Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Maunya Istri

Maunya Istri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: islam-today.ru)
Ilustrasi. (Foto: islam-today.ru)

dakwatuna.com – Suamiku, pernikahan ini membelajarkan saya pada kaidah yang tak akan pernah selesai dalam usia  kita, belajar. Belajar apa saja, belajar segalanya. Belajar memahami segala yang terjadi dalam rumah tangga kita. Proses ini kemudian mengantarkan saya pada ide-ide yang berbeda antara keinginan saya sebagai istri saat belum menikah dan keinginan saya sekarang sebagai istri yang sesungguhnya.

Maunya saya, engkau menjadi seorang imam bagi keluarga yang shalih. Mengarahkan dan mendidik istri agar senantiasa dalam kebaikan. Mengingatkan hal-hal remeh yang sering saya lalaikan meskipun berjuta kali saya ngeyel. Menjadi imam dalam shalat malam yang menenangkan, membaca ma’tsurat yang mendamaikan, memberikan semangat untuk terus belajar dan kajian saat hati futur.

Maunya saya, engkau menjadi seorang kepala rumah tangga yang tangguh. Bertanggungjawab terhadap keluarga dengan memberikan nafkah yang halal saja. Betapapun kemilaunya dunia, ingin saya, keberkahan selalu menjadi landasan yang kita tuju. Betapapun sempitnya situasi, maunya saya, engkau tak pernah berputus asa dari rahmatnya Allah dan memilih jalan yang salah.

Maunya saya, engkau menjadi seorang ayah yang baik bagi anak-anak. Mengakrabi mereka dengan kasih sayang dan ketegasan. Membersamai dalam mendidik anak-anak menjadi keluarga penjaga kalam Allah.

Maunya saya, engkau menjadi bagian dari keluarga besar kita. Semakin berbakti pada orang tua dan mengajurkan saya hal serupa. Menjaga silaturahim dengan sanak saudara, memudahkan urusan satu sama lain dan melapangkan hati atas kesalahan saudara.

Maunya saya, engkau menjadi seorang sahabat yang selalu mengerti istri. Mau mendengarkan seribu satu kecerewetan, dalam bercerita, saat menegur, atau sekedar bertanya ini itu mengganggumu. Memberikan pelukan hangat saat istri sedih dan khawatir seraya menenangkan perasaannya yang kacau.

Maunya saya, engkau menjadi seorang suami yang mendamaikan. Meluluhkan hati yang beku karena resah dengan senyum dan candamu yang riang. Mendinginkan cemburu yang mendidih dengan rayuan gombal yang menyenangkan. Menjadi tempat bersandar yang nyaman saat hati lelah setelah mengarungi badai di antara kita.

Maunya saya, engkau menjadikan saya seorang istri yang shalihah. Senantiasa taat pada Allah dan Rasul-Nya. Menjadi penyejuk bagi mata, penenang bagi hati dan penajam fikiran. Engkau menjadikan saya ibu terbaik bagi anak-anak kita, madrasah pertama dan utama. Engkau menjadikan saya sebagai perempuan istimewa sepanjang hidupmu.

Suamiku, meskipun kau sering protes karena kemauan ini-itu, ini bukan undang-undang yang diawali dengan ‘pokoknya harus begini’. Tak sedikit pun ingin menuntut. Menerimamu sebagai suami sudah menjadi salah satu hadiah terindah dalam hidup. Selebihnya, biarlah Allah yang mengantarkan mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan. Harapan-harapan saya tentang engkau menjadi bagian dari kisah indah cinta di rumah kita.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 8,90 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ochikohumaira
Ibu rumah tangga bahagia

Lihat Juga

Ilustrasi. (wallpaperscraft.com)

Iman Butuh Pengorbanan

Organization