Home / Berita / Opini / Fenomena Feminis Menyerang Poligami

Fenomena Feminis Menyerang Poligami

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Di Indonesia kita mengenal film “Ayat-ayat Cinta” yang bercerita tentang poligaminya tokoh Fachri. Poligami yang terlihat indah. Namun film itu tidak memberikan teladan bagaimana bentuk poligami yang ideal itu. Memang, begitulah perfilman Indonesia. Hanya memberikan sensasi cinta. Jarang menyajikan teladan.

Di sisi lain, Nia Dinata, seorang aktivis feminis liberal meng-counter konsep poligami dalam Islam. Ia tidak melihat poligami sebagai solusi. Tapi dalam pandangannya, poligami adalah penindasan akan martabat perempuan. Hal ini dituangkan dalam film besutannya, “Berbagi Suami” (2006). Benarkah konsep poligami dalam Islam merendahkan martabat perempuan?

Sebenarnya, Nia Dinata tidak melihat Islam secera menyeluruh. Mungkin ini masuk akal karena semenjak kuliah di Amerika Serikat, 1992, ia telah larut dalam liberalisme seni. Gairah seninya memuncak. Akhirnya, pada tahun 1993, Nia Dinata diterima di Sekolah Film Program NYU Tisch School of Art. Lambat laun, Nia Dinata semakin liberal. Terbukti dengan menikahnya ia dengan seorang kafir, Constantine Papadimitriou. Bahkan, ia pernah mempersilahkan puteranya untuk berzina, kalau memang menginginkan. Na’udzubillah min Dzalik.

Adian Husaini pernah mengatakan bahwa seni itu indah. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyukai keindahan. Namun, bila seni tanpa adab, itu yang salah. Seni tanpa adab memang akan menjadi masalah. Terlebih bila seni digunakan untuk menentang Islam. Ulama sepakat, bagi sesiapa yang menghina sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dihukumi kufur.

Ada sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra tentang keberkahan poligami. Sa’id bin Jubair ia berkata, Ibnu Abbas pernah bertanya kepadaku, “Apakah kamu sudah menikah?” Aku menjawab, “Tidak.” Ia kemudian berkata, “Menikahlah, karena orang yang terbaik dari ummat ini adalah seorang yang paling banyak Istrinya.” (HR.Bukhari no. 4681)

Abdullah Ibnu Abbas atau akrab disapa dengan Ibnu Abbas adalah seoraang yang Ghaniy (kaya) dan merupakan sahabat Rasulullah yang keilmuannya tidak diragukan lagi. Dan menjadi tidak mungkin ia menyelewengkan karunia ilmu dan harta dari Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk nafsunya. Dan tidaklah pula “yang paling banyak Istrinya” ini diartikan jumlah tanpa batas. Allah ta’ala membatasinya dengan 4 saja (QS. an-Nisa’ : 3). Kalimat “فَإِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً” adalah kalimat yang bersifat kiasan (bunga kata).

Nazhat Afza dan Khurshid Ahmad dalam bukunya “The Position Of Woman In Islam” mengakui bahwa ada segelintir umat Islam yang menyalahgunakan kemubahan poligami. Ia mengakui bahwa di antara muslimin ada yang berpoligami hanya untuk kesenangan nafsu duniawinya saja. Keduanya menganalisa bahwa fenomena ini diakibatkan oleh kurangnya Ilmu Syari’at dan salahnya niat sang suami.

Lebih lanjut, mereka berdua menjelaskan bahwa sebenarnya poligami adalah solusi. Solusi ketika seorang suami itu memiliki hasrat seksual yang sangat tinggi, ketika jumlah wanita dalam suatu negeri lebih banyak dari laki-laki, atau ketika seorang laki-laki memiliki kekayaan yang berlampau. Laki-laki yang memiliki hasrat seksual yang tinggi, bila sang istri tidak dapat memuaskannya sedang suami tidak dapat menyalurkannya, maka ia akan mencari pelarian.

Bila pelariannya adalah kepada yang halal, maka tidak menjadi masalah. Namun, bila pelariannya kepada pelacur atau dengan mencari selingkuhan, maka inilah yang berbahaya. Berbahaya bagi diri, keluarga dan agamanya. Ini belum termasuk bahaya terkenanya penyakit kelamin.

Nazhat Afza dan Khurshid Ahmad juga menjelaskan bila seorang lelaki memiliki kekayaan yang banyak sekali, sedang ia hanya hidup dalam satu keluarga kecil, maka hartanya hanya menumpuk. Menumpuk tanpa memberi manfaat yang luas. Islam mencela jenis orang yang menumpuk-numpuk harta, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. al-Humazah :1-4)

Dengan menikahi lagi seorang perempuan miskin, perawan tua atau janda beranak banyak, sang suami telah menghidupi tidak hanya satu keluarga lagi. Tapi juga menentramkan hati perempuan yang dinikahinya. Tidak mudah bagi suatu keluarga miskin menjalani kehidupan, terlebih menghidupi anggota-anggota keluarganya.

Dengan dinikahinya gadis dari keluarga miskin ini, berarti sang laki-laki telah mengangkat derajat perempuan itu dan juga keluarganya. Perempuan yang tidak kunjung menikah akan menimbulkan akibat fatal. Tidak menutup kemungkinan sang perawan tua akan meniti hidupnya dalam kegetiran, depresi dan menderita dalam kesendirian. Seorang janda, harus melaksanakan dua peran sekaligus. Peran ayah pencari nafkah dan peran ibu pendidik anaknya. Ini adalah ujian yang terlampau berat baginya. Bila kita mau mencoba membuka mata, maka poligami adalah solusi atas problem ini.

Selepas Perang Dunia II, di Jerman Barat sempat terjadi krisis demografi. Jumlah wanita dan anak-anak jauh melampaui jumlah laki-laki dewasa. Parlemen mengusulkan untuk membuat kebijakan poligami. Agar poligami ini tidak diselewengkan, maka beberapa anggota parlemen Jerman Barat mendatangi Universitas al-Azhar Mesir. Mereka ingin mempelajari konsep poligami yang ideal kepada para Ulama al-Azhar. Akhirnya, keluar kebijakan anjuran kepada laki-laki yang memiliki kemampuan kekayaan untuk menikahi janda-janda korban perang. Menakjubkan, beberapa dekade berikutnya, Jerman bangkit dari krisis ketimpangan penduduk itu.

Di seberang lautan sana, tepatnya di Amerika Serikat, berkembang sebuah sekte Kristen Fundamentalis, yakni Sekte Mormon. Berpijak pada ayat-ayat Bible yang membolehkan para Nabi ‘Alaihimus Sallam untuk berpoligami, Warren Jeffs salah satu tokoh sekte pun mengamalkannya. Namun, suatu kesalahan dilakukannya. Ia tidak dapat menyusun konsep poligami yang sempurna seperti dala Islam. Ia terjebak dengan nafsunya hingga ia memiliki lebih dari 20 istri.

Para pengikut sekte ini benar-benar mengikuti langkah baik Jeffs dan membuang langkah buruknya. ‘Ala kulli hal, banyak sekali ditemukan pasangan poligami sekte Mormon yang harmonis. Entah, apakah dengan niat murni mengamalkan ayat-ayat Bible atau karena tekanan media dan para aktivis feminis liberal, entahlah. Memang, setelah Jeffs ditahan atas tuntutan para aktivis feminis dan tuduhan kejahatan federal, sekte ini menjadi perbincangan yang menggemparkan di Amerika Serikat.

Kembali kepada masalah film. Hujatan dan sinisme tidak hanya meluncur dari mulut aktivis feminis. Tetapi juga dituangkan dalam film garapan Leif Tilden dengan judul “Big Love” (Rilis tahun 2012). Dalam film ini digambarkan para istri saling tarik-menarik hati sang suami dengan penuh keegoisan. Ini berimbas pada terbengkalainya anak-anak mereka. Licik. Itulah yang memang dilakukan feminis, sekularis, pluralis, liberalis, apatis, sofis dan semua jenis pemikiran penentang agama lainnya. Selalu membuat makar untuk meruntuhkan tatanan agama.

Konsep Poligami dalam Islam begitu rapi dan begitu Indah. Dan inilah barangkali yang menjadi keunggulan Islam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan banyak petuah dan nasihat mengenai kehidupan keluarga umumnya dan poligami khusunya. Bahkan, banyak ulama yang telah membahas detail-detail mengenai poligami. Bagaimana niat, ilmu, manajemen, problem solving dan lain sebagainya. Hanya tinggal kita sendiri. Apakah mau menggali ilmu-ilmu peninggalan yang amat berharga ini atau senang mendengarkan celotehan para feminis? Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing.

Ini juga sekaligus pesan bagi para wanita agar berilmu syar’i dan siap melatih hatinya. Dan nasehat bagi pria agar memiliki ilmu syar’i sebelum beramal. Dan pentingnya untuk meluruskan dan menjaga niat. Terakhir, semoga ini bisa menjadi pacuan bagi para seniman yang memiliki komitmen keislaman untuk membuat film atau karya seni lainnya yang mendakwahkan keteladanan, keindahan dan kesempurnaan Islam.

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu. Karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS. an-Nisa : 76)

Wallahu A’lam Bish Shawwab. (dakwatuna/Pirman/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Info lebih lanjut mengenai saya, silahkan klik blog saya, terima kasih

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini