Home / Narasi Islam / Wanita / Bukan Muslimah Biasa

Bukan Muslimah Biasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (sinarharian.com.my)
Ilustrasi. (sinarharian.com.my)

dakwatuna.com – Aku mengenal seorang ibu yang sederhana. Tidak terlalu cantik. Namun juga tidak jelek-jelek amat. Postur tubuh layaknya seorang ibu rumah tangga. Tidak terlalu langsing. Wajah sederhana tanpa riasan apa-apa. Dia juga tidak punya mobil. Dan biasa ke mana-mana dengan motornya yang berwarna gelap.

Kujumpai ibu itu di kios kecil penjual kain kiloan. Dia biasa membeli kain kiloan di sana untu bahan bajunya dan anaknya. Kadang juga untuk membuat sprei dan sarung bantal. Dia biasa terlihat ramah dengan senyum dan suara yang renyah.

Pada hari yang lain, aku bertemu dengan ibu itu bukan di tempat biasanya (kios kain kiloan). Aku menjumpai dirinya di tempat nan rapi, bergengsi, di sebuah universitas. Aku memang mahasiswa di sana. Aku bingung ketika melihatnya di tempat parkir. Batinku, “Untuk apa si ibu datang ke mari?” Sambil masih bingung, aku bergegas menuju ruang sejuk ber-AC tempat lokasi sebuah kegiatan ilmiah yang akan kuikuti.

Terpampang nyata sebuah tulisan besar di depan. Pembicaranya Dr. Fajarwati Adnan, SKM, MKes. Dalam hati aku bergumam, hebat betul si doktor Fajarwati ini. Kabarnya, beliau dosen senior yang lulusan S3 dari luar negeri. Jadi penasaran berat diriku ini.

Tibalah acara dibuka oleh Pemawa Acara. Tepat ketika itu, muncul sesosok ibu tidak terlalu langsing yang amat kukenal. Ibu itu yang biasa kujumpai di kios kain kiloan dan tadi kujumpai di tempat parkir. Aku makin bingung. Sampai Pembawa Acara mempersilakan si ibu duduk di depan, di kursi dengan meja yang bertengger tulisan “PEMBICARA”.

Masya Allah.. Detik itu, aku sadar! Ternyata, ibu itu, pelanggan kios kain yang saya jumpai di parkiran tadi, adalah seorang doktor.

Suatu saat, semoga aku bisa menjadi seperti ibu itu: seorang ibu rumah tangga sekaligus doktor. Namun, tetap rendah hati dan bersahaja. Mungkin, si ibu itu mengetahui bahwa jika kesombongan menghinggapinya, maka justru akan menjatukan martabatnya di hadapan Allah.

Sungguh, di tengah gempuran hedonisme, tentu tidak mudah untuk tetap bersahaja. Aku berterimakasih. Karena ibu itu telah menjadi teladan bagiku. Walau mungkin, tanpa disengajanya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 7,90 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu dari empat orang anak, dua putra dan dua putri. Menyukai menulis dan membaca. Bekerja sebagai dosen di FKM UAD, Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta sejak 2003.

Lihat Juga

Mushalla Ramah Akhwat…