Home / Pemuda / Cerpen / Ketika Cinta Tak Bisa Memiliki

Ketika Cinta Tak Bisa Memiliki

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Akhirnya kelas Manajemen selesai. Rasanya otakku akan pecah dengan berbagai hafalan yang aku targetkan. Wajar saja, aku menargetkan banyak pelajaran yang harus aku kejar. Apalagi jika mengingat kebiasaanku tidur di kelas. Sebenarnya bukannya aku tidak ingin memperhatikan dosen. Aku hanya tidak bisa melihat apa yang diajarkan dosen. Mataku minus 3 dan kacamataku hilang.

Kadang, banyak orang yang bingung mengapa aku begitu ‘sok’ pintar dengan tidak membeli kacamata. Mereka hanya tidak tahu betapa buruknya aku dalam merawat barangku, salah satunya kacamata. Terakhir, kacamataku hanya bertahan seminggu sebelum hilang. Alhasil, aku memutuskan untuk tidak membeli kacamata lagi karena toh tidak lama akan hilang atau rusak.

Kamis siang ini cuaca memang cukup panas. Apalagi di tengah kerumunan kantin yang sesak. Belum lagi ditambah asap rokok yang bertiup kesana kemari. Akan tetapi, bukan itu yang membuat aku begitu gerah. Aku gerah melihat begitu romantisnya dua mahasiswa di depanku.

Sebenarnya, mereka tidak melakukan apapun. Mereka hanya mengobrol sambil saling bercanda dan tersenyum. Akan tetapi, aku hanya kesal tanpa alasan. Aku memang tidak suka melihat orang lain begitu akrab. Di dunia ini semua hanya kepalsuan, batinku. Aku kembali menyeruput sisa jus alpukatku, lalu beranjak meninggalkan kantin fakultas. Angin bertiup lembut membuat alur sendiri di Danau Mahoni.

***

Pertemuan 1

Tanganku bersandar pada besi kokoh yang menyangga jembatan Teknik Sastra yang membelah Danau Mahoni. Angin sore bertiup sepoi membelai pepohonan yang berjejer rapi di pinggiran danau. Hari yang panjang dan melelahkan, gumamku. Hari ini jadwal kuliahku penuh selama tiga sesi. Aku merasa seakan otakku diperas habis untuk sekedar berusaha memahami apa yang dijelaskan oleh para dosen.

Di pinggir danau terlihat pelajar-pelajar SMP dan SMA sedang bermesra-mesraan dengan kekasihnya. Terdapat pula beberapa anak-anak yang bermain bersama orang tuanya. Aku sangat suka berada di sini. Setiap hari Rabu, dimana jadwal kuliahku penuh, aku selalu menyempatkan diri untuk sejenak melihat sunset di jembatan ini yang tepat berada di belakang fakultasku. Sepinya jembatan ini ketika menjelang malam, menjadi alasan bagiku untuk bisa mentolelir pemandangan harmonis dan romantis di bawah sana. Paling banyak hanya lima orang saja yang ada di jembatan luas ini.

  1.  Aku menarik nafas panjang. Jemariku memutar-mutar pulpen secara hati-hati. Aku tidak ingin pulpen ini jatuh ke danau karena pulpen ini baru saja kubeli. Apalagi ini merupakan bagian dari uang terakhirku minggu ini. Oleh karena itu, aku bertekad akan menjaganya.

“Hei,” sebuah suara halus perempuan seakan menyapa. Aku berusaha acuh. Tidak ada yang kenal aku, paling orang lain, batinku.

“Hei,” suara itu terdengar lagi, tetapi kali ini diikuti dengan sebuah tepukan sebuah pulpen di bahuku. Aku kaget. Putaran pulpen di tanganku pun terhenti dan pulpen itu pun jatuh ke danau. Aku hanya terpana melihat pulpen itu terjun bebas lalu masuk ke danau.

“Ups.. Maaf, maaf, maaf. Aku nggak bermaksud ngagetin kamu.” ucapnya dari belakang yang kemudian menyadarkanku. Aku pun membalikkan badan dan terkejut. Seorang perempuan tinggi dan berjilbab sedang menunduk.

“Eng…Anu.. I..ya ngga…apa..apa…” jawabku sekenanya sembari mengayun-ngayunkan tangan. Aku bingung ingin berbuat apa hingga berkeringat dingin. Sejak SMA, aku sangat jarang berinteraksi dengan orang lain jika tidak ada keperluan. Jika pun interaksi itu terjadi, aku pasti seperti ini, kebingungan hingga berkeringat dingin.

Tidak lama kemudian, dia kembali mengangkat kepalanya. Aku terkesima. Dia mengenakan jilbab kuning serasi dengan baju panjang yang juga berwarnah kuning dan rok jeans yang panjang dan longgar. Kacamata mungil di wajahnya memberi kesan lugu. Ekspresi bersalahnya, yang begitu terlihat, membuat semua orang yang berhadapan dengannya pasti memaafkan dia.

“Ini,” ucapnya tiba-tiba sembari menyodorkan pulpen yang tadi dia gunakan untuk menepukku. “Aku ganti pulpen kamu yang jatuh.”

“Eh.. eng.. a..anu ng..gak usah kok. Aku ada pulpen lagi,” ucapku berbohong. Iya ada lagi di toko, batinku.

“Ehm..” gumamnya sambil menempelkan tangan kiri ke mulutnya seakan sedang berpikir. “Jangan bohong, mukamu stress gitu pas pulpennya jatuh. Udah ini ambil aja. Aku ada lagi kok.” ucapnya sembari tersenyum dan menggoyangkan tangannya seakan memaksaku mengambilnya. Aku hanya bisa nyengir ketika dia tahu aku berbohong. Akhirnya, aku pun mengambil pulpen tersebut. Dia pun tersenyum lebar.

“Kamu sering di sini ya?” tanyanya sembari bersandar ke penyangga jembatan.

“Iya, kenapa emangnya?” tanyaku kembali sambil memutar-mutar pulpen yang baru dia berikan.

“Hehehe..” tiba-tiba dia tertawa kecil. Dia berusaha menutup mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikannya.

“Eng.. anu.. Kenapa ketawa?” tanyaku bingung.

“Kamu ituloh. Setiap kalimat pasti ada eng.. anu.. haha. Lucu.” ucapnya sembari terus tertawa kecil. Aku hanya bisa kembali nyengir.

Tiba-tiba dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu memutar badan ke arahku dan menunduk lagi. “Ups, maaf, maaf. Aku jadi ngetawain kamu. Aku kelepasan.”

“Eh.. eng.. anu.. udah nggak apa apa kok. Eng.. aku emang gini. Maaf juga,” ucapku lagi sembari mengayunkan tanganku kembali.

“Kamu nggak usah minta maaf. Aku yang salah kok.” ucapnya sembari kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum.

“Oh iya, kamu mau jadi reviewer puisi aku nggak?” tanyanya tiba-tiba. Aku kaget. Kami belum saling kenal dan tiba-tiba dia berharap aku melakukan sesuatu untuknya.

“Maaf. Tapi.. eng.. anu.. maksudnya?” tanyaku memperjelas.

“Iya, jadi pemberi saran puisiku. Bisa dibilang sajak sih. Sejenis itu deh pokoknya. Gimana?” tanyanya lagi. Aku semakin bingung akan menjawab apa. Akan tetapi, sebelum aku sempat menjawab, dia menepuk kedua tangannya. “Oh iya, maaf aku lupa jelasin dulu siapa aku dan segala macemnya hehe.. Kenalin, aku Azkia, Azkia Nur Rahma. Aku jurusan Sastra Jepang angkatan 2012. Aku suka banget dengan puisi. Aku biasa ke sini sehabis kuliah buat nulis puisi. Di sini pemandangannya indah banget. Apalagi kalo lagi sunset. Nah, karena aku hobi membuat puisi, aku pengen banget ada yang kasih tanggapan dari puisiku. Tapi, aku malu banget kalau ini dipublish. Apalagi latarnya di sini. Aku takut dan malu kalo dikira galauers. Makanya aku rahasiain kalo aku suka ke sini. Nah, kebetulan ada kamu nih. Mau ya ya ya?” tanyanya antusias. Dia tidak sadar bahwa dia sudah berbicara beberapa menit hingga aku hanya bisa terbengong-bengong.

“Ups, maaf, maaf. Aku ngomong terlalu panjang.” sekali lagi dia menunduk dan aku pun bingung dan menjawab sekenanya seperti sebelumnya.

“Eng.. anu.. kenapa aku?” tanyaku bingung.

“Ehm.. kenapa ya..” gumamnya sambil menempelkan tangan kiri ke mulutnya seperti sebelumnya, yang dikemudian hari kusadari bahwa itu adalah ciri khasnya.  “Mungkin karena kamu aja yang selalu ada kalo aku di sini.” jawabnya. Aku tersentak menundukkan muka. Jawaban itu seakan begitu romantis sehingga aku kemudian agak mual.

“Kamu kenapa?” tanyanya sembari menundukkan kepala berusaha melihat wajahku.

“Eng.. anu… Aku mules dan banyak tugas. Jadi, harus buru-buru pulang. Bye.” ujarku seraya beranjak ingin pergi.

Belum sempat aku melewatinya, tiba-tiba dia membentangkan tangannya. Aku pun berhenti karena tidak bisa lewat.

“Tolong dong. Please.” pintanya tiba-tiba sembari menepuk  dan menghimpun kedua tangannya di depan mulut sembari memejamkan mata. Sungguh manis, hati kecilku bicara, hingga aku pun bingung.

Huft. Aku pun menghembuskan nafas. Dia membuka salah satu matanya dan menyaksikan aku mengangguk. “Eng.. Sekali ini aja” ucapku.

“Yeayy!” teriaknya tiba-tiba sembari mengangkat kedua tangannya seakan baru saja memenangkan hadiah jutaan miliar. Semua orang pun melihat ke arah kami. Aku pun tertunduk malu.

***

Pertemuan 2

Seperti biasa, aku hadir di jembatan Teknik Sastra di penghujung rutinitas soreku, sekedar mengeluh tentang hari ini dan mencari ketenangan. Bedanya, hari ini seorang perempuan bernama Azkia berada tidak jauh dariku. Dia berputar-putar ke sana kemari seperti anak kecil.

Manusia di hadapan senja,
Hilang semua palsu sepanjang hari,

Mereka sama saling terkagum.

Aku terbengong-bengong saja ketika membaca sajaknya. Aku masih sedikit bingung. Ternyata, masih ada juga orang yang suka menulis hal-hal kecil seperti ini. Aku pun bertanya pada Azkia tetang makna dari sajaknya ini.

“Ehm.. Jadi, Dit. Mau sesibuk apa pun manusia. Mau setinggi apa pun pangkat manusia. Mau sepintar apa pun manusia. Mereka akan sama aja ketika melihat matahari terbenam. Mereka akan kagum. Karena, secara langsung maupun tidak langsung, mereka mengakui Tuhan di atas segalanya.” terangnya

Aku hanya bias mengangguk. Semenit kemudian, aku telah mengajukan diri untuk menjadi pendengar sajaknya setiap minggu. Sesuatu yang sejam kemudian aku sesali. Akan tetapi, seminggu kemudian aku syukuri.

***

Pertemuan 30

Tiga puluh sajak sudah aku aku koleksi. Artinya, sudah sepuluh minggu atau tiga bulan aku rutin bertemu dengannya. Ya, setiap rabu sore sembari melihat sunset, batinku. Awalnya, aku hanya terkesima pada sajak-sajaknya. Akan tetapi, entah kenapa saat ini aku mulai tertarik dengan sang penyairnya.

Aku baru sadar, betapa lucunya ekspresi seorang Azkia ketika sedang berpikir. Dia akan meletakkan tangannya di pipi sembari melihat ke atas seakan ada kunci jawaban di sana. Aku juga baru sadar, betapa menariknya sifat Azkia yang sangat mudah meminta maaf, bahkan pada hal-hal kecil, dengan menunduk. Aku juga baru sadar, betapa anehnya Azkia yang baru menanyakan tentang identitasku pada pertemuan kelima. Dia sangat mudah percaya dan lugu, gumamku setiap mengingat kejadian itu. Aku juga baru sadar, betapa alimnya Azkia yang selalu menjaga dirinya agar tidak bersentuhan denganku. Bahkan dia tidak akan mau jika di jembatan kami hanya berdua. Dia pasti akan mengajakku pindah ke kantin fakultasku atau fakultasnya.

Apaan sih, Dit! gumamku seraya menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak boleh memikirkan dia. Aku harus ingat bahwa semua manusia itu penuh kepalsuan. Akan tetapi, dia seperti tidak menyimpan kepalsuan, batin kecilku membela dan entah kenapa seluruh anggota tubuhku membenarkan.

Perasaan apa ini? tanyaku.

***

 Pertemuan 108

“Adit, kamu coba nulis juga deh. Daripada bengong gitu nungguin aku mikir.” ujarnya tanpa melihat ke arahku. Tampaknya dia sedang sibuk berpikir untuk sajaknya hari ini. “Nanti kamu jadi stress loh kalo kebanyakan ngelamun.” ucapnya lagi sembari tersenyum simpul.

Tiba-tiba, dia berhenti berpikir. Lalu, mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dan menyodorkannya kepadaku.

“Aku harus nulis apa, Az?” tanyaku bingung. Sekarang aku sudah bisa berbicara lancar. Azkia selalu mengajarkanku untuk berbicara tanpa imbuhan ‘eng’ dan ‘anu’ lagi. Aku sendiri terkadang lucu ketika mengingat betapa canggungnya aku, dulu.

Azkia memang mengajarkan banyak hal kepadaku. Salah satu yang paling merubahku adalah tentang agama. Aku memang memeluk Islam sejak lahir. Tetapi orang tuaku tidak terlalu peduli dengan agama. Alhasil, aku sangat jarang shalat. Bahkan, aku buta huruf Arab.

Azkia kaget ketika mengetahui semua itu. Akan tetapi, dengan senyum khasnya, Azkia mengajarkanku untuk bisa lebih mengenal agamaku. Mulai dari mengajak aku ke kajian-kajian di Masjid Universitas hingga memaksaku mengikuti mentoring keagamaan. Sejak itulah, aku perlahan-lahan sadar tentang agamaku.

Ya, Azkia sangat berjasa bagi hidupku, gumamku.

“Apa?” tanya Azkia yang tiba-tiba hingga membuyarkan lamunanku.

“Oh nggak apa-apa. Hehe.. Aku mulai nulis ya,” jawabku mengalihkan pembicaraan. Ups aku keceplosan, batinku.

30 menit kemudian

            “Bagus tuh tulisan kamu.” komentarnya sembari mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum ketika membaca tulisanku. “Tapi harus diperbaikin lagi. Terutama yang ini, dan yang ini, terus yang ini, oh iya yang ini juga. Eh ini juga. Kamu itu yang ini terlalu kayak gini” seperti biasa, ocehan panjang Azkia segera keluar. Aku hanya tersenyum kecil.

“Ups, maaf, maaf aku ngomong terlalu panjang.” pintanya sembari menunduk dan kini aku sudah bisa tertawa ketika melihatnya..

“Eh jawab dong pertanyaannya!” pintaku sembari mengangkat alis mata.

“Loh yang mana?” tanyanya ketika mengangkat kepala. Gaya khasnya menempelkan telunjuk di pipi pun keluar.

“Itu lho yang di tulisanku.” ucapku sembari menunjuk kertasku.

“Oh ini pertanyaan buat aku beneran?” tanyanya kaget.

“Yups.” jawabku sembari mengangkat bahu.

“Hmm. Mau nggak ya?” ucapnya sembari memicingkan mata ke arahku. Dia berusaha menggodaku dengan berpura-pura tidak mau, gumamku. Akan tetapi, aku sebenarnya cukup khawatir jika kemudian dia tidak mau dan justru mendebatku.

“Dan jawabnnya….. mau” jawabnya pelan. Pipinya memerah. Entah benar atau tidak, menurutku ini ekspresi muka Azkia yang paling lucu.

Aku dan Azkia kemudian menatap Danau Mahoni, mendapati cahaya sunset terekstraksi ke seluruh penjuru. Angin senja mulai bertiup, memainkan rambutku dan jilbab panjang Azkia. Pepohonan berdansa di sekeliling kami.

Subhanallah…” ucap kami bersamaan. Azkia menengok ke arahku. Aku yakin dia kaget ketika aku mengucapkan tasbih karena aku sendiri kaget mendapati diriku mengucapkannya secara spontan. Aku sangat sulit mengingat bahasa Arab. Azkia kembali menatap danau sembari menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa kecil, seperti tawanya dulu ketika kami pertama bertemu.

***

Happy milad, Adit. Kapan nikah?” begitulah mayoritas ucapan yang tertuju ke arahku. Aku hanya akan tersenyum simpul ketika ditanya seperti itu. Umurku kini menginjak 26 tahun. Bagi masyarakat umum, umur sekian belum waktunya menikah. Akan tetapi, bagi kalangan sahabatku, umur 26 sudah terlambat untuk menikah. Bahkan, teman-teman mentoring keagamaanku sudah menikah semua. Padahal umur kami sepantaran.

Aku sendiri sebenarnya tidak memiliki alasan untuk terlambat menikah. Umurku sudah cukup. Penghasilanku di atas rata-rata. Bukan ingin menyombongkan diri, tetapi semua orang sudah mengenal Aditya Harin sebagai Direktur Marketing dari sebuah perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia. Selain itu, aku juga terkenal sebagai penulis novel yang best seller. Aku juga sudah menyelesaikan pendidikan S2-ku di Australia dengan mengambil bidang seni. Satu-satunya penyebab aku tidak segera menikah hanyalah kesibukan saja.

Menariknya, semua pencapaianku saat ini tentu tidak terlepas dari satu sosok perempuan bernama Azkia Nur Rahma. Baru satu bulan yang lalu, dia menyelesaikan S3-nya dari University of Tokyo dan kembali ke Indonesia.

Momentum perubahan itu terjadi ketika aku pertama menulis. Sejak saat itu, Azkia selalu mengajariku mengenai cara menulis, terutama untuk fiksi. Di akhir masa kuliah, aku mengajak Azkia untuk mempublikasikan karya kami, baik aku maupun Azkia.

Namun, seperti semula, Azkia tidak ingin membagi ceritanya kepada orang lain. Awalnya, aku tidak ingin mempublikasikannya juga. Aku tidak percaya diri jika tidak ada Azkia. Bagaimana pun, dia yang membimbingku menulis. Akan tetapi, Azkia kemudian mengutip sajak keduanya.

Batu mungkin lebih berat, tapi kertas tak terbang lebih baik darinya. Kamu mungkin merasa lebih berat untuk diangkat. Tapi nyatanya, berat itu yang membuatnya bisa terbang lebih tinggi ketika dilempar.”

Alhasil, aku mengirimkan karyaku ke penerbit dan ternyata karyaku diterima. Aku kemudian memperdalam dunia literatur dan sastra sembari mengambil S2 di Australia. Sedangkan Azkia memutuskan untuk memperdalam mengenai budaya Jepang dengan melanjutkan kuliah di sana.

Tahun ini, harusnya Azkia sudah tidak punya alasan untuk tidak menikah, batinku berbicara.

***

Epilog

Rabu, 18 Maret 2020

Aku melangkah menyusuri tempatku menuntut ilmu dahulu, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sudah banyak yang berubah rupanya, gumamku. Aku terus melangkah menuju ujung fakultas ini dan mendapati jembatan Teknik Sastra masih seperti yang dulu. Agin sejuk melambai pepohonan dan rambutku. Perbedaan terlihat di danau yang lebih jernih dan tidak adanya sepasang kekasih yang menikmati pojokan danau. Ya, lebih tertib, gumamku lagi.

“Maaf, maaf, maaf, aku tidak bisa menepati janjiku,” kemarin sebuah telepon masuk tiba-tiba dan penelponnya berbicara seperti itu. Tentu, aku tidak butuh perkenalan untuk mengenalnya. Aku hanya tersenyum, berusaha mengikhlaskan.

Jembatan mungkin mengubungkan segalanya. Tetapi, bagaimanapun fana dan nyata berbeda. Rencana tetaplah rencana, takdir tidak bisa dilawan bukan?” balasku dengan mengutip sebuah sajaknya, sembari tertawa renyah. Entah kenapa suara di seberang telepon seakan menghilang beberapa saat.

“Terima kasih, Adit.” suara pelan terdengar tiba-tiba. Suara itu seakan tertahan oleh isak tangis dan tarikan nafas sang pengucapnya. Tangis bahagia, ucap batinku lagi, berusaha mengikhlaskan.

Matahari akan segera tenggelam, aku beranjak pergi sembari meninggalkan dua kertas, membiarkan keduanya terbawa angin menuju Danau Mahoni, tempat semua sajak bermula.

Kertas pertama

Pertemuan 108 – Tulisan Pertama

Pernahkah kau tahu arti sahabat surga,
Dia penolong benalu.

            Dia Anggrek.

            Andai sebuah Anggrek punya kata,

            Ada satu Anggrek yang ikhlas berbagi,

            Memberi nutrisi pada benalu

Di sini, sejuta sajak telah lahir

Bersama angin, dedaunan dan mungkin bangunan.

Ini akan jadi sejarah, bagi penyair dan penikmat.

            Anggrek dan benalu

            Biarlah tahun berputar empat

Maukah kembali di hari yang sama?

 

Aditya Harin

Rabu, 18 Maret 2016

 

Kertas Kedua

Undangan Pernikahan

Yusuf & Azkia

Rabu, 18 Maret 2020

 

Untuk Saudara

Aditya Harin

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 7,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Arfath
Anak laki-laki kelahiran Lumajang tahun 1995 ini sangat menyukai cerpen. Ia memulai kepenulisan saat masih bersekolah di MTs Husnul Khotimah. Ia, yang aktif dalam Forum Lingkar Pena ranting MTs, mendapat didikan dari seorang penulis FLP Jawa Tengah, Sunarno. Selama SMA, pemilik nama asli Muhammad Miqdad Robbani ini kurang aktif menulis cerpen dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis essai di blognya. Saat ini, ia berstatus sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia di jurusan Manajemen.
  • Romi Syaputra

    assalamu’alaikum..,,
    bagus skali ceritany.. menginspirasi,,
    mudah2an aq,qta semua dipertemukan dengan sosok wanita yg sprti itu..
    wanita soleh,, rendah hati,baik budi pekerti,,, melengkapi kekurangan yg qta miliki…
    aamiin..,,,,

  • Eva

    kesimpulan ceritanya sih cuma kasih tak sampai, tapi isi jalan ceritanya hadehhhh sumpehhh muter2 gak jelasss…cuma nunjukin jenjang karir akademisi doank tuh…#namanyajugacerpenfiktif#

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization