Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memilih Pemimpin Cerdas dan Tegas

Memilih Pemimpin Cerdas dan Tegas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pilpres 2014 - ilustrasi (Foto: beritadewan.com)
Pilpres 2014 – ilustrasi (Foto: beritadewan.com)

dakwatuna.com – Suatu hari, Rasulullah Saw memimpin sebuah majelis taklim. Beliau menyampaikan tausyiah dengan baik dan mengagumkan. Di tengah ketekunan sahabat mengikuti untaian hikmah yang diberikan baginda Rasul, tiba-tiba masuk seorang pemuda Arab Badui tanpa mengucapkan salam. Pemuda itu bukannya bergabung dengan majelis taklim, tetapi justru pergi menuju salah satu pojok masjid untuk “buang hajat”. Melihat kejadian tragis ini, banyak sahabat yang beraksi. Bahkan, Umar bin Khaththab ingin mengejar dan menghajar pemuda yang telah mengotori kesucian masjid Nabawi.

Dengan sigap, Rasulullah Saw menghentikan gerakan sahabatnya agar tidak emosi menghadapi problema ini. Beliau biarkan pemuda itu untuk menyelesaikan “hajatnya”. Kemudian, secara santun beliau menasehati dan mengajarkan tentang kesucian masjid yang harus dijaga selalu serta bertanggungjawab dalam membersihkan masjid itu.

Begitulah kecerdasan Rasulullah Saw dalam menangapi setiap persoalan. Beliau tidak hanya mengandalkan akal pikirannya saja, tetapi juga menghadirkan hati nurani dalam mengambil suatu keputusan yang tepat. Jangkauan ke depan dan akibat yang ditimbulkan dalam setiap kejadian menjadi bahan pertimbangan penting dalam memutuskan suatu perkara. Banyak sekali peristiwa sangat sulit yang dihadapi Rasulullah Saw, namun dapat diselesaikan dengan cerdas sehingga memeroleh hasil yang maksimal.

Hal ini hendaknya juga menjadi teladan bagi seorang pemimpin di negeri ini. Menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah. Beban berat menanti dirinya. Apalagi dalam kondisi negeri yang sulit ini. Berbagai persoalan melilit negeri ini, tak putus-putusnya. Kemiskinan rakyat, kesenjangan ekonomi, tidak meratanya pembangunan, rendahnya kualitas pendidikan, sedikitnya lapangan kerja sampai pada masalah merajalelanya kejahatan dan tindakan korupsi. Semua itu merupakan deretan masalah yang menyangkut hajat rakyat dan harus segera diatasi. Untuk itu, dibutuhkan pemimipin yang cerdas dan tegas dalam menyelesaikan persoalan dan melanjutkan pembangunan untuk kejahteraan rakyat.

Ada empat kecerdasan yang harus dimiliki seorang pemimipin dalam mengemban tugas mulia ini.

Pertama, Kecerdasan Intelektual (IQ). Cerdas secara intelektual adalah kemampuan pemimpin dalam mengunakan dan mengelola potensi intelektualnya dengan maksimal. Setiap tindakan dan keputusan dalam setiap gerak hidup pemimpin merupakan perwujudan dari kecermelangan pikirannya. Pemimpin intelek adalah pemimpin yang berpikir secara logis, kritis dan sistimatis. Hal inilah yang menunjukkan identitas dirinya sebagai orang yang berbeda dengan kebanyakan manusia dan layak menjadi seorang pemimpin.

Untuk mewujudkan kecerdasan ini, pemimipin harus selalu menambah kapasitas dan kapabilitas dirinya sehingga mampu mengemban amanah berat ini. Dalam meningkatkan kecerdasan pemimpin secara intelektual, ia harus belajar dan selalu mengasah ketajaman pikiran dalam membedah setiap persoalan Negara dengan menghasilkan kebijakan yang berbuah manis bagi rakyatnya.

Kedua, Kecerdasan Emosional (EQ). Cerdas secara emosional adalah kemampuan pemimipin dalam mengendalikan emosi dan mengatur ritme perasaannya. Pemimpin yang cerdas secara emosi akan mudah menapaki jalan tugas dengan dedikasi tinggi. Mereka tidak terlalu berbangga ketika sukses menghampiri dirinya (mendapat berbagai penghargaan) dan tidak terlalu berduka ketika masih ada rakyat yang menghujat dirinya. Untuk mewujudkan kecerdasan ini, pemimpin harus rajin mengasah hatinya melalui muhasabah diri. Dengan demikian, hati akan indah berseri dan emosinya akan mudah terkendali.

Ketiga, Kecerdasan Spritual (SQ). Cerdas secara spiritual adalah kemampuan pemimpin dalam mengejewantakan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin harus rajin melaksanakan ibadah pada Tuhannya dan berusaha meninggalkan apa yang tidak dibenarkan agamanya. Kecerdasan ini menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang religius dalam melaksanakan amanah suci. Untuk meningkatkan kecerdasan ini, pemimpin harus berguru dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan iman dan takwa sebagai bekal dalam melaksanakan amanah.

Keempat, Kecerdasan menghadapi tantangan (Adversity Questient), yaitu Kecerdasan atau kemampuan pemimpin dalam mengubah tantangan menjadi peluang. Ujian berat dalam melaksanakan amanah tidak membuat dirinya berputus asa. Namun justru menambah kekuatan baru dalam menyelesaikan setiap masalah dalam membangun bangsa ini.Untuk itu, dirinya harus meningkatkan kesabaran, optimis dan konsistensi dalam melaksanakan tugas negara. Pemimpin harus menyadari, bahwa hidup tidak akan pernah sepi dari marabahaya. Kedekatan pemimpin dengan Tuhannya akan menguatkan dirinya menghadapi berbagai problema dan mampu mengayuh bahtera bangsa ini menuju Indonesia yang sejahtera.

Sebentar lagi, rakyat akan memilih pemimpin utama sebagai Kepala Negara. Untuk mendapatkan pemimpin yang cerdas, maka rakyatnya juga harus cerdas dalam menentukan pilihan. Rakyat harus berhati-hati dan teliti dalam menentukan hak suara. Jangan terpengaruh oleh money politic, black campaign, atau paham primordial. Kita berharap akan hadir pemimpin yang cerdas lagi tegas dalam mengatasi berbagai krisis yang melanda negeri ini. Semoga.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Presiden PKS, M Sohibul Iman. (IST)

Sohibul Iman Ungkap Lima Syarat Jadi Pemimpin yang Berkualitas

Organization