Home / Berita / Opini / Pilpres, Dari Piala Dunia ke Piala Akhirat

Pilpres, Dari Piala Dunia ke Piala Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Piala Dunia 2014 Brasil - (papcordoba.com)
Logo Piala Dunia 2014 Brasil – (papcordoba.com)

dakwatuna.com – “Apa menariknya melihat 22 orang bercelana pendek mengejar dan berebut sebuah bola?”

Bisa jadi itu pertanyaan yang dilontarkan orang-orang yang tidak suka bola, sebagai bentuk “protes” terhadap demam bola yang bakal melanda masyarakat seiring bergulirnya Piala Dunia Brasil 2014. Mereka memang layak mengkritik. Terlebih lagi kebanyakan para penggemar bola hanya sebatas menonton; tak bisa mengambil pelajaran dari pertandingan yang mereka saksikan.

Even Piala Dunia hanya membuat mata merah; rasa kantuk menyerang hebat; dan masuk kantor kesiangan. Padahal, begitu banyak nilai yang dapat dipetik dari Piala Dunia. Dan perhelatan Piala Dunia yang bersamaan dengan kampanye Pilpres seharusnya dapat “memaksa” kita untuk mengambil hikmah. Sepakbola bukan sekadar soal gocekan dan gol, tapi juga kejujuran, disiplin, tanggungjawab, sportifitas dan visi.

Saat kita menyaksikan Brasil yang mengalahkan Kroasia 3-1 di laga pembuka, bukan cuma tentang Neymar yang mencetak dua gol dan bunuh diri Marcello. Tapi juga bicara tentang kejujuran. Para pemain dituntut untuk bersikap jujur saat bertanding. Sekali saja berlaku curang, maka wasit akan menghukumnya. Jika wasit tak melihat kecurangan tersebut, publik sepakbola siap menghujat dan mencaci.

Ingat dengan insiden handsball Thierry Henry sebelum mencetak gol ke gawang Republik Irlandia saat playoff kualifikasi Piala Dunia 2010? Aksi tersebut tak terlihat wasit dan Prancis pun melenggang ke Afrika Selatan. Tapi hidup Henry tak tenang. Dunia menghujatnya. Sanksi sosial mengiringi hidup Henry karena dianggap telah menodai kejujuran.

Nilai tanggungjawab juga terdapat dalam sepakbola. Setiap pemain harus menjaga wilayah sesuai peran dan posisinya. Seorang bek dituntut untuk menjaga daerahnya agar tidak mudah dimasuki pemain lawan.  Seorang gelandang tengah harus berperan sebagai pengatur serangan agar bola bisa diberikan dengan baik kepada para penyerang. Dan seorang penyerang dituntut untuk mencetak gol agar timnya meraih kemenangan. Semua itu, hanya bisa dilakukan dengan tanggungjawab yang tinggi; tak setengah-setengah.

Sepakbola juga tentang sebuah visi. Saat seorang pemain memberikan bola ke temannya, dibutuhkan kecermatan, kejelian dan visi yang yang jelas. Lihatlah aksi playmaker Spanyol, Xavi Hernandez. Umpan-umpannya begitu cantik dan brilian sehingga memudahkan rekan-rekannya mencetak gol. Semua itu bisa ia lakukan karena berjiwa visioner; pandai membaca permainan. Kapan saat harus mengumpan, dan kemana umpan diberikan.

Begitu pula dengan adil, disiplin, kerjasama dan peduli. Semua nilai itu menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan saat sepakbola dimainkan. Ada satu saja nilai yang dilanggar, dapat dipastikan menjadi pecundang. Tim nasional Prancis menjadi contoh sangat baik akan hal ini. Diunggulkan menjadi juara grup A pada Piala Dunia 2010, Tim Ayan Jantan  itu harus puas menjadi juru kunci setelah hanya meraih satu poin. Yang lebih memalukan, para pemainnya konflik dengan pelatih. “Sejak awal, sudah tidak ada kebersamaan di tim ini,” kata Thiery Henry. “Tak ada respek pemain muda kepada pemain senior,” tambahnya. Tak adanya kerjasama dan soliditas tim membuat mereka tersingkir secara menyedihkan.

Betapa indahnya jika kita -yang gemar menonton bola-  dan dua pasang Capres-Cawapres serta para pendukungnya dapat mengambil hikmah dari Piala Dunia. Saya membayangkan, tak akan lagi menyaksikan atau mendengar kampanye hitam karena sudah bersikap sportif. Tak ada lagi upaya pencitraan penuh kepalsuan karena telah memiliki sifat jujur. Juga tak ada lagi usaha mencari bocoran soal debat; tak ada lagi kegiatan meminta sumbangan di jalanan; tak ada lagi instruksi menginteli masjid; tak ada lagi rekayasa kasus berbau sentimen agama; tak ada lagi insiden kertas contekan disebut kertas doa dari ibunda, karena sikap dan lakon kejujuran, keadilan, tanggungjawab seperti yang ditunjukkan oleh para pemain bola berhasil kita teladani.

Sesungguhnya, semua nilai tersebut merupakan bekal bagi kita sendiri saat kembali ke kampung akhirat. Merugilah bagi mereka yang hanya menjadikan Piala Dunia sebagai tontonan an sich. Dan beruntunglah mereka yang menjadikan Piala Dunia sebagai sarana untuk bekal di Hari Esok. Orang-orang semacam inilah yang insya Allah tak hanya mendapatkan kenikmatan Piala Dunia, tapi juga meraih kemenangan Piala Akhirat.

Adakah Capres-Cawapres yang bisa mengambil hikmah Piala Dunia? Salah satunya, insya Allah ada.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Erwyn Kurniawan, S.IP
S1 FISIP Universitas Jurusan Ilmu Politik. Pernah menjadi wartawan dan selama hampir 3 tahun menjadi Redaktur majalah ESQ 165. Menulis di berbagai media online dan kumpulan tulisannya menjadi buku dengan judul Masihkah PKS Bermasa Depan? (Maghfirah Pustaka, 2013). Karya buku lainnya: Jejak Langkah Menuju Indonesia Emas 2020 (Arga Publishing, Mei 2008) dan menjadi Ghost Writer buku best seller: The Great Story of Muhammad (Maghfirah Pustaka, 2011). Saat ini sebagai Pemred www.kabarumat.com

Lihat Juga

pemilu

Pemilu 2019, PKS Akan Ajukan Capres Sendiri

Organization