Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Breaking The Limit

Breaking The Limit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Cover buku "Breaking The Limit".
Cover buku “Breaking The Limit”.

dakwatuna.com – 

Judul Buku: Breaking The Limit, “50 Artikel Keren dan Menembus Batas Tentang Diri dan Dunia(Bahkan Politik) di Mata Seorang Remaja”

Penulis: Fathia Asyafiqah

Editor: Syifa Aisyah Putri

Desain Cover dan Layout: Jejen Muslihujjaman, S.Ds

Penerbit: Kaffah Media, Nunuk Kulon RT.02 RW04, Pacet, Kab. Bandung

Jumlah halaman: 178 Halaman (tidak termasuk daftar Isi dan kata Pengantar)

 

Dunia literasi Indonesia boleh bergembira. Di tengah gencarnya lalu lintas informasi yang semakin digital dan paperless, hadirnya sebuah buku memang ibarat oase. Apalagi si penulis ternyata masih belia. Masih berstatus siswi SMP.  Ia duduk di kelas IX Sekolah Alam Karawang ketika buku ini terbit. Sebuah capaian penting sekaligus keberanian  yang patut diapresiasi.

Buku ini memang  akan membuat penasaran pembacanya. Dari judulnya saja sudah menggelitik, Breaking The Limit. Judul  yang menurut penulisnya  dirasa paling mewakili isi, suasana dan proses  lahirnya buku.  Lihat saja sampul buku yang dominan berwarna abu-abu.   Judulnya  disusun dari huruf yang pecah-pecah dan dilatarbelakangi tumpukan dadu berserakan bertulis huruf-huruf latin.  Buku ini  memang simbol dari upaya penulis yang berhasil “menembus batas” melalui program yang dibuatnya sendiri, yaitu proyek  #OneDayOneArticle selama lebih dari tiga bulan.  Sebuah “paksaan” yang menjadikannya  bertemu dengan “dunia baru”.  Penulis menyebutnya seperti sedang “jungkir balik”.  Membuatnya mulai berkenalan dengan dunia politik, pendidikan, humaniora dan dunia kepenulisan itu sendiri. Juga berkenalan dengan kawan-kawan baru yang keren  lewat sosial media.

Dengan teknologi  internet, penulis pun  berhasil  menembus batas geografis. Membuatnya bisa terhubung  dengan orang-orang hebat yang lebih senior.  Penulis berhasil “bertemu” tokoh majalah Islam papan atas, Bu Dwi Septiawati yang CEO Ummi Grup penerbit Majalah UMMI dan Annida.  Kata pengantar di buku ini adalah buktinya.  Penulis juga berhasil “terkoneksi” dengan seorang Dr Sudarnoto Abdul Hakim, MA Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan membuatnya memberi pengantar yang sangat apresiatif.

Di buku ini, ada tiga pengantar. Cukup banyak, memang. Tentu, bukan tanpa makna. Bila kita simak, kata pengantar terakhir dari  Bapak Gigih Supriyantoro, SE selaku Direktur Sekolah Alam Karawang,  kita akan terbawa pada suasana  yang menjadi latarbelakang terbitnya buku ini. Salah satunya terkait dengan tentang peran orang tua dalam pendidikan anak. Juga tentang budaya belajar yang memerdekakan yang tak hanya memuliakan IQ. Di lahan subur itulah, Fathia tumbuh hingga menghasilkan karya penting ini. Sekolah Alam seperti hendak unjuk gigi. Tentang produk dari proses pendidikan yang dijalankan di sekolah yang berdiri tahun 2008 itu.

Endorsement dari empat orang tokoh muda: Syamsa Hawa, Pemred majalah remaja Annida.  Erdy Nasrul,  wartawan Republika.  Motivator Abdul Hakim el Hamidy, dan Anisa Muthiah humas Garuda Keadilan, juga bentuk lain fenomena lintas batas.  Juga menjadikan buku ini sangat  bersemangat muda.

Keunikan buku ini tak hanya pada si Penulis dan proses penulisannya. Tapi juga berlanjut ke isi. Ketika membuka lembaran demi lembaran buku ini, pembaca akan merasa surprise. Karena akan menemukan hal yang tidak biasa. Membuka buku karya seorang remaja tapi nuansanya sangat dewasa. Biasanya buku karya anak remaja itu ber-genre fiksi. Isinya seputar  persahabatan, pacaran, artis idola, gadget, mode yang sedang ngetrend, dan semisalnya. Di buku ini, justru pembaca mendapatkan tema-tema yang serius.  Padahal, menulis artikel adalah sesuatu yang “mengerikan” bagi sebagian besar ABG. Apalagi bicara politik . Di buku ini, Penulis justru tampak sangat percaya diri ketika menulis tema-tema serius itu.  Pembaca seperti ditantang untuk menghabiskan  50 menu artikel, kalimat demi kalimat. Ya, buku ini memang bukan bacaan santai nan menghibur. Justru mengajak anda sedikit menguras energi dan  konsentrasi. Semisal kontroversi UN, MOS,  hukum yang tak adil, politik di mata remaja, tragedi Mesir, hingga dunia pengemis. Penulis buku ini sama sekali  “tidak berbaik hati” untuk menyisipkan satu pun cerita fiksi.  Keberanian menuliskan hal-hal serius itulah  yang menjadikan buku ini seperti melawan arus. Dalam konteks marketing, ini sebuah diferensiasi yang menarik.

Walaupun temanya serius, tapi Penulis buku ini  mengajak pembacanya berfikir sederhana. Bahkan, untuk masalah yang pelik sekali pun.  Pandangan Penulis terhadap UN, misalnya. Ia berkata,  “Bagaimana mungkin mengerjakan beberapa soal pilihan bisa menjadi ukuran keberhasilan seseorang menempuh pendidikan selama bertahun-tahun. Kenapa keputusan meluluskan itu tidak diserahkan saja sepenuhnya ke guru? Yang lebih mengetahui keseharian siswa-siswinya?”   Di dunia nyata, justru kesederhanaan itulah yang cenderung diabaikan. Kerumitan ternyata lebih dipilih. Ujian Nasional di negeri ini adalah paling rumit. Bayangkan, 20 variasi soal!

Buku ini memang sebuah upaya  Penulis untuk merekam pemikiran diri dan teman- temannya tentang banyak hal. Pada bab “Bullying Jadi Budaya Baru” dan “Pentingkah MOS?” Penulis mencermati fenomena bullying dan sisi negatif MOS yang banyak merugikan remaja. Ketika kunjungan sekolah ke lapas Karawang, misalnya, ada seorang narapidana yang dipenjara karena membunuh dan memutilasi orang yang sering membully dia.

Fathia yang juga bersama teman-temannya pernah terjun langsung ke jalan untuk mewawancarai pengemis dan pengamen. Apakah benar ada mafia di belakang mereka dan bagaimana perasaan para pengamen dan pengemis saat diremehkan orang lain? Liputan dan opininya bisa disimak di judul  “Tak Cukup Sekedar Komentar”.

Berbeda dengan remaja kebanyakan, ia berani membuka diri pada politik. Beberapa tulisan tentang politik yang pernah dimuat di media online juga dimuat di buku ini. Seperti “Ketika Remaja Indonesia Berbicara Politik”, “Memilih Pemimpin Itu Mengasyikkan” . Bahkan ada tulisan khusus tentang Sang Bunda yang pada pemilu 2014 kemarin jadi calon anggota legislatif. Tentang sebuah kegalauan dan kedewasaan penulis dalam menyikapi politik di dunia realitas.

Bagi pembaca yang sudah dewasa,  kunci menikmati buku ini adalah: putar mesin waktu anda menuju saat  masih  usia SMP.  Kemudian,  bacalah buku ini. Maka anda dapat merasakan kepiawaian sang Penulis dalam menuangkan pemikirannya.  Sedangkan bagi pembaca remaja, kumpulan artikel serius yang ditulis kawan sebaya adalah koleksi istimewa yang akan memperkaya khazanah. Sekaligus untuk bahan perbandingan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Suara Takbir Bergemuruh di Paripurna DPR, Ada Apa?