Home / Berita / Nasional / Dugaan Pelanggaran HAM, Mega: Prabowo itu Korban, Sama Seperti Saya

Dugaan Pelanggaran HAM, Mega: Prabowo itu Korban, Sama Seperti Saya

Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto saat maju sebagai pasangan Capres dan Cawapres pada Pilpres 2009.  (viva.co.id)
Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto saat maju sebagai pasangan Capres dan Cawapres pada Pilpres 2009. (viva.co.id)

dakwatuna.com – Jakarta. Topik seputar debat Capres-Cawapres senin (9/6/14) terus ramai dibicarakan berbagai kalangan. Dan dari sekian pertanyaan yang diajukan malam itu, pertanyaan yang diajukan Jusuf Kalla kepada Prabowo seputar dugaan pelanggaran HAM menjadi topik yang paling hangat dibicarakan.

Ada sebagian masyarakat yang menilai, pertanyaan tersebutlah yang membuat pasangan Jokowi-JK ‘memenangkan’ debat perdana capres-cawapres.

Namun sebagian lagi masyarakat menilai, pertanyaan tersebut justru membuat prabowo berada ‘diatas angin’. JK tanpa sadar telah memberikan ruang bagi Prabowo untuk mengklarifikasi tuduhan tersebut kepada seluruh Rakyat Indonesia. Bahkan salah seorang timses Prabowo menganggapnya sebagai sebuah berkah.

Terlepas dari itu, sebenarnya agak aneh jika JK mengajukan pertanyaan terkait dugaan pelanggaran HAM tersebut. Pasalnya pada 2009 ketika dirinya maju sebagai capres dari Partai Golkar, isu HAM yang melekat kepada Prabowo sudah dijawab.

PDI Perjuangan yang kini (Pilpres 2014) mendukung JK sebagai cawapres telah menjelaskan dugaan tersebut. Bahkan yang berbicara pada waktu itu adalah Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum.

Catatan yang berhasil dikumpulkan INILAH.COM, Mega menyebut ada pihak lain pelanggaran HAM oleh rezim Orde Baru, termasuk kasus 27 Juli. Prabowo pun, menurut Mega saat itu, punya hak membela diri.

“Saya tahu di balik itu ada diri orang lain. Sama seperti saya. Saya victim, korban,” ujar Mega dalam acara silaturahim dan makan bersama dengan para rektor, pengusaha, guru, dan tokoh masyarakat di The View Kota Bandung, Sabtu (20/6/2009) .

Isu HAM seharusnya sudah clear, terutama bagi PDI Perjuangan, karena Mega maju bersama Prabowo pada Pilpres 2009. Begitu pula saat ini, PDI Perjuangan mendukung JK sebagai cawapres.

Entah ada maksud apa dibalik pertanyaan JK tersebut. Apakah hanya sekedar untuk memanaskan suasana atau memang sudah di setting dari awal sebagai bagian dari cara untuk mengganggu konsentrasi Prabowo. (sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (52 votes, average: 8,02 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • sefrina sari

    Yg pasti pertanyaan JK itu adlh kwalitasnya… kita bisa ukur dan jdi smkin tahu siapa JK.
    klo skrg malah kubu pdi yg gencar menghujat prabowo yg dulu notabene adlh pasangan cawapres mega, itu normal… krn sang jendral adalah ancaman bgi mrk. Dua kubu lama berkualisi, jd saling tau kelemahan. tp pak bowo lbh memakai cara mulia dlm bersaing…
    smga yg hitam terlihat hitam dan putih terlihat putih…
    kondisi skrg adlh abu abu…
    kebenaran punya cara sendri memperlihatkan wujudnya, wlw disemnbunyikan di bawah palung laut sekalipun…

  • Suparjono Jono

    Yang jelas dan pasti tudingan terhadap Prabowo adalah pepesan kosong dan bentuk kampanye hitam. Tiga tokoh Reformasi (Prof Dr. Amin Rais, M.Sc, Jend (Purn) KIvlan Zein dan Pius L telah menjelaskan secara rinci bahwa Prabowo tidak melakukan hal itu. Disamping itu juga Presiden saat itu (Prof. Dr. BJ Habibi) juga memberikan penjelasan secara rinci dalam bukunya yang berbunyi “”Saya percaya bahwa iktikad dan niat Prabowo untuk melindungi saya adalah tulus, jujur, dan tepat,” terang Habibie.).

  • Anton Akong

    AU AHHHHH……..KMAREN LO KAMPANYE NGOMONGNYE MASALAH PRABOWO MELANGGAR HAM……HADEUHHHHHH…..CEPE DEHHHHHHH

Lihat Juga

Laporan HAM: 215 Kasus Penghilangan Paksa di Mesir Selama Dua Bulan Terakhir