Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengapa Shalat tak Berbekas?

Mengapa Shalat tak Berbekas?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Republika Online)
Ilustrasi (Republika Online)

dakwatuna.com – “Dan dirikanlah shalat dan bayarkanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkan (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Baqarah: 110)

Shalat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang muslim dan muslimat mukallaf (baligh dan berakal sehat). Kaum muslim dapat berinteraksi dengan Allah Swt melalui shalat. Dalam shalat, seorang muslim dapat khusyuk mengharap dan menghamba kepada Allah Swt, meminta kemudahan dalam menghadapi problema kehidupan sehari-hari.

Bisa jadi, sejak kecil kita sudah dibiasakan oleh orang tua kita untuk mengerjakan shalat. Meski demikian, ada pula yang mengerjakan shalat sebagai rutinitas semata. Mereka melakukannya tanpa menyertakan hati dan pikiran. Bahkan, tak jarang yang melakukan shalat namun tidak paham makna bacaan yang diucapkan. Bukankah ini ironis? Sekian puluh tahun melakukan shalat tanpa mengerti apa yang dilakukan? Na’udzubillahi min dzalik.

Shalat adalah tiang agama, Rasulullah Saw telah bersabda, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya  (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw bersabda, “Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalat. Jika ia baik, baiklah seluruh amalnya, dan jika shalatnya jelek maka jelek pula seluruh amalnya.” (HR. Thabrani, dari Abdullah bin Qurt Ra)

Bahkan, dalam satu hadits lain dikatakan bahwa shalat merupakan batas antara iman dan kafir. Rasulullah Saw bersabda, “Batas antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, dari Jabir Ra)

Ketika shalat sudah ditinggalkan, maka hilanglah keislaman seseorang. Shalat adalah barang terakhir yang akan hilang. Shalat adalah batas seseorang dengan kekafiran.

Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh ikatan agama Islam itu akan terurai satu demi satu. Setiap terurai satu ikatan, orang-orang pun bergantung pada ikatan berikutnya. Maka, yang pertama adalah melanggar hukum dan terakhir adalah shalat.(HR. Ibnu Hibban. Dari Abu Umamah)

Selain itu, shalat merupakan instrumen pencegah manusia dari berbuat kemungkaran. Shalat yang dikerjakan dengan penuh ketundukan dan kekhusyukkan akan mampu menjadi benteng dari segala perbuatan keji dan munkar.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (Qs. al-’Ankabut: 45)

Sebaliknya, shalat yang hanya dilakukan sekedarnya tidak mungkin menjaga pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Shalat merupakan media berkomunikasi dengan Allah, sehingga wajar bila shalat dapat menjadi salah satu wasilah meminta pertolongan. Bahkan, Allah Swt sendiri yang menegaskan, “Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (Qs. al-Baqarah: 45)

Sebagai insan beriman, maka sudah sepantasnya kita menjaga kekhusyukkan dalam mengerjakan shalat. Salah satu balasan bagi orang yang menjaga kekhusyukkan shalat adalah surga Firdaus. “Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,” (Qs. al-Mu’minun: 2) “Serta orang-orang yang memelihara shalat mereka,” (Qs. al-Mu’minun: 9), “(yakni) Yang akan mewarisi (Surga) Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. al-Mu’minun: 11)

Dari shalat, kita juga dapat mengidentifikasi sifat munafik di dalamnya. Bila shalat dikerjakan dengan kemalasan dan riya’ di hadapan manusia atau maksud tersembunyi lainnya. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia.” (Qs. an-Nisa’:142)

Orang-orang yang suka melalaikan shalat akan mendapatkan kecelakaan. “Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang –orang yang lalai terhadap shalatnya.” (Qs. al-Ma’un: 4-5). Dikatakan oleh mufassir, orang yang lalai dalam shalatnya adalah orang yang melalaikan pelaksanaan dan waktu-waktu shalat. Padahal, shalat akan memberikan cahaya, burhan, dan najah.

Telah bersabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa memelihara shalat maka ia akan memeroleh cahaya, burhan, dan kebebasan di Hari Kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, burhan, dan kebebasan, sedang di Hari Kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.”(HR. Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban. Dari Abdullah bin Amru bin Ash Ra)

Dalam firman-Nya yang lain, Allah Swt berfirman, “Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizhalimi (dirugikan) sedikitpun.” (Qs. Maryam: 59-60)

Berkata Ibnul Qayyim, “Orang yang meninggalkan shalat mungkin karena terlalu sibuk mengurus harta, kerajaan , kekuasaan atau perniagaannya. Maka, orang yang bimbang dengan harta, ia akan senasib dengan Qarun. Yang sibuk mengurus kerajaan, ia akan bersama Fir’aun. Siapa yang terpedaya oleh kebesaran dan urusan pemerintahan ia akan berteman dengan Haman. Sedang orang yang bimbang mengurus perniagaan maka ia akan bersama Ubay bin Khalaf.”

Semoga sedikit catatan terkait shalat ini bisa menjadi bahan renungan dan dorongan untuk memperbaikinya. Memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb semesta alam yang hanya kepada-Nyalah kita sandarkan berbagai urusan. Ia Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Wallahu A’alam bish Shawwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Satria Budi Kusuma
Satria Budi Kusuma, atau yang akrab disapa Satria ini tengah dalam proses merampungkan studinya di jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM. Lahir di Klaten, 2 Juni 1992 silam. Anak pertama dari dua bersaudara ini mempunyai hobi membaca, hiking, dan traveling. Sejak SMP telah tertarik di dunia keorganisasian. Mulai dari OSIS, ROHIS, FAROIS, dan hingga sekarang aktif sebagai pengurus harian di BEM Fakultas Peternakan UGM 2013, sebagai Menteri Koordinator bidang Eksternal di samping juga menjadi Kepala bidang HUMAS pada salah satu partai mahasiswa UGM. Aktivitas pergerakan yang diikutinya yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UGM. Baru-baru ini sempat didaulat oleh fakultasnya untuk melakoni program student exchange ke Faculty of Animal Science and Technology, Maejo University, Thailand.
  • Amaq Khangkhunk

    maka shalat lah wahai manusia….

Lihat Juga

Ilustrasi. (orgsc.com)

Hikmah Dzulhijjah