Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jodoh Beda Harokah

Jodoh Beda Harokah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – 

…Bukan kita yang memilih takdir,

takdirlah yang memilih kita…

(Shalahudin al-Ayubi)

 

“Kamu pernah dilamar?” Suara ragu di sebelah memaksaku mengalihkan pandangan, berhenti sebentar mengamati wajah saudaraku yang tersipu sambil tertawa menyembunyikan rasa gugupnya usai bertanya. Suasana jama’ah masih khusyuk. Antara mabuk istighfar dan menahan kantuk dalam sujud-sujud shalat. Kami meninggalkan masjid tanpa Witir malam itu.

“Emang kenapa?” tanyaku sambil tersenyum menggoda.

“Cuma nanya kok,” lanjutnya lagi. Masih berjalan. Seolah tidak ada apa-apa.

“Baru dilamar ya?” aku balik bertanya, temanku tertawa.

“Tapi, beda harokah.” terangnya lagi sambil menepuk pundakku.

Secara tidak langsung menegaskan, bahwa beda harokah artinya tidak.

***

Suatu siang yang hangat, dalam Ramadhan genap, saudaraku duduk bercerita tentang temannya yang mengambil sikap untuk tidak menikah dengan lelaki yang berbeda harokah.

“Aku nggak bisa membayangkann kalau menikah dengan lelaki dari harokah lain.  Tidak bisa membayangkan bagaimana nanti dakwah ke depan.”

Aku mencoba mengikuti alur berpikirnya. Mendengar seraya mengendapkan perasaan.

“Aku nggak siap dijauhi jama’ah.” lanjutnya kemudian.

***

Siang yang terik di Ramadhan yang kian berpijar. Seorang ummahat bertandang ke kontrakan saat kami masih mahasiswa, bersama dua anaknya yang masih balita. Dua permata hati yang begitu lucu dan menggemaskan. Seorang akhwat yang dulu pernah kos di rumah cinta ini dan kini dikaruniai empat orang anak. Tak jarang, ia mampir  sekedar berteduh usai mengantar anak-anaknya ke sekolah ataupun sekedar jalan-jalan. Seorang ummahat mandiri -kemana-mana biasa sendiri- lagi tegar. Belum pernah kudengar setitik keluhannya akan sikap suaminya, bagaimanapun orang lain sibuk menilai. Seorang akhwat yang menikah dengan lelaki dari harokah lain.

***

Jelang Ramadhan, di bulan Sya’ban. Seorang saudara yang pernah singgah setahun lalu di rumah cinta ini menelepon riang. Ia akan menikah. Ucapan selamat bertaburan kami lontarkan dari ponsel yang kami loud speaker. Bukan sebuah pesta memang. Bukan pula undangan. Ia hanya berbagi kabar gembira. Seorang saudara yang akhirnya pindah dari rumah cinta ini sejak menggenakan burqah dan meninggalkan aktivitas organisasinya. Kini, hendak mengikatkan dirinya pada lelaki di jalan dakwah pilihannya.

***

Setiap pilihan ada konsekuensinya. Begitu juga menikah. Perkara dengan siapa menjadi bagian dari proses yang tak bisa terelakan. Fenomena yang ada, teman-teman pergerakan Islam tidak sekedar menimbang bahwa calon pasangannya harus Islam dan hanif, namun juga mempertimbangkan back ground harokahnya. Perbedaan fikrah gerakan, konon menjadi masalah sendiri dalam rumah tangga lintas harokah. Kewajiban istri untuk taat kepada suami, biasanya membawa konsekuensi bahwa sang istri -mau tidak mau- harus mengikuti ‘jalan’ suaminya. Selalu begitukah?

Menikah lintas harokah, konon menjadi catatan tersendiri bagi masing-masing jama’ah.

Yang satu merasa kecolongan kader, sementara yang lain merasa bertambah jama’ahnya. Benarkah?

Bukan berarti pula menikah dengan seseorang dalam satu harokah hidupnya akan dipenuhi bunga-bunga. Ada konsekuensi untuk mendapatkan sesuatu yang diyakini sebagai cinta. Konsekuensi yang muncul bahkan sejak memutuskan memilih caranya, bukan tujuan akhirnya.

***

Bagaimana dengan perkara jodoh? Perkara yang tercatat bahkan sebelum kita menyentuh bumi.

Jauh sebelum kita menemukan diri sebagai bagian dari suatu harokah yang penuh rambu-rambu. Bahkan, persoalan calon pasangan sekali pun. Takdir yang akan menemukan kita pada satu titik ikhtiar dan doa. Siapa yang menduga bahwa Allah kelak mempertemukan kita dengan seseorang dari harokah lain? Setiap orang boleh berusaha. Setiap jama’ah boleh mengusahakan.  Perkara proses, bagaimanapun jalannya, orang tua maupun jamaah, tetaplah pada jalan yang syar’i. Namun, bukankah jodoh di tangan Tuhan?

***

… Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,

maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,

pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:

selamanya memberi yang bisa kita berikan,

selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai…

(M.Anis Matta)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ochikohumaira
Ibu rumah tangga bahagia
  • Jum’atil Fajar

    Saya termasuk orang yang sering mengkampanyekan bahwa kita harusnya merasa bangga bisa mencetak para akhwat yang baik, yang layak mendapatkan laki-laki yang baik, meskipun dari harakah yang berbeda.

    Orang dari harakah lain pun tentu akan senang memiliki istri yang patuh kepada suami. Kepatuhan istri kepada suami tentu akan membuat suami berusaha untuk menyenangkan hati istrinya. Kalau istrinya pintar maka hal itu bisa membuka jalan baginya untuk tetap aktif di jalan dakwah !

Lihat Juga

Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

Jika Allah Telah Memilihkan Jodohmu..

Organization