Home / Berita / Opini / Rahasia Kecemerlangan Raeni

Rahasia Kecemerlangan Raeni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Raeni menuju Auditorium Unnes untuk mengikuti wisuda diantar oleh Mugiyono, ayahnya, Selasa (10/6/2014). (Lintang Hakim/Dok Unnes)
Raeni menuju Auditorium Unnes untuk mengikuti wisuda diantar oleh Mugiyono, ayahnya, Selasa (10/6/2014). (Lintang Hakim/Dok Unnes)

dakwatuna.com Kenal Raeni? Wisudawan terbaik UNNES Semarang angkatan II tahun 2014? Raeni yang berita dan fotonya ramai diperbincangkan di dunia maya mulai tanggal 10 Juni 2014, sampai-sampai bapak presiden SBY pun menyempatkan bertemu dengannya. Siapakah Raeni yang menjadi trending topic di dunia maya? Lalu apa istimewanya Raeni? Raeni hanyalah manusia biasa dari keluarga sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa Bidik Misi. Semangat dan usaha yang keras membuatnya lulus dengan IPK 3,96.

Mungkin, selain Raeni banyak juga mahasiswa Bidik Misi atau penerima beasiswa  lainnya yang berprestasi. Tapi ada yang beda pada kasus Raeni ini hingga menyedot perhatian publik sehingga siapapun rame-rame ingin mengunggah beritanya di media sosial. Apakah itu? Kehadiran Raeni di acara wisuda dengan menaiki becak yang dikayuh bapaknya sendiri. Dan foto itu begitu alami, jauh dari kesan ‘pencitraan’. Keduanya, baik Raeni maupun ayahnya tampak senyum sumringah, nyaman, jauh dari kesan malu, apalagi tertekan.

Kenapa harus malu? Mungkin itu jawaban tersirat Raeni yang bisa kita tangkap dari fotonya. Inilah pemandangan “janggal” di era konsumtif, narsis dan  ‘tipu-tipu’. Bayangkan saja, bisikan-bisikan setan yang mungkin memengaruhi diri Raeni ataupun bapaknya sebelum mereka pergi ke tempat wisuda. “Apa gak malu ya berangkat ke tempat wisuda dengan mengendarai becak? Mbok naik angkot aja atau taxi biar keren dikit gitu!

Ya, kita semua tahu. Di zaman ini, orang sibuk dengan pencitraan. Agar terlihat keren, gaya, hebat, super dll. Maka, semua orang seperti “lupa kacang akan kulitnya”. Perlu bukti? Sebentar lagi Idul Fithri, kan? Sebentar lagi juga kita akan menyaksikan fenomena pamer, tebar pesona, yang intinya menutupi kekurangan dengan bungkus kepalsuan. Ibu-ibu rame-rame membeli perhiasan emas walau modal meminjam atau menggadaikan barang. Lepas lebaran dijual lagi. Bapak-bapak yang punya duit agak banyak, nyicil mobil. Nanti habis lebaran, kalau gak sanggup membayar, dijual lagi. Yang gak sanggup membeli, rental. Tapi, di kampung halaman tidak jujur mengatakan, “Ini mobil rental lho.”

Maka, pengakuan Raeni selama ini kepada teman-temannya bahwa bapaknya tukang becak, ibarat oase di tengah padang pasir. Bayangkan saja, di zaman dulu saja sudah kita kenal kisah Malin Kundang, anak durhaka yang malu dengan penampilan fisik ibunya yang kumuh dan miskin. Apalagi di zaman kini, di era keterbukaan informasi, sering kita dengar berita dan cerita anak yang malu dengan kondisi riil rumahnya. Kondisi fisik ayahnya atau ibunya (yang cacat atau yang miskin), pekerjaan ayahnya atau ibunya (pemulung, buruh, kuli, tukang cuci, pembantu). Dan mereka semua lari dari kenyataan. Malu mengenalkan siapa orang tuanya; malu kalau teman-teman mengetahui rumahnya, apalagi sampai main ke rumahnya; malu kalau orang tuanya datang ke sekolah; malu jalan bareng dengan orang tuanya, dll.

Kerendahhatian Raeni pun berbanding lurus dengan sikap santun dan hormatnya kepada ayahnya. Walau Raeni sarjana, sementara bapaknya bukan sarjana, dia tidak menunjukkan kepongahan apalagi merasa lebih pintar dari ayahnya. Subhanallah! Kita saksikan anak-anak masa kini yang belum sarjana pun sudah berani membentak orang tuanya, menyuruh orang tua, bahkan melawan orang tua. Lalu, bagaimana kalau mereka nanti sudah lebih tinggi pendidikannya dibanding orang tuanya? Maka, tak usah heran kalau kita mendengar ada anak yang ‘membuang ‘ orang tuanya, tak hirau dengan masa ardzalil umur /pikun orang tuanya, bahkan (lebih parah lagi) cepat mengharap kematian orang tuanya karena ingin harta warisannya.

Mari kita renungkan firman Allah berikut, QS. al-Hadid [57]: 20, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”

Agar kita tidak tersesat di dunia permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, mari kita bercermin kepada “manusia langit”, Uwais al-Qarny.

Siapa Uwais al-Qarny? Kenapa disebut manusia langit? Uwais tinggal di daerah Qaran, Yaman. Dia hanyalah anak yatim yang tinggal berdua bersama ibunya yang tua renta dan lumpuh. Profesinya hanyalah penggembala kambing. Walau miskin harta, tapi Uwais kaya hatinya. Dia tekun merawat ibunya, dan malam-malamnya dia habiskan dengan munajat kepada Allah SWT.

Ketika para tetangga sudah ada yang pergi dari Yaman bertemu dengan Rasulullah SAW di Madinah, timbul kerinduan di hatinya untuk menghadap kepada Rasul. Tapi bagaimana dengan ibunya? Itulah yang selalu menggelayuti pikirannya. Sampai akhirnya, ketika kerinduan kepada Rasul sudah membuncah, dia tak kuasa untuk menyampaikan isi hatinya kepada ibunya. Ternyata, ibunya mengizinkannya pergi tapi dengan syarat cepat kembali. Uwais pun pergi setelah menitipkan ibunya kepada tetangganya. Sampai di Madinah, sayangnya Rasul sedang berperang jauh di luar kota Madinah. Uwais diminta menunggu kedatangan Rasul. Tapi, Uwais teringat pesan ibunya agar segera pulang. Akhirnya, Uwais pun pulang walau tidak bertemu Rasul.

Ketika Rasul pulang, Rasul menyampaikan kepada para sahabat tentang siapa Uwais al-Qarny, dan apa ciri-cirinya. Lalu beliau memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab dan bersabda, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Ibu Uwais sangat ingin menunaikan haji. Uwais pun ingin mengantarkannya tapi yang harus dipersiapkannya bukan hanya bekal di perjalanan dan selama menunaikan ibadah haji. Ada yang lebih berat bagi Uwais, yakni kesiapan fisik dia menggendong ibunya pergi pulang dari Yaman ke Mekkah. Maka Uwais pun membeli anak sapi sekitar 20 kg, disimpannya di kandang di atas bukit. Setiap pagi, dia membopong sapi itu ke tempat dia menggembala kambing, dan sorenya dia membopong lagi ke atas bukit. Begitu setiap hari, sampai-sampai tetangga dan orang-orang yang melihatnya mengira dia tidak waras. Ketika sapi itu bobotnya sudah 100 kg, dan Uwais sudah terlatih memikul beban, maka berangkatlah dia membawa ibunya berhaji. Ibunya kurang lebih 50 kg digendong terus. Ditambah perbekalan mereka berdua sekitar 50 kg yang harus dia pikul seorang diri.

Inilah sang manusia langit yang tidak terkenal di bumi, tapi menjadi perbincangan para malaikat di langit. Maka wajarlah, doanya makbul. Uwais hanyalah orang biasa-biasa saja yang tampil apa adanya, senantiasa merendah, tapi kuat hubungannya dengan Allah SWT. Mungkin, di mata manusia yang mengenalnya, Uwais tidak berarti apa-apa. Tapi, bagi makhluk langit, dia luar biasa.

Maka, saksikanlah ketika Uwais wafat. Berbondong-bondong manusia yang tidak dikenali para tetangganya datang. Sewaktu jenazah akan dimandikan, sudah banyak orang yang siap memandikan. Sewaktu mau dikafani, sudah menunggu banyak orang yang siap mengkafani. Ketika jenazah mau digotong ke pemakaman, orang-orang sudah siap menggotong.

Begitupun di pemakaman, kuburan Uwais sudah ramai orang yang menggali. Barulah para tetangga keheranan. Ada apa dengan Uwais? Siapakah Uwais sebenarnya? Karena Uwais yang mereka kenal selama ini bukan pembesar, tokoh atau orang hebat. Dia hanyalah penggembala kambing yang miskin bahkan pernah mereka sebut kurang waras.

Peristiwa pengurusan jenazah Uwais ini sampai menggemparkan seluruh penduduk kota Yaman. Semua orang ramai membicarakannya. Mereka ingin mengenal Uwais, sayangnya Uwais sudah tidak ada. Lalu siapakah orang-orang yang datang mengurus jenzahnya? Mereka adalah para malaikat Allah.

Begitulah Uwais sang teladan. Dan Raeni, wisudawati terbaik di UNNES itu, telah memberikan keteladan kepada kita tentang sebuah makna birrul walidain. Jika kemudian diri bertanya apa yang menjadi rahasia kehebatan Raeni, maka salah satu sebabnya, bahwa Raeni adalah sosok yang gemar menghatamkan al-Qur’an satu juz setiap harinya. Bagaimana dengan kita?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Neneng Amiarti
Ibu dari 2 remaja putri. Pegiat dakwah, kabid dakwah dan pendidikan PW SALIMAH Jabar.

Lihat Juga

Nasihat Lukman Kepada Putranya yang Patut Diteladani