Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Soft Skill, Kunci Sukses Dunia dan Akhirat

Soft Skill, Kunci Sukses Dunia dan Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Banyak orang berbicara tentang soft skill. Dunia pendidikan juga menggalakkan segala upaya untuk membangun soft skill peserta didik. Kepintaran menjawab soal ujian, katanya, tidak lagi menjamin sukses di masa depan. Itu hard skill. Yang lebih diperlukan saat ini ialah soft skill. Tanpa soft skill, mereka yang sudah tamat pendidikan sekali pun, dianggap rapuh menghalau gelombang zaman.

Soft skill adalah kecakapan halus yang tidak kasat mata. Letaknya, di bagian dalam diri manusia. Keterampilan memperoleh nilai tinggi dan berbagai prestasi di ajang lomba, itu sekadar hard skill. Kalau mampu menata emosi, memotivasi diri, merawat semangat, mencari kawan, membangun kerja sama, menghidupkan ibadah, itu yang dinamakan soft skill.

Modal soft skill dirasa prospektif mengantarkan orang meraih sukses. Tetapi, membangun pribadi demikian, sungguh tidak gampang. Soft skill tidak cukup dipidatokan. Apalagi sekadar diberikan dalam bentuk soal-soal ujian. Dibutuhkan latihan secara berulang-ulang. Tentu saja, yang terpenting ialah keteladanan dari lingkungan. Tanpa itu, menumbuhkan soft skill hanyalah impian.

Tidak terhitung kisah sukses dari pribadi-pribadi yang memiliki soft skill itu. Banyak pakar bergelar profesor yang mulanya bukan seorang cerdas. Ketika di sekolah, dia bahkan bukan tergolong murid berprestasi. Rankingnya di kelas biasa-biasa saja. Tetapi, dia memiliki keuletan luar biasa. Gairah kencintaanya terhadap ilmu membuncah. Tiada hari berlalu tanpa aktivitas membaca dan menulis. Juga, sangat disiplin dalam memanfaatkan waktu. Dia memiliki soft skill.

Tidak sedikit pula jutawan yang bukan keturunan hartawan. Hidupnya sejak kecil, boleh jadi, selalu dalam kondisi serba kurang. Jangankan gelar formal, bahkan pendidikannya kalah di banding teman-teman. Tetapi, dia memiliki semangat juang tanpa kenal patah arang. Hidupnya jauh dari ratapan. Namun selalu menyongsong tantangan. Saat hendak mengukir harapan, tidak pernah berpikir “Nanti bagaimana?”, tetapi selalu mantap berucap “Bagaimana nanti!”. Dia memiliki soft skill.

Itulah kedahsyatan soft skill. Wajar jika hakikat agama sendiri tidak terletak pada aspek seremoni ritual. Ragam ibadah sejatinya sarana untuk mengasah kepribadian. Karena itu, Allah jelas berkalam, manusia paling mulia adalah yang paling bertakwa. Takwa itu soft skill. Letaknya jelas bukan pada sisi luar diri manusia. Dengan demikian, selendang surban, gelang tasbih, kalung sajadah, mahkota kopiah, bedak dahi hitam, busana cingkrang, lisan al-Qur’an, belum tentu jaminan ketakwaan.

Takwa letaknya di dalam dada manusia. Ingatlah kalimat hikmah, keindahan bukan dari pakaian yang menghiasi badan, melainkan dari ilmu dan akhlak. Akhlak adalah soft skill. Akhlak juga tidak bisa diukur dari standar-standar serba fisik. Seperti busana mahal, rumah megah, kendaraan mewah, jabatan mentereng, pendidikan tinggi, dan semacamnya. Keluhuran akhlak tercermin dalam ucap dan sikap yang merupakan pantulan suasana hati dan jiwa manusia bersangkutan.

Tuhan tidak memandang mulia segala atribut fisik. Tanpa soft skill berupa kedalaman akhlak, pasti banyak mudharatnya. Rupa menawan hanya sarana untuk menjerumuskan. Ilmu tinggi hanya sarana untuk mengintimidasi. Jabatan mentereng hanya sarana untuk mengenyahkan. Harta melimpah ruah hanya sarana untuk menista. Jaringan luas hanya sarana untuk meruntuhkan.

Manusia itu makhluk jasmani dan rohani. Jika demikian, modal hard skill yang berpadu dengan soft skill, itulah yang mengantarkannya pada puncak kesadaran, bahwa:

Kualitas takwa akan teruji ketika sedang sepi dan sendiri. Kualitas iman akan teruji ketika sedang cemas dan berharap. Kualitas ikhlas akan teruji ketika sedang berjasa dan kecewa. Kualitas jujur akan teruji ketika sedang susah dan berusaha. Kualitas sabar akan teruji ketika sedang sakit dan kehilangan. Kualitas peduli akan teruji ketika sedang kere dan melarat. Kualitas juang akan teruji ketika sedang berat dan dinista. Kualitas sederhana akan teruji ketika sedang kaya dan berjaya. Kualitas ilmu akan teruji ketika sedang beda dan memutuskan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Husnaini
Pendidik dan Penulis Tinggal di Kota Soto Lamongan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Mencari Buah Ilmu