Home / Berita / Opini / Pemimpin, Tapi Tidak Memimpin?

Pemimpin, Tapi Tidak Memimpin?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

Krisis Kepemimpinan Nasional

Krisis kepemimpinan nasional, itulah yang mungkin sedang dialami bangsa ini. Lihatlah beberapa dekade terakhir, rezim berganti rezim, kekuasaan berganti dari tangan yang satu ke tangan yang lain, tapi hingga kini belum mampu membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Kita masih terpuruk berada di baris terbelakang dalam setiap opsi, tidak dilirik, tidak dianggap dan tidak dihormati.

Bangsa kita masih saja berkutat dengan persoalan-persoalan yang sama, korupsi tetap menjadi warisan rezim-rezim terdahulu. Masalah-masalah sosial; kemiskinan, pendidikan, pengangguran, kriminalitas, dekadensi moral juga hingga kini belum bisa ditemukan titik cerahnya. Pertanyaannya, ke mana para pakar-pakar ekonom yang jenius itu? Ke mana agamawan dan budayawan? Ke mana pakar hukum? Ke mana para intelektual-intelektual bangsa ini? Mengapa mereka-mereka hingga kini belum bisa menemukan solusi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan bangsa?.

Kemiskinan dan korupsi. Dua warisan masa lalu yang hingga kini belum juga bisa ditemukan titik hitamnya. Pengentasan kemiskinan dan perlawanan terhadap korupsi hanya wacana atau jualan politik untuk mendulang suara menjelang Pemilihan Umum tiba. Kita masih belum melupakan, ketika para calon pemimpin berkampanye ria dengan lantangnya mengajak masyarakat untuk berani mengatakan tidak untuk korupsi. Tapi, pada kenyataannya, kita lihat nama-nama koruptor justru masih terus menerus berderet panjang hingga kini.

Kekuasaan absolut menjadikan pemimpin-pemimpin seakan menemukan lahan basah untuk digarap. Menjadikan tampuk kepemimpinannya sebagai alat untuk melegitimasi kesewenang-wenangannya. Maka, untuk mengawetkannya, didirikanlah suatu monarki kekuasaan, politik dinasti. Di Beberapa daerah, misalnya, kita dengan gampang menemukan adanya pertalian khusus antara pemimpin ini dan pemimpin itu, antara ketua DPR, kepala dinas, atau jajaran pemimpin-pemimpin lainnya.

Kekuatan dan kekuasaan ini saling bersatu dan bersinergi terus menerus dipertahankan untuk mengamankan posisi-posisi mereka. Itulah yang menyebabkan integritas kepemimpinan di Indonesia ini begitu rendah.

Musim Gugur Pemimpin

Begitulah mungkin kita bisa menyebutnya. Bagaimana tidak, para wakil-wakil kita di parlemen satu persatu berguguran menanggalkan pakaian kebesarannya, menggantinya dengan pakaian-pakaian khusus penghuni hotel prodeo. Bukan hanya di parlemen, pemimpin-pemimpin daerah kita juga mengalami permasalahan yang sama, baik yang telah, sedang dan akan memimpin. Bahkan, parahnya, beberapa dari mereka akan dilantik dari balik jeruji, memulai masa jabatannya dengan status koruptor.

Kepemimpinan selalu memberikan porsi terbesar atas jaya dan hancurnya suatu bangsa. Perhatikan bangsa yang maju, ia adalah bangsa yang dipimpin oleh pemimpin yang siap berdiri bersama rakyatnya. Hugo Chavez dan Evo Morales adalah dua contoh pemimpin yang mampu menasionalisasikan sumber daya alam negerinya yang selama ini dinikmati bangsa lain. Atau, pemimpin-pemimpin Jepang, terutama Perdana Menterinya, yang siap mengundurkan diri dan mungkin berani melakukan harakiri jika di kemudikan hari terindikasi korupsi.  Ada juga Hu Jintao dari cina yang menyiapkan 1.000 peti mati untuk para koruptor dan satu peti mati buat dirinya jika terbukti korupsi.

Bandingkan dengan pemimpin kita selama ini, bahkan ada yang dengan teganya masih sempat-sempatnya dilantik dalam Rutan dengan status tersangka. Kampanye melawan korupsi telah dikibarkan sekian tahun lamanya oleh mereka-mereka yang memimpin negeri ini. Tapi pada kenyataannya, hingga kini, rezim berganti, masa berlalu, kita belum menemukan kedewasaan dalam memimpin. Kita butuh pemimpin. Bukan pemimpi!

2014: Membuka Lembaran Baru Era Kepemimpinan Indonesia

2014 akan menjadi tahun istimewa bagi bangsa ini. Tahun ini sebuah rezim akan segera berganti. Sekali lagi, kita akan menggelar pesta rakyat, memilih pemimpin masa depan. Ada begitu banyak cerita yang telah terangkum dalam perjalanan bangsa ini. Suka duka bersama pemimpin kita selama periode ini seharusnya memberikan kita pemahaman yang semakin baik. 2014 ini harus kita jadikan sebagai titik balik untuk memulai lagi catatan baru perjalanan kita.  Memberikan amanah bangsa ini kepada dia yang kita anggap berani mengambil amanah atas dorongan nurani. Bukan demi kepentingan politik kekuasaan semata. Kita butuh pemimpin yang memiliki agenda masa depan yang jelas. Bukan pemimpin yang mengedepankan ketokohan atau pencitraannya semata.

2014 ini, masihkah kita akan mengulang sejarah? Memberikan kepemimpinan kepada mereka yang tidak siap untuk memimpin? Kenyataannya, selama ini kita selalu terlena. Salah dalam menilai calon-calon pemimpin kita. Kita selalu terbuai janji-janji manis dari mulut berbisa calon pemimpin-pemimpin itu.

Belum pernah ada pemimpin yang benar-benar berjuang atas nama rakyat. Kita selalu kecolongan. Menggantungkan harapan yang begitu tinggi kepada mereka yang nyata-nyata sukses menyengsarakan bangsa ini. Akhirnya, kita menyerahkan masa depan kita, masa depan anak cucu  dan masa depan bangsa ini kepada manusia-manusia dengan integritas rendah yang tega menjual rakyat demi kekuasaan, mengumbar janji-janji palsu, pendusta dan pengkhianat.

Setidaknya kita membutuhkan pemimpin yang memiliki empat kriteria.

Pertama,kita membutuhkan pemimpin yang amanah, yang mampu mentransformasi nilai-nilai amanah kepada orang-orang di sekitarnya. Darinya, lahirlah suatu generasi kepemimpinan yang memiliki tipologi kepemimpinan yang sama. Pemimpin-pemimpin yang amanah inilahyang dengan akan merumuskan arah bangsa ini secara jelas, sederhana dan benar.

Kedua, kita membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan perpecahan dan pertikaian bangsa ini atas semakin hilangnya rasa saling percaya di antara kita.

Ketiga, kita membutuhkan pemimpin yang berilmu pengetahuan. Dengan ilmunya dia terampil dalam menjalankan roda kepemimpinan. Bukan pemimpin yang hanya bisa beretorika, mengeluh atau hanya mementingkan politik pencitraan semata.

Keempat, yang paling utama, kita membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas kepribadian yang tinggi, berakhlak dan beragama. Fondasi inilah yang harus dibangun sebagai dasar untuk menumbuhkan kembali rasa kepercayaan masyarakat kita kepada pemimpin.

Ada begitu banyak hal yang memang harus dibenahi untuk menjadikan bangsa ini sejajar dengan bangsa maju lainnya. Pemilu tahun ini memberikan kesempatan yang luas  kepada masyarakat Indonesia untuk Indonesia lebih baik lagi ke depannya. Semoga.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa tingkat akhir di Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Juga masih tercatat sebagai mahasiswa di Ma'had Abdurrahman bin A'uf, tingkat 2 jurusan bahasa Arab.

Lihat Juga

tangan-kaca-pembesar-kalkulator-invoice-angka

Isu dan Tantangan Kompetensi Auditor Syariah