam besar di atas peron stasiun Poncol Semarang menunjuk pukul tiga kurang sepuluh menit. Kereta Api jurusan Semarang-Solo yang baru saja datang langsung diserbu oleh penumpang yang sudah lama menunggu dari pukul dua siang tadi. Tanpa merasa bersalah, mereka meninggalkan sampah koran, kertas bekas bungkus nasi dan kulit kacang yang berserakan. Bau pesing yang menyengat dan aroma anyir sisa muntahan juga menambah keruh suasana.

Sinar pun terpaksa ikut berdesak-desakan berebut tempat duduk. Namun, tak ada satu pun tempat duduk yang tersisa. Bermodal seribu rupiah, Sinar membeli Koran untuk dijadikan alas tempat duduk. Setelah itu, dilihatnya petugas Kereta Api berjalan memeriksa satu persatu karcis penumpang. Penjual asongan berlalu-lalang menawarkan barang dagangannya, pengamen dengan alunan lagu dangdut dari perlengkapan seadanya dan kaset murahan serta tangisan bayi menambah kebisingan suasana dihiasi beberapa orang yang sedang asyik bercengkrama. Segalanya nampak begitu menarik.

“Ah, inikah keadaan di dalam Kereta?” katanya dalam hati. Inilah untuk pertama kalinya Sinar merasakan nuansa perjalanan menggunakan Kereta Api. Dan Kereta pun terus melaju menuju Kota Budaya, Solo.

***

Sesampainya di Stasiun Balapan Solo, beberapa kondektur berebut penumpang. Tak peduli dengan rayuan kondektur, Sinar terus berjalan menuju jalan raya depan stasiun yang dihiasi lampu penerangan yang mati dan sampah bekas bungkus nasi kucing yang berserakan.

Sesampainya Sinar di halte bus, tiba-tiba langkahnya tertahan dan nafasnya terasa sesak. Isi dompetnya lenyap tak tersisa.

“Ya Allah! Saya dicopet!” pekik Sinar kaget.

Sudah hampir satu jam Sinar memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menyambung hidupnya di Solo. Akhirnya, Sinar memutuskan untuk berjalan menuju UNS. Sekarang kondisinya tidak mudah. Tidak ada uang sepeser pun di tangannya. Ia melewati daerah baru yang tak pernah dikenalnya dan tidak ada rekan atau saudara yang ia kenal di Solo.

“Ya Allah, tolong saya.” Pintanya dalam hati.

Sinar terus berjalan menelusuri jalan raya, namun UNS tak kunjung ditemukannya.

Setelah dua jam Sinar berjalan tertatih-tatih, akhirnya dia berhenti di sebuah Masjid. Masjid itu bernama Nurul Huda. Masjid itu mengingatkannya pada masjid di kampungnya yang sederhana tapi memesona. Sinar merasa lelah, gerah, penat dan pegal. Namun, di Masjid itu ia menemukan kedamaian. Wudhunya serasa melunturkan semua penat dan beban yang ada. Ia seperti melihat butiran-butiran dosa jatuh satu demi satu ke tanah, mengalir hanyut bersama air. Dalam shalatnya, ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Maha Besar. Ia hanyalah seorang hamba yang kerdil dan tak berdaya dihadapan-Nya. Tiap lafadz seolah dijawab oleh-Nya. Ada getar keimanan dalam setiap doa yang terucap. Dialah tempat bersandar dan berlabuhnya segala harap, takut dan cinta.

“Ya Allah, tolonglah saya.” Ucap Sinar lirih.

***

“Selamat malam, apakah kamu Sinar Wijaya mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UNS?” Tanya seorang pemuda berwajah putih berseri dengan jenggot tipis menghiasi wajah tampannya. Sembari menepuk pundak Sinar.

“Ya, benar. Saya Sinar Wijaya.” Jawab Sinar dengan kaget dan kebingungan.

Barokallah. Perkenalkan, saya Ahmad dari fakultas Kedokteran UNS semester lima. Saya ini sahabat kak Nur sewaktu di Pesantren dulu. Kemarin kak Nur mengirimkan SMS  dan meminta saya untuk mencari dik Sinar. Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu juga.”

“Iya, Kak.  Alhamdulillah, pertolongan Allah datang juga. Mohon bantuannya ya, Kak.”

“Iya, Dik. Insya Allah. Oh ya, untuk ke depannya kamu akan tinggal di sini. Menjadi takmir masjid Nurul Huda bersama kak Ahmad. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, dik Sinar bisa membantu kak Ahmad menjual kebab di dekat pasar Jebres dan mengajar TPA di sore harinya. Insya Allah uangnya cukup untuk makan dan kebutuhan kuliah.”

“Iya, Kak. Terimakasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan kakak dengan kebaikan yang lebih baik.”

“Aamiin”

“Oh ya, Kak. Saya boleh minta tolong?” Tanya Sinar

“Tolong kirim SMS ke Kak Nur kalau saya sudah selamat sampai di Solo dan sudah bersama kak Ahmad. Saya takut Ibu dan kak Nur di rumah masih khawatir menunggu kabar dari saya. Di perjalanan tadi handphone dan dompet saya hilang, Kak….”

Masya Allah, sabar ya, Dik. Nanti saya sampaikan  ke Kak Nur. Sebaiknya sekarang kamu istirahat dulu.”

“ Iya, Kak. Terimakasih.”

Hari demi hari dilalui Sinar dengan penuh perjuangan. Keterbatasan yang senantiasa melekat dalam hidupnya membuat ia semakin kuat dan dewasa. Keterbatasan itulah yang menempa dirinya menjadi seorang yang tangguh, cerdas, dan mempunyai tanggung jawab moril yang besar bagi dirinya dan orang lain.

***

Lima tahun berlalu, Sinar berdiri gagah memandang tempat kerja kebanggaannya yang baru. Sekarang, Sinar menjadi Dokter Spesialis Jantung di rumah sakit Tcipto Mangunkusumo Jakarta. Bersama Ibu dan kak Nur, ia menjalani kehidupannya yang baru di Kota Metropolitan, Jakarta. Di Jakartalah impian Sinar itu terbit menjadi sebuah kenyataan yang mengagumkan dan mulia.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Indah Yuliana
Entrepreneur Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Lihat Juga

Tiga Dokter Muslim Harumkan Nama Indonesia di Tingkat Internasional