Home / Berita / Opini / Menyikapi Objektivitas Jusuf Kalla Terhadap Prabowo

Menyikapi Objektivitas Jusuf Kalla Terhadap Prabowo

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Prabowo Subianto. (itoday.co.id)
Prabowo Subianto. (itoday.co.id)

dakwatuna.com – Dalam acara debat Capres-Cawapres kemarin, Jusuf Kalla atau biasa disapa JK, sempat  menyerang Prabowo dengan pertanyaan yang sangat tendensius. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa ditebak oleh siapa pun juga. Bahkan, kabarnya pertanyaan ini sangat ditunggu-tunggu oleh kubu Prabowo. Pertanyaan itu tak lain dan tak bukan adalah tentang isu (rumor) dugaan keterlibatan Prabowo Subianto dalam kerusuhan Mei 1998 serta tuduhan penculikan para aktivis pada masa itu.

Dan inilah jawaban Prabowo dalam acara debat Capres-Cawapres kemarin. Sebuah jawaban  yang sangat tegas dan lugas. “Bapak tidak mengerti. Justru kami-kami ini sering berada dalam kondisi sulit ketika ingin menyelamatkan hak asasi warga negara. Seringkali prajurit menjadi korban atasan. Petugas diberi perintah. Jika ada sesuatu yang secara politis tidak menguntungkan, maka petugaslah yang harus dikorbankan. Jika bapak Jusuf Kalla ingin mengetahui, silahkan tanya kepada atasan saya saat itu!”

Jawaban Prabowo ini sangat tepat serta mengenai sasaran.  Tepat karena disampaikan pada momen yang pas, yaitu pada momen pencapresan Prabowo dalam ajang Pilpres tahun ini. Mengenai sasaran, karena inilah saatnya bagi Prabowo untuk menjawab dan menjelaskannya kepada kubu Jokowi dan Kalla khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, mengenai apa yang terjadi sesungguhnya.

Namun, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang jawaban Pabowo tersebut. Justru yang ingin saya soroti adalah “makna “ yang terkandung dari pernyataan Prabowo itu. Saya melihat ada satu makna mendalam yang ingin disampaikan Prabowo kepada Jokowi dan Kalla beserta para pendukungnya.

Menurut saya, bagaimana mungkin Jokowi dan Kalla bisa memahami kondisi Prabowo? Bagaimana mungkin mereka bisa memahami kondisi psikologis Prabowo saat itu? Bukankah Jokowi dan Kalla tidak pernah berada di sana? Tidak pernah terlibat langsung dalam pertikaian (kerusuhan) itu? Mereka tidak pernah berhadapan langsung dengan situasi sulit itu. Tidak pernah sama sekali!

Inilah poin yang ingin disasar oleh Prabowo kepada kubu Jokowi dan Kalla. Sebuah poin yang sangat fundamental. Dengan kata lain Prabowo ingin mengatakan, “Bapak Jusuf Kalla tidak akan pernah mengerti posisi dan kondisi saya saat itu, karena Bapak tidak pernah berada di situ!” Apalagi, Jokowi yang pada masa itu bukanlah siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa, kecuali sebagai seorang pengusaha meubel di kota Solo. Demikian pula dengan Jusuf Kalla yang juga masih menjadi seorang pengusaha pada saat itu. Meskipun dalam kurun waktu 1997-1999, Jusuf Kalla pernah menjadi anggota MPR-RI (Anggota Badan Pekerja) Utusan Daerah.

Dan tentu saja, hal ini menjadi suatu kewajaran, sebagaimana “wajar”nya sikap seorang Jusuf Kalla ketika harus berhadapan atau membahas kasus Hak Asasi Manusia (HAM) yang menimpa Prabowo Subianto ini. Mengapa? Dari jawaban yang diberikan oleh Prabowo kemarin, sangat jelas terlihat bahwa Prabowo ingin menyampaikan satu pesan khusus kepada Jokowi dan Kalla berikut para pendukungnya.

Bahwa Jokowi dan Jusuf Kalla memang tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana situasi serta kondisi batin Prabowo saat itu, baik sebagai seorang komandan (Danjen Kopassus) maupun sebagai seorang prajurit yang harus tunduk kepada perintah atasannya. Karena mereka tidak pernah berada di lokasi itu dan tidak mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi. Sehingga, sangat wajar pula ketika akhirnya mereka menaruh curiga atau su’udzon (prasangka buruk) serta beranggapan bahwa Prabowo memang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM tersebut. Dan kecurigaan itu pun, masih terus berkembang sampai sekarang, yang pada akhirnya teraplikasi dalam pertanyaan Jusuf Kalla kepada Prabowo dalam acara debat Capres-Cawapres (9/7/2014) kemarin.

Menurut saya, kita akan bisa memahami seseorang, jika kita berada dalam satu kondisi atau posisi yang sama dengan orang tersebut. Ketika  kita pernah mengalami hal yang sama dengan orang yang menjadi objek penilaian kita itu. Namun, jika kita tidak pernah mengalaminya, jangan harap kita akan mampu mengerti, memahami serta menilai seseorang secara objektif dan sportif. Selamanya, kita tidak akan pernah bisa berlaku adil kepadanya. Kecuali, jika kita memiliki mata dan hati nurani yang bersih.

Yakni, akan sama persis dengan apa yang telah dilakukan Jusuf Kalla kepada Prabowo. Penilaian Jusuf Kalla terhadap Prabowo sangatlah subjektif, jauh dari nilai-nilai keadilan. Alih-alih ingin mencari kebenaran yang sesungguhnya, yang ada hanyalah ingin menjatuhkan nama baik seorang Prabowo Subianto.

Padahal, siapa pun tahu, ketika Jusuf Kalla menjabat sebagai Wakil Presiden (2004–2009), tidak pernah sedikit pun Jusuf Kalla menyinggung persoalan pelanggaran HAM ini dengan Prabowo. Akan tetapi, sekali lagi, hal ini adalah wajar, sebab dalam situasi “pertarungan” Pilpres. Apapun akan dilakukan untuk “mengalahkan” lawan. Yang menurut pendapat kebanyakan orang, politik itu bisa menghalalkan segala cara.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,19 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Jokowi (inet)

Jokowi dan Palestina