Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhan Sebagai Riyadhah Menghadapi Tantangan Dakwah

Ramadhan Sebagai Riyadhah Menghadapi Tantangan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dakwah ini dan tantangan yang mesti dihadapi, seringkali beratnya di luar kemampuan kita. Silih berganti terus menimpa. Bahkan, tanpa sempat kita mengerti. Tak sepantasnya jika kita mengandalkan kekuatan diri semata.

Dari suatu tatsqif menyambut Ramadhan, saya mendapatkan sebuah pesan untuk menjadikan momen Ramadhan ini sebagai upaya melatih diri (riyadhah). Apalagi disaat umat dan upaya dakwah ini sedang dalam kondisi yang berat. Tantangan yang dihadapinya sungguh luar biasa.

Dakwah ini, semestinya tidak mengandalkan usaha lahir saja. Tak hanya mengajak dan mencegah, menyampaikan nasehat kepada orang-orang atau menggalang kekuatan semata. Semestinya, usaha tersebut dilakukan tanpa mengesampingkan upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Agar menjadi sarana untuk meraih pertolongan-Nya, menutup kelemahan dan kekurangan yang masih kita miliki.

Cita tentang perbaikan umat, semestinya dibarengi dengan upaya meningkatkan keshalihan diri. Seringkali kita mengusung dakwah kepada manusia, sedang diri kita banyak melalaikannya.

Di bulan yang penuh rahmat, rasanya kita dimudahkan melakukan jama’ah, shalat malam, puasa, tilawah, sedekah dan berbagai amal ibadah yang lain. Namun, persoalannya adalah agar bagaimana tetap bisa istiqomah di bulan-bulan selanjutnya, menjaga kontinuitas atas latihan yang telah dilakukan dalam satu bulan tersebut. Menjaga kebiasaan-kebiasaan baik tersebut agar tetap terjaga seusai Ramadhan.

Agar semua itu menjadi riyadhah, mendekatkan diri kepada-Nya. Menjadi bekal menapaki jalan dakwah ini. Agar dikuatkan menghadapi berbagai tantangan yang menghadang.

Dakwah ini, kemudahan dan kesulitannya, kegagalan dan keberhasilannya, tak begitu saja diberikan oleh Sang Pemilik. Kelalaian dan kekurangan, membuat anugerah itu memang belum layak diberikan. Kita memang belum pantas menyandang predikat mulia tersebut.

Namun, tantangan yang menghadang juga tak selayaknya membuat diri berkecil hati. Dakwah ini bukan untuk kepentingan pribadi atau duniawi semata. Sehingga selayaknya, kita mengembalikan semua persoalan kepada-Nya. Kita meyakini semuanya di bawah kehendak dan ketetapan dan kekuasaan-Nya. Kita hanya berupaya.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. al-Anfal: 63)

Kelemahan ini, semestinya menumbuhkan kerendahan hati dan kepasrahan kepada-Nya. Kesulitan ini, semestinya menumbuhkan kebersamaan. Agar dimudahkan dalam memperbaiki diri  dan menuntun kebaikan bagi umat. Sebuah cita untuk merengkuh kebersamaan dalam naungan-Nya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers