Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengenal dan Menyenangi Keputusan Allah

Mengenal dan Menyenangi Keputusan Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cipto.net)
Ilustrasi (cipto.net)

dakwatuna.com – Seringkali aku, kamu dan kita menginginkan, namun tidak mendapatkannya. Contoh konkritnya adalah menyukai lawan jenis sampai terkagum-kagum, melihatnya secara diam-diam, mengejarnya, namun tidak jadi menikah. Ingin supaya tidak mendapat musibah karena merasa hidupnya sudah hancur yang sebenarnya tanpa disadarinya ujian itu berubah menjadi suatu kebaikan; mati-matian, berkorban banyak hal atau menghalalkan segala cara bahkan dengan cara yang kurang baik dalam menggapai dan mewujudkan impiannya.

Padahal, semua itu belum tentu baik menurut Allah. Semua yang terjadi adalah sudah Qadha dan Qadar. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 216 yang artinya, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan, boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”

Lalu, ada pertanyaan menggelitik yang muncul, baik yang seperti apa? Nah, ini dijelaskan dalam surat an-Nisa ayat 19, “Jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah. Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak kepadanya”.

Terus, kalau ada musibah, misalnya ada yang meninggal, bagaimana enaknya? Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berujar, “Aku mendengar Rasulullah SAW Bersabda ‘Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya, kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik.’” Ummu Salamah berujar, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya, ‘Siapa di antara seorang mukmin yang lebih baik dari Abu Salamah?’ Kemudian aku mengucapkan doa tersebut, lalu Allah menggantikannya dengan Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah dengan menimpakan musibah yang berbagai macam sebagai cobaan dalam hidup. Dengannya itu, Allah menuntun mereka menuju kesempurnaan diri dan derajatnya yang naik dan nikmat. Jadi, yakinlah, setiap sesuatu, jika luput darinya, pasti ada penggantinya.

 

Sumber: 50 Kaidah Kehidupan dalam al-Quran. Jakarta: Darus Sunnah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Biasa dipanggil dengan Tyas.

Lihat Juga

Archandra Tahar

Archandra: Kalau Allah Sudah Berkehendak, Kun Faya Kun