Home / Pemuda / Cerpen / Kakak Sudah Membaca Proposalnya, Dia Cocok Untukmu

Kakak Sudah Membaca Proposalnya, Dia Cocok Untukmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (amnahakim.com)
Ilustrasi. (amnahakim.com)

dakwatuna.com –  “Besok ada seminar Hakikat Cinta, Fa. Ikutan yuk!”

“Sampai jam berapa, Al? Soalnya besok sore aku harus ngajar.”

Nggak lama kok, dari jam sembilan sampai ba’da Dzuhur. Nanti kalau memang kelamaan, kamu balik duluan saja,”

“Ok, sampai ketemu di ballroom besok ya. Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,”

***

Kendaraanku melesat menuju jalan Bromo. Seperti biasanya, setiap Jum’at pukul dua siang aku ada agenda liqa’. Aku tiba di rumah sederhana Murobbiku pukul dua kurang seperempat. Di dalam, sudah ada Hafsah, Widya, dan Ana. Masih ada waktu lima belas menit lagi sambil menunggu Fitri dan Sofia datang. Aku dan Hafsah keluar sebentar membeli makanan “wajib” kami saat liqa’, yaitu gorengan.

Liqa’ hari ini akan ada berita mengejutkan, Fa!”

“Oh ya? Memangnya ada berita apa?”

“Widya sudah menerima proposal dari temannya saat Aliyah dulu.”

Alhamdulillah, sepertinya Widya akan menjadi orang pertama dari lingkaran cinta kita yang akan menikah.”

“Aduh, aku jadi galau..”

“Akan ada waktunya Hafsah. Harus bersabar.”

“Ini gorengannya, Nak.”

“Terima kasih, Bu.”

Saat kami kembali, Fitri dan Sofia sudah datang. Seperti biasa susunan liqa’ dimulai dengan membaca al-Quran, setoran hafalan, materi, dan terakhir khabar. Materi pada pertemuan kali ini tentang kepribadian wanita shaliha.

“Rasullulah bersabda, dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shaliha (HR.Muslim). Ciri khas seorang wanita shaliha adalah mampu menjaga pandanganya. Ciri lainya, dia senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Make-upnya adalah basuhan air wudhu, lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di manapun berada. Celak matanya adalah dengan memperbanyak bacaan al-Qur’an. Jika seorang muslimah menghiasi dirinya dengan perilaku taqwa, maka akan terpancar cahaya keshalihan dari dirinya.”

“Wanita dengan kecantikan yang ia miliki, lebih anggun daripada mentari. Wanita dengan akhlak yang ia miliki, lebih harum daripada kasturi. Wanita dengan kerendahan hati yang ia miliki, lebih tinggi daripada rembulan. Wanita dengan sifat keibuan yang ia miliki, lebih menyegarkan daripada hujan. Oleh kerana itu, peliharalah kecantikan itu dengan iman. Peliharalah keridhaan itu dengan sikap qana’ah, dan peliharalah kesucian diri dengan hijab.” Tutur Kak Sakinah.

Penjelasan materi selesai saat adzan Ashar berkumandang. Setelah shalat berjamaah, kami lanjutkan liqa’ dengan khabar. Aku sebagai Amiroh mempersilahkan Widya terlebih dahulu untuk mengabarkan keadaannya sepekan ini.

“Begini kak, tiga hari yang lalu, Widya mendapatkan proposal dari teman Widya saat di Aliyah dulu melalui Anissa yang juga sahabat Widya semasa Aliyah. Lalu kemarin, lelaki itu juga datang langsung ke rumah menemui ayah dan menyampaikan maksudnya. Nah, ayah dan ibu sendiri menyerahkan semua keputusan kepada Widya.”

“Sudah istikharah?”

“Sudah, Kak. Alhamdulillah Widya merasa yakin untuk menuju pernikahan.”

“Alhamdulillah,”

“Tetapi, setelah pernikahan nanti, Widya tidak bisa bersama lingkaran cinta ini lagi, Kak. Widya akan ikut suami ke Ponorogo. Ia salah satu pengajar di Pesantren Gontor, Kak.”

“Tidak apa-apa, nanti kakak bantu untuk mencarikan Murobbi pengganti di sana. Yang penting tetap mengaji dan jangan lama-lama untuk proses nikahnya.”

“Iya, Kak. Insya Allah pertengahan bulan depan. Mohon doanya dari Kakak dan teman-teman semua.”

***

“Karena saya lelaki, jadi menurut saya lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah seorang suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam, yakni pemimpin dan pelindung istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki surga. Dia memegang teguh firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. at-Tahrim: 6). Itulah hakikat cinta.” Urai Ust. Ilham pada seminar Hakikat Cinta yang aku dan Alya ikuti.

“Namun, cinta di atas segala cinta adalah ketaatan terhadap-Nya. Hidup saat ini dan setelahnya adalah berkat cinta-Nya. Segala yang berlandaskan karena-Nya adalah sebuah hakikat cinta yang sejati.” Lanjutnya.

Subhanallah, bagus sekali penjelasan dari Ustadz Ilham ya, Fa.”

“Iya, Al. Cinta di atas segala cinta adalah ketaatan terhadap-Nya. Al, aku balik duluan ya. Sekarang sudah jam setengah tiga, nggak enak kalau anak-anak harus menunggu lama.”

“Ok. Hati-hati, Fa.”

Aku melajukan sepeda motorku dengan cepat meninggalkan areal Ballroom. Karena kurang hati-hati, di jalanan yang memang masih basah akibat hujan tadi pagi, aku terjatuh dari sepeda motorku. Sebelum kesadaranku hilang, aku melihat seseorang menolongku.

***

Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Kepalaku berdenyut dan kakiku terasa sakit. Ada perban yang kuraba di kening dan kakiku. Ya Allah, mengapa aku bisa kurang hati-hati?

Alhamdulillah, kamu sudah siuman. Bagaimana? Masih sakit?”

“Iya dokter. Siapa yang membawa saya ke sini, Dok?”

“Tadi anak saya yang menolong kamu. Tetapi karena ada urusan lain, jadi dia langsung pergi.”

“Terima kasih banyak, Dok. Tolong sampaikan juga terima kasih saya kepada anak dokter.”

“Nanti saya sampaikan. Saya juga sudah telepon taksi untuk mengantar kamu pulang. Karena sepeda motor kamu masuk bengkel.”

“Saya memang kurang hati-hati, Dok. Sekali lagi terima kasih banyak, Dokter. Saya permisi, Assalamu’alaikum.

Wa’alikum salam,”

***

Karena luka di kakiku cukup serius akibat jatuh dari sepeda motor kemarin, aku harus istirahat di rumah selama seminggu. Untungnya, kampus sedang liburan semester. Jadi, aku tidak perlu khawatir ketinggalan pelajaran. Anak-anak didikku juga kuminta datang ke rumah agar tetap bisa belajar. Alya sahabatku, cukup membantuku untuk mengantar jemput anak-anak ke rumahku dan pulang ke rumah mereka. Meskipun, mereka sudah terbiasa hidup di jalanan. Tetapi keselamatan mereka juga sudah menjadi tanggungjawabku.

“Nak, ayo kita ke rumah sakit. Hari ini kan kita sudah janji dengan Dokter Amar untuk membuka perban kamu.”

“O iya, lupa. Keasyikan ngebloging, Ma. Asyifa siap-siap dulu ya,”

“Mama tunggu di mobil ya,”

***

Alhamdulilah, semuanya sudah membaik. Sudah tidak sakit lagi, kan?”

Nggak, Dok.”

“Tapi, walaupun sudah baikan, kalau bisa sebulan ini jangan naik sepeda motor dulu, ya.”

“Iya, Dok. O iya, Dok. Waktu itu, sepeda motor saya kan masuk bengkel, terus dua hari kemudian sudah langsung diantar ke rumah. Kok mereka tahu alamat rumah saya ya, Dok?”

“Anak saya yang menyuruh orang bengkel untuk mengantar langsung ke rumah kamu. Tahunya dari KTP kamu. Maaf, kemarin anak saya mengambil KTP kamu untuk melihat identitas. Ini saya kembalikan. Tadi pagi dia titip karena tahu kamu akan buka perban hari ini.”

“Kalau ada waktu, silahkan datang ke rumah, Dok. Dengan keluarga. Dokter sudah baik sekali dengan Asyifa.”

“Sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Insya Allah,”

Insya Allah-nya ditagih loh, Dokter.” Ucapku menegaskan. Dokter Amar hanya tersenyum.

***

“Besok kita ada aksi solidaritas dan penggalangan dana untuk saudara kita di Palestina. Titik kumpulnya di Masid Agung dan berakhir di bundaran SIB.” Info Kak Sakina saat kami liqa’.

“Ok, Kak. Siap!”

***

Di tengah konvoi penggalangan dana, gerimis turun. Tidak ada yang berhenti meneduh. Semua tetap berjalan tertib dalam barisan. Begitupun dengan teman-teman yang naik sepeda motor dan mobil pick-up. Jilbab sudah basah. Sayangnya, aku dan teman-teman tidak prepare akan jaket dan payung.

“Pakai ini,” Ucapnya.

Entah siapa ia yang memberiku jaketnya kemudian berlalu dengan sepeda motornya menyusul teman-teman yang lain. Aku mempercepat gerakku agar masih bisa mengetahui siapa ia dan tentu saja untuk mengembalikan jaketnya. Namun, kakiku yang baru pulih cidera tak mampu berbuat banyak. Aku kehilangan jejak di keramaian manusia yang terlibat dalam aksi.

“Lihat ikhwan tadi nggak, Na?” Tanyaku paada Ana saat konvoi sudah selesai.

Nggak, Fa. Sudah kamu bawa pulang saja jaketnya. Sekarang kita makan, yuk! Aku lapar.”

***

Assalamu’alaikum adik-adik,”

“Kak Syifa, Wa’alaikum salam..”

“Maaf ya, minggu lalu kakak nggak bisa ngajar karena ada kegiatan lain.”

“Tenang, Kak. Asisten kakak telah hadir untuk menggantikan.” Lapor Rasyid sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Terima kasih, Rasyid. Ini kakak lihat buku bacaannya banyak yang baru ya? Dari siapa?”

“Dari Mas Imam. Orangnya baik, Kak. Selain ngasih buku baru. Juga, suka membawa makanan untuk kami.”

“Mas Imam siapa? Kok, Kak Syifa baru mendengar namanya?”

“Jadi, waktu kakak nggak masuk karena jatuh dari motor, Mas Imam dan beberapa temannya datang ke sini untuk riset. Terus, tanya ini-itu soal keadaan di sini, Kak.”

“Besok-besoknya, Mas Imam membawa buku-buku baru dan ngajarin kami mengaji.”

“Nanti Mas Imam juga mau datang kemari, Kak. Mau ngajak makan di luar.”

“Itu mobil Mas Imam datang,” teriak anak-anak dengan senang.

Assalamu’alaikum,

Wa’alaikum salam,

“Mas Imam, ini Kak Asyifa.”

“Imam. Maaf ya, saya pikir kamu masih sakit. Jadi, saya mau bawa anak-anak makan di luar.”

“Iya nggak apa-apa. Silahkan, kalau mau pergi bersama anak-anak. Anak-anak sepertinya juga sudah tidak sabar untuk pergi.”

“Kak Syifa ikut ya! Boleh, kan Mas Imam?”

“Tentu saja boleh.”

Sebagian anak-anak naik mobilku dan sebagian lagi naik mobil Imam. Ia mengajak anak-anak ke Mall dan makan di restoran steak. Anak-anak bebas mau pesan makanan apa pun, asal tidak berlebih-lebihan. Selesai makan, anak-anak minta main Timezone dan ke toko buku.

“Terima kasih ya. Kamu sudah baik sekali dengan anak-anak. Mereka kelihatan senang sekali.”

“Memang sudah menjadi hak mereka. Kamu tidak perlu berterima kasih pada saya.” Lelaki ini, seperti tidak asing bagiku.

***

“Syifa, kamu sudah siap untuk menikah?” Kak Sakina bertanya padaku setelah kami selesai liqa’.

“Kenapa kakak menanyakan hal itu?”

“Mutarabbi suami kakak sedang mencari istri. Ia menitipkan proposalnya pada suami kakak. Setelah suami kakak pertimbangkan, ia meminta kakak untuk ikut membantu mencarikan dari salah satu Mutarabbi kakak. Kakak sudah membaca proposalnya, dan menurut kakak kamu yang cocok dengannya.”

Aku bingung harus menjawab apa. Selama ini, aku memang tidak pernah bercerita tentang ikhwan manapun dengan Murabbiku. Termasuk tentang ikhwan yang menolongku saat jatuh dari motor. Entah mengapa, aku ingin mengenalnya. Namun, tidak ada yang kuketahui tentang dirinya. Aku juga malu kalau harus bertanya langsung dengan Dokter Amar.

“Kalau menurut kakak ia baik untuk Syifa dalam urusan dunia maupun akhirat, insya Allah Syifa bersedia tanpa harus membaca proposalnya.”

Alhamdulillah, kalau begitu, Jum’at depan sebelum kita mulai liqa’, kamu bisa berta’aruf dengannya.”

“Baik, Kak,” Insya Allah ini akan menjadi keputusan yang terbaik. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak bernazhar dengan seseorang yang diajukan Murobbiku. Hari itu juga, sesampainya di rumah, aku memberitahu Mama dan Abi tentang nazhar dan proses ta’aruf yang ditawarkan Kak Sakina.

“Abi dan mama kamu setuju-setuju saja, asalkan ia baik secara agama.”

“Yang penting kamu bahagia, Nak.” Ungkap mama sambil memelukku.

“Maaf bu, tamunya sudah datang,”

“Suruh masuk saja, Mbok,”

“Siapa yang datang, Ma?”

“Dokter Amar dan keluarganya. Tadi siang, Dokter Amar telepon Mama. Dia bilang mau memenuhi janji untuk silaturahmi waktu itu. Jadi, Mama dan Abi mengundang Dokter Amar dan keluarganya untuk makan malam di sini.”

Assalamu’alaikum,

Wa’alaikum salam. Masuk, Dokter.”

“Maaf, baru bisa berkunjung sekarang. O iya, ini istri saya, Lia. Dan, kedua anak saya Imam dan Aira.”

Tidak tahu sekenario apa yang sedang berjalan saat ini, yang jelas aku merasa terkejut. Saat ini, orang yang membuatku ingin mengenalnya hadir di hadapanku saat aku sudah menyepakati untuk bernazhar dan melakukan proses ta’aruf dengan ikhwan pilihan Murobbiku. Tidak hanya itu, lelaki itu ternyata Imam. Imam yang disenangi anak-anak jalanan didikanku. Aku mencoba menahan beberapa pertanyaan di kepalaku. Aku tidak ingin mengganggu keakraban Abi dengan Dokter Amar dan Imam. Begitu pula Mama dan Tante Lia. Aku hanya mengobrol dengan Aira.

“Apa kegiatan sekarang, Mam?”

“Hanya pengusaha kecil-kecilan, Om.”

“Dia ini orangnya merendah sekali. Setelah lulus S2 bisnis di Jerman, dia buka restoran steak di sini join sama teman-temannya. Alhamdulillah, mereka sudah memiliki delapan cabang. Ada di Medan, Jakarta, Jogja, Bali, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Lombok.”

“Wah, bagus itu anak muda berjiwa enterprenuer.”

“Mohon doanya, Om.”

***

Besoknya, aku bertemu dengan Imam saat mengajar anak-anak mengaji. Sikapnya tetap tenang seperti tadi malam.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu yang sudah menolong saya waktu itu?”

“Apa perlu saya mengatakan hal tersebut? Apa pantas kita menguraikan pertolongan terhadap seseorang?”

“Jaket ini, apa ini juga punya kamu? Saya baru sadar, bahwa di saku jaket ada kartu nama seseorang yang bernama Imam Abdullah.”

“Maaf, waktu itu kurang sopan memberikannya karena juga harus buru-buru menghindari hujan dan menyusul teman-teman yang lain.”

“Pantas, waktu pertama kali bertemu di sini, kamu seperti tidak asing bagi saya.”

“Kehidupan ini memang penuh dengan kejutan-kejutan. Baik kejutan yang menyenangkan, maupun kejutan yang mengecewakan. Maka dari itu rukun iman yang terakhir kita diwajibkan mengimani qadha dan qadar.”

***

Insya Allah, ia calon yang baik,” hibur Kak Sakina mengetahui kegelisahanku.

Ya, hari ini seperti yang telah dijadwalkan. Aku akan bertemu dengan ikhwan yang diajukan Murobbiku. Abi dan Mama juga menemaniku di sini.

Assalamu’alaikum,

Wa’alaikum salam,”

“Dokter Amar?”

“Asyifa?”

Kami sama-sama terkejut. Di belakang Dokter Amar ada Tante Lia dan Imam.

“Ya Allah, kalau ini calonnya tidak usah mikir dua kali.” Ungkap mama. Abi dan Dokter Amar tertawa. Tante Lia, Kak Sakina, Ustadz Affan tersenyum memandangku.

“Selalu ada kejutan dalam hidup,”

“Baik yang menyenangkan, maupun yang mengecewakan.” Aku menyambung kalimatnya. Ia tersenyum, aku tertunduk malu.

Allah memiliki rencana yang indah untuk setiap laki-laki dan wanita yang berdoa dan percaya pada-Nya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (34 votes, average: 8,24 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pilar Aisyah
Penulis bernama Riska H Akmal. Lahir di Medan, Juni 1990. Seorang cerpenis yang bergiat sebagai anggota muda FLP-SUMUT.

Lihat Juga

Cover buku "Ngungudag Guratan Takdir".

Ngungudag Guratan Takdir