Home / Berita / Daerah / Kisah Guru Muslimah di Raja Ampat, Mengjar Enam Kelas dalam Sehari

Kisah Guru Muslimah di Raja Ampat, Mengjar Enam Kelas dalam Sehari

Murid-murid Sekolah Dasar di Raja Ampat (ilustrasi).  (dyahpamelablog.worldpress.com)
Murid-murid Sekolah Dasar di Raja Ampat (ilustrasi). (dyahpamelablog.worldpress.com)

dakwatuna.com – Raja Ampat. Setiap harii, Atika Lestaluhu harus bersiap untuk pindah dari satu kelas ke kelas lain di Sekolah Dasar Negeri 19 Kampung Harapan Jaya Kepulauan Misool, Raja Ampat. Guru honorer ini mengatakan sudah terbiasa mengajar secara berbarengan untuk kelas satu hingga kelas enam. “Tidak susah,” katanya kepada Tempo di Kampung Harapan Jaya, Kepulauan Misool, Raja Ampat Papua Barat pada 10 Juni 2014.

Menurut perempuan kelahiran Ambon 28 Mei 1970 ini, hanya terdapat empat guru di sekolah tempat ia bekerja. Ada dua perempuan dan dua pria, termasuk salah satunya adalah sang kepala sekolah. Sebagian guru masih harus merampungkan jenjang pendidikannya di Kota Sorong yang berjarak empat jam 4 jam dari Kampung Harapan Jaya. Mereka berangkat dengan kapal cepat, termasuk juga Atika. Berbeda dengan guru yang lain yang ke Sorong, Atika memilih belajar di jurusan Tarbiyah di UIN Alauddin Makassar. Sehingga sekolah kerap mengalami kekosongan guru.

Bila tiga guru harus pergi ke Sorong, guru yang tersisa harus bergantian mengajar murid dari kelas satu hingga kelas enam sekaligus. Jurus terjitunya adalah bergantian mengajar. Memang, jumlah murid satu kelas sekolah itu tidak banyak, antara 5 hingga 15 orang.” Tapi tetap susah mengajar kelas satu, karena meraka yang paling bising,” kata wanita yang sudah 3 tahun menetap di kampung itu.

Triknya adalah, pertama, ia akan mengajar di sebuah kelas. Tak berapa lama, ia pun memberi tugas di kelas itu untuk dikerjakan dan berpindah ke kelas lain. Kemudian, ia beri tugas lagi di kelas kedua, dan berpindah mengajar ke kelas berikutnya. Anak kelas 1 hingga kelas 4 memiliki kelas sendiri, tapi kalau kelas 5 dan 6, kelasnya di gabung. “Karena mereka sudah besar, jadi tidak terlalu ribut seperti kelas 1 dan 2,” kata wanita yang memakai kerudung dengan banyak sobekan itu.

Untuk mengurangi kebisingan saat mengajar, ibu delapan anak ini sengaja memulangkan anak murid kelas 1 dan 2 pada pukul sepuluh pagi. “Agar anak-anak kelas atas bisa diajar lebih banyak,” kata guru yang mengajar semua mata pelajaran termasuk pendidikan kesehatan jasmani dan muatan lokal bahasa daerah setempat itu.

Walau dengan segala keterbatasan, guru berhonor Rp 750 ribu perbulan itu mengaku senang mengajar anak-anak muridnya. “Yang penting kan anak-anak mendapat pendidikan yang baik. Kalau di sini kan pendidikan susah, guru saja susah di sini,” kata Atika yang berharap segera diangkat menjadi salah satu guru tetap di sekolahnya itu. (tempo/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Mengantar ke Sekolah dan PLS untuk Apa?