Bunda…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (vivanews.com)
Ilustrasi. (vivanews.com)

dakwatuna.com – Bunda..

Bila putihnya awan di langit biru yang menghampar luas dapat kutuliskan kebaikan-kebaikanmu, niscaya pasti aku membutuhkan awan-awan lainnya di langit setelah langit bumi.

Bunda, sungguh perumpaan itu menunjukkan betapa kertas di buku tidak akan cukup menuliskan segala cinta dan sayangmu padaku.

Bunda..

Bila kuberada di puncak gunung, kudapati angin menyentuh kulitku sehingga kesejukan dapat kurasakan.

Belum lagi panorama dari atas puncak gunung yang menawan membuat hati tertawan keindahan yang disuguhkan oleh-Nya.

Begitulah aku, bila memandang senyum indahmu. Ah, betapa kesejukan itu merasuk sampai relung-relung hati hingga serasa berada di surga.

Bunda, senyummu obat paling ampuh untuk mengembalikan semangat yang tersandera rutinitas.

Bunda..

Bila laut itu luas dan dalam, maka cintamu padaku lebih dalam dan lebih luas dari lautan itu.

Betapa romantisnya membayangkan diri berada di pinggir pantai dengan mentari sore yang hampir menenggelamkan diri.

Syahdu.. Syahdu sekali. Ditambah semilir angin pantai. Terdengar harmonisasi debur ombak dan lagu dedaunan yang disapu angin.

Engkau, dengan do’a-do’a yang senantiasa dipanjatkan kepada-Nya adalah kesyahduan yang paling romantis untukku. Itulah nikmat yang tidak dapat digantikan oleh apapun dan oleh siapapun.

Bunda..

Madu itu manis lagi sehat. Nasihatmu bagai madu. Tanpa itu, bagaimana luka-luka di hatiku dapat terobati?

Setiap untai kata yang keluar dari lisanmu adalah harta berharga untukmemperbaiki diri dan bekal mengarungi samudera kehidupan.

Bunda..

Lihatlah burung itu. Terbang tinggi. Sampai hilang dari pandangan.

Mungkin, anakmu ini, kelak akan seperti burung itu. Membawa senyum, nasehat, doa, dan cinta yang terus mengalir dari Ibunda untuk Ananda.

Bunda..

Engkau adalah rahmat Allah. Engkau adalah ridha Allah. You are my everything. Terimakasih bunda. Sesungguhnya, hanya surga yang layak untukmu. Semoga Allah mengumpulkan kita sekeluarga utuh berada di taman surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Bunda. Maafkan aku. Ampuni khilafku. Sungguh, aku menyayangimu sepenuh jiwa ragaku..

Barakallah fii Umrik, Bunda..

Dedicated for my mom and all mothers in this world

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lina Mustaqimah S
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization