Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menaklukkan Fatamorgana Kemegahan

Menaklukkan Fatamorgana Kemegahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (flickr.com/photos/missagentcooper)
Ilustrasi. (flickr.com/photos/missagentcooper)

dakwatuna.com – Jika kita berbicara mengenai bermegah-megahan, maka akan kita temukan hal-hal yang berkaitan dengan popularitas, harta berlimpah, tahta, hingga wanita. Semuanya bersifat semu dan sementara. Sehingga, layak jika penyebutannya dikategorikan dalam padanan kata ‘fatamorgana’. Karena kemegahan itu sifatnya semu. Lebih dekat kepada kelalaian, dibandingkan membangkitkan motivasi kerja. Kemegahan memang identik dengan hal-hal yang bersifat zahir (terlihat) saja. Sehingga, hipotesa singkat ini dirasa masuk akal untuk menjawab alasan mengapa kemegahan itu harus ditaklukkan. Agar kita menjadi insan yang berdaya, dan tidak bisa diperdayakan.

Mari kita amati kisah Qarun dalam al-Qur’an surat al-Qashash ayat 78-80:

Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya, dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Tetapi, orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, ”Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh orang-orang yang sabar.”

Dari kisah Qarun tersebut, sangat jelas digambarkan bagaimana bermegah-megahan cenderung membuat manusia sombong dan serakah. Karena sifat dasarnya yang memanjakan hawa nafsu manusia, seringkali bermegah-megahan menutup akal sehat keimanan. Pada titik inilah, orang mukmin dituntut untuk menaklukannya. Mempersempit ruang-ruang tipu daya, dan  memperbesar ruang-ruang keridhaan-Nya melalui amal-amal shalih. Karena jelas, pada ayat 80, bahwa orang berilmu yang bersabarlah yang dapat menaklukkan fatamorgana kemegahan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Dunia Sangat Menakjubkan, Tetapi Ada yang Lebih Lagi…