Home / Pemuda / Essay / Postingan di Socmed, Baik atau Riya’?

Postingan di Socmed, Baik atau Riya’?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)

dakwatuna.com – Postingan foto-foto dan kegiatan-kegiatanku di socmed, baik  atau enggak yah?

Akhir-akhir ini, kisah Raeni banyak bermunculan di berbagai media. Baik televisi, koran hingga social media. Dengan berita itu, sebagai seorang yang juga pengejar mimpi, aku termotivasi untuk tak menyerah oleh keadaan. Sebagai seorang guru, aku terinspirasi agar tak pernah berhenti menyulut semangat anak-anakku untuk terus bermimpi. Sebagai anak Indonesia, aku berharap anak-anak lainnya ikut termotivasi dari kisah Raeni. Semua ini adalah atas bantuan media.

Ada tokoh dan ada media. Berbicara tentang tokoh, aku yakin banyak anak-anak Indonesia hebat lainnya yang layak menginspirasi. Tapi, dengan diangkatnya kisah Raeni yang seorang anak tukang becak, penerima beasiswa Bidikmisi, lulus sebagai mahasiswa terbaik serta mendapatkan beasiswa Presiden untuk S2 ke universitas manapun yang ia pilih, adalah sebuah motivasi dan inspirasi yang luar biasa bagiku dan anak-anak bangsa lainnya.

Berbicara tentang media, mengingatkanku tentang diskusi beberapa bulan lalu bersama rekan-rekan guru. Apakah dengan mengunduh kegiatan-kegiatan beserta foto-foto aktivitas kesukarelawanan kita di social media (socmed) adalah hal yang baik? Takut riya? Tapi, sayang juga kalau tidak diunduh dan disimpan sendiri. Padahal seharusnya, dunia mengetahuinya agar mereka terinspirasi. Seorang rekan memilih berpendapat, bahwa itu adalah riya. Beberapa mengatakan, tergantung niat. Yang lainnya memilih untuk tetap rajin mengunduh dan memberitakan aktivitasnya sebagai upaya menginspirasi yang lain agar turut andil atau tergerak hatinya.

Hal ini sangat penting untuk ditelaah kembali sebelum memutuskan alasan kenapa rajin mengunduh foto atau mengabarkan kegiatan melalui socmed. Tak bisa dipungkiri, bahwa socmed sudah lebih dari sekedar tren. Melainkan kebutuhan bagi sebagian besar kita. Di beranda, setiap saat kita dapat melihat postingan terbaru. Baik berupa foto, kata-kata motivasi, share berita, hingga sekedar status alay.

Saya tidak akan membahas tentang yang saya sebutkan terakhir, karena itu sudah jelas lebih banyak mudharat daripada faedahnya. Tetapi, mengenai postingan hal-hal baik yang bisa jadi bermakna ganda. Baik, jika tujuannya untuk menginspirasi atau dakwah. Buruk, jika tujuannya untuk riya. Maka, kembali lagi pada niat. Urusan mengenai yang menerima informasi itu memaknainya baik atau buruk, juga dikembalikan kepada diri mereka masing-masing. Jika huznudhan, segalanya akan lebih baik.

Aku terinspirasi untuk mengulas hal ini karena sangat banyak hal yang pernah, sedang bahkan akan kulakukan karena terinspirasi dari orang lain yang menurutku luar biasa. Ketika itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Hari Ahad pagi, aku sedang asyik mengerjakan PR di depan televisi, mengabaikan ribut suara siaran berita yang sengaja kuputar tanpa penonton. Sampai aku mendengar reporter menyebutkan, “Seorang perempuan dengan berani tinggal dan mengajar untuk anak-anak rimba.” Gerak tanganku yang menggurat pulpen di atas kertas terhenti. Itulah kali pertama tertanam mimpi di dadaku, aku ingin menjadi guru.

Berita pada pagi itu menayangkan liputan aktivitas Butet Manurung yang telah mengabdikan empat tahun hidupnya untuk mengajar di suku Anak Dalam. Bagiku, kak Butet adalah sosok heroik yang menginspirasi. Darinya aku belajar tentang keberanian, kepedulian dan petualangan. Sejak saat itu, aku menyimpan impian untuk bertemu dengannya pada suatu hari nanti serta berbuat seperti yang telah dilakukannya. Impian yang pertama untuk bertemu dengannya, Alhamdulillah sudah terwujud melalui sebuah pertemuan sesama guru Sokolo Pesisir Makassar. Sedangkan yang kedua, aku sedang merangkainya. Tidak harus dengan cara yang sama persis, tapi bermanfaat sama besar bahkan lebih besar.

Memang, tak semua orang bisa menanggapi dengan cara yang sama pada apa yang ditebar orang lain. Sekali lagi, kembalikan pada niat kita. Hal kecil yang kita perbuat bisa jadi bermakna besar bagi yang lain. Indonesia masih membutuhkan banyak inspirasi untuk bergerak. Pun, masih belum kehabisan inspirator yang dapat menebar manfaatnya agar semakin banyak yang mau bergerak. Jika dengan socmed adalah cara termudah dan termurah, menginspirasilah melalui itu saja.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial

Organization