Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Balik Makna Dakwah

Di Balik Makna Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dalam sebuah waktu mencoba untuk berfikir, benarkan yang kulakukan ini? Cacian, makian, hujatan yang sering kuterima seakan menjadi sebuah ombak di pantai yang selalu menyerang daratan. Ia kadang kuat, pun terkadang lemah. Ini tentang sebuah makna seruan. Sebuah kata yang penuh makna. Namun, yakinlah kau, tak akan pernah mampu mengartikannya tanpa berada di dalamnya.

Ingin sekali berucap syukur yang berlimpah, terhadap al-Qudwah al-Murabbiah al-Qiyadah al-Uswah sang Rasulullah, Muhammad Saw. Membayangkan seperti apa beliau berdakwah, menerobos setiap kezaliman, menegakkan setiap seruan dan menahan setiap godaan.

Baru tersadar setelah berada di sini. Mengapa seruan ini selalu mendapat pertentangan? Kenapa dahulu Nabi Muhammad selalu di sebut penipu, pembual dan penyihir? Semua akan terasa ketika sudah menjalankan, betapa terstrukturnya aliran dakwah ini. Sebuah perjalanan panjang yang tak kenal lelah.

Dakwah itu,

Ia sakit tapi menyehatkan.

Ia panas tapi mendinginkan.

Ia keras tapi melembutkan.

Ia berat tapi meringkan.

Karena itulah, kalimat seruan ini yang ingin selalu kusampaikan, lewat berjuta kata yang tercucur dari Sang Khalik. Walaupun, selalu kalian berkata, “Ah, omong doang!” Namun, begitu lebih baik, ruangan cercaan dan makian itu yang harus selalu ada dalam perjalanan ini. Agar seruan ini bukan hanya untuk para dai saja. Namun, seruan ini juga untuk semua saudara seiman. Karena memang, sebuah seruan harus diucapkan dan disampaikan, bukan hanya dinikmati pribadi.

Memang seperti itu. Bukan karena seruan ini sehingga hanya berdiam diri tanpa bergerak. Sejatinya, dalam hati yang paling dalam, justru takut ketika gerak kami kau lihat. Ketakutan akan sebuah keikhalasan yang akan semakin terkikis. Atau, bahkan orientasi gerak yang hanya karena manusia saja. Sungguh, keinginan besar dalam hati ini, agar semua gerak hanya Sang Pencipta yang tahu. Agar kesombongan dalam hati ini mudah teratasi. Agar balasan atas apa yang kami perbuat hanya dari Sang Maha Pembalas.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ustadz Ruslan Effendi (kiri) bersama Ustadz RahmatAbdullah (kanan). (IST)

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia