Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meski Fasilitas Terbatas, Semangat Mereka tak Pernah Kandas

Meski Fasilitas Terbatas, Semangat Mereka tak Pernah Kandas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Perjuangan siswa SD menuju sekolah - (kompas.com)
Perjuangan siswa SD menuju sekolah – (kompas.com)

dakwatuna.com – Mengajar di daerah yang berada jauh dari kota besar, dikawasan daerah terluar dan terpencil merupakan tantangan tersendiri bagiku. MIS Al-ikhlas, sebuah madrasah swasta yang berada di Dusun Ampupu, Wandoka Selatan, Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, itulah tempatku bertugas sebagai guru relawan. Fasilitas yang serba terbatas, jauh dari kata layak.   Bangunan sekolahnya  hanya terdiri dari dua ruang kelas dimana dindingnya terbuat dari papan kayu, dengan beralaskan semen kasar yang penuh dengan debu. Semen alasnya pun sudah mulai terkikis sehingga meninggalkan lubang-lubang.  Belum lagi dengan dinding papan kayu yang bolong, serta papan tulis yang sudah usang dan rusak.

Jangankan ruang guru, meja guru pun tak kutemukan di kelas. Yang ada hanya sebuah bangku yang diletakkan di pojok kelas, sebuah bangku yang sama dengan bangku siswa.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu, kutanya kepada seorang siswa, di mana ruang guru? Dia menunjukkan sebuah ruangan permanen yang berada di salah satu sudut bangunan, lumayan jauh dari bangunan sekolah. Ruang guru itu merupakan pinjaman dari sekolah TK yang berada dekat dari Madrasah itu, masih satu halaman. Untuk mengatasi kekurangan kelas, kepala sekolah juga meminjam dua kelas TK yang tidak terpakai. Di mana satu kelas digunakan bergantian oleh kelas 1 dan kelas 2.

“Hmm, bagaimana mungkin mereka bisa nyaman belajar di ruang yang penuh dengan debu?” batinku. Ditambah dengan panasnya cuaca Wakatobi, membuat peluh bercucuran. Debu tebal, aroma tidak sedap, baju yang kumal dan lusuh, menjadi pemandangan miris setiap kali ke sekolah.

Belum lagi dengan pakaian seragam mereka yang kancing bajunya sudah banyak yang copot, resleting celananya sudah banyak yang rusak. Jangan tanya, apakah mereka punya ikat pingang? Karena untuk mengencangkan atau membetulkan celana yang rusak, mereka hanya menggunkan peniti. Rambut mereka pun sepertinya jarang dikeramas, tidak terurus. Begitu juga dengan kuku yang panjang penuh dengan kotoran. Aku seringkali mengingatkan mereka untuk memotong kuku. Tapi sepertinya, mereka tidak menghiraukannya. Melihat mereka yang kurang responsif, aku pun membawa pemotong kuku setiap kali ke sekolah dan meminta mereka langsung memotong kukunya.

Awalnya, kupikir semua siswa yang bersekolah di sana merupakan siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Karena untuk mendapatkan seragam pun ditanggung oleh sekolah.

“Seragamnya diberikan oleh sekolah. Setiap tahun sekolah membagikan seragam bagi siswa yang tidak mampu membelinya. Tapi mereka tidak menjaga seragamnya dengan baik.” Ujar kepala sekolah saat aku menuturkan kondisi seragam siswa yang sudah lusuh dan kumal.

Kondisi bangunan sekolah yang hanya terdiri dari dua ruang kelas, dengan suguhan bau yang pengap dan penuh debu, terlihat begitu kontras dengan bangunan rumah warga yang ada di sekitar sekolah. Hampir semua rumah warga memakai keramik dan terbilang cukup mewah. Sebuah ironi. Di tengah keelokan dan keindahan Wakatobi yang tersohor hingga penjuru dunia, masih ada suasana yang membuat hati meringis. Dan, itulah lembaga pendidikan. Tempat berkumpulnya para generasi muda harapan bangsa.

Pihak sekolah sebenarnya sudah mulai membangun sebuah bangunan  yang akan dijadikan sebagai ruang kelas. Agar siswa bisa lebih nyaman belajar dan tidak perlu lagi meminjam ruang kelas TK. Tapi, hingga saat ini bangunan itu belum terwujud. Masyarakat  sepertinya menutup mata  dengan kondisi ini. Kurangnya dukungan dan apresiasi dari masyarakat sekitar dan juga para orangtua siswa menjadi salah satu penghambat kemajuan pendidikan di tempat ini. Baik dari segi fasilitas maupun kualitas peserta didiknya.

Tapi, satu pelajaran berharga yang kutemukan disini. Meski kondisi sekolah dalam serba keterbatasan, meski kemampuan kognitif mereka masih jauh dari harapan, semangat mereka untuk menuntut ilmu tak pernah surut. Kondisi kelas yang tidak nyaman dan jauh dari kata layak tidak membuat  langkah mereka terhenti untuk terus menggali ilmu dari para guru.

Sedikitpun, mereka tak pernah mengeluh dengan bau pengap dan juga debu yang berkeliaran di kelas.  Semangat belajar mereka tak pernah kandas. Meski fasilitas sangat terbatas. Itulah yang semakin memicu tekadku dalam pengabdian ini, untuk  terus berbagi pada mereka. Berbagi pada generasi bangsa di pelosok Bumi Pertiwi.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Al An Amimah, S.Pd
Relawan guru SGI DD. Saat ini ditugaskan di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi sebagai relawan guru selama 1 tahun.

Lihat Juga

Warga Tebet unjuk rasa tolak kedatangan Ahok. (viva.co.id)

Lagi, Kedatangan Ahok Ditolak Warga