Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pemberian Sang Raja

Pemberian Sang Raja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Seorang kakek renta yang sedang shalat. (Adit Purana)
Seorang kakek renta yang sedang shalat. (Adit Purana)

dakwatuna.com – Tersebutlah suatu negeri yang dipimpin oleh seorang Raja adil dan bijaksana. Rakyatnya hidup secara damai dan tenang. Dalam satu minggu, satu hari digunakan Raja untuk membagikan hadiah kepada rakyatnya sebagai bentuk rasa peduli dari kerajaan. Sekaligus untuk memperkuat tali silaturahim antara pihak kerajaan dan rakyat.

Pada hari yang sangat dinanti-nantikan oleh rakyat, sebab pada hari itu semua rakyat akan mendapatkan hadiah langsung dari sang Raja. Semakin awal rakyat yang hadir maka akan semakin besar pula hadiah yang diberikan. Maka dari itu, setiap rakyat menantikan kedatangan satu hari tersebut.

Sebelum hari yang dinantikan tiba. Para hulubalang utusan kerajaan memberikan pengumuman kepada setiap rakyat bahwa kado yang akan diberikan Raja sesuai dengan usaha kedatangan yang dilakukan oleh rakyat. Kado terbesar akan dibagikan tepat waktu sesuai dengan waktu yang tertera di pengumuman.

Di malam hari H, semua rakyat bersiap-siap agar besok hari bisa hadir lebih awal dan tepat waktu agar mendapatkan hadiah yang besar daripada rakyat yang terlambat ataupun hadir belakangan.

Hari H pun tiba. Benar apa yang diumumkan oleh hulubalang. Raja memberikan hadiah yang besar bagi rakyat yang hadir lebih awal bahkan ada yang hadir sebelum jam pemberian hadiah, dialah yang mendapatkan hadiah lebih besar daripada rakyat yang baru datang setelah acara dimulai. Suatu bentuk keadilan yang nampak dicontohkan oleh sang Raja.

Satu persatu rakyat maju menghadap sang Raja untuk mendapatkan hadiah sesuai dengan urutan kehadirannya. Semakin awal, semakin berada di barisan terdepan dan memperoleh hadiah yang besar. Semakin belakang posisi rakyat, maka hadiah yang diberikan Raja semakin kecil.

Namanya rakyat, mau hadiah besar ataupun hadiah kecil tetap mereka harapkan. Apalagi hadiah yang langsung diserahkan oleh pimpinan mereka.

Hari itu menjadi hari istimewa bagi rakyat yang tinggal di dalam naungan kerajaan. Semua rakyat yang tinggal di dalam naungan kerajaan, asalkan patuh dan taat terhadap perintah ataupun larangan Raja, maka dia akan mendapatkan perlindungan dan penjagaan dari pihak kerajaan.

Berbondong-bondong rakyat menuju rumah masing-masing setelah mendapatkan hadiah dari Raja. Ada yang merasa sangat senang sebab mendapatkan hadiah terbesar atas usahanya hadir lebih awal menghadap Raja, ada pula yang merasa biasa-biasa saja karena hadir sesuka hati bahkan menjadi orang yang berada di urutan terakhir dalam pengambilan hadiah.

Setelah pulang menuju rumah, rakyat pun berharap minggu depan pada hari istimewa tersebut dapat kembali memperoleh hadiah yang lebih besar daripada hari ini.

Momen satu minggu sekali itulah yang paling diharap-harapkan rakyat. Sebab di sana mereka bisa berinteraksi langsung dengan Raja. Baik berbicara ataupun hanya sebatas berkumpul di kerajaan. Waktu yang sangat istimewa itu tak disia-siakan oleh rakyat. Apapun yang ingin mereka sampaikan kepada Raja, pada hari itu mereka sampaikan tanpa perantara siapapun dari pihak kerajaan.

Sahabat, sadarkah kita bahwa kitalah yang menjadi rakyat tersebut? Namun, Raja yang kita miliki bukan Raja seperti cerita di atas. Tapi, Raja yang setiap hari melimpahkan rahmat dan kasih sayang yang tak terhingga.

Dia mengundang hamba-hamba-Nya untuk hadir di rumah-Nya setiap hari selama lima kali. Hampir sama seperti cerita di atas, semakin awal seorang manusia berada di rumah-Nya, maka akan semakin besar hadiah yang diberikan berupa pahala. Tak maukah diri ini mendapatkan pahala yang besar?

Mengapa rakyat pada cerita di atas berbondong-bondong datang ke kerajaan pada hari istimewa tersebut? Ditelusuri dari cerita, ada 3 kemungkinan yang menyebabkan mereka ingin selalu hadir. Pertama, rakyat ingin bertemu langsung dengan Raja. Kedua, rakyat ingin mengungapkan apapun yang ada di hati mereka. Ketiga, mendapatkan hadiah dari Raja.

Waktu yang diberikan oleh kerajaan untuk hari istimewa dalam satu minggu hanya satu hari. Sedangkan umat Islam diberikan waktu yang istimewa lima kali dalam sehari. Tetapi, tidak semua orang memaksimalkan diri pada waktu tersebut. Padahal, lima waktu itulah saat-saat terpenting bagi seorang makhluk untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Khalik. Tanpa menunggu satu minggu lamanya seperti rakyat dalam cerita di atas. Inilah poin pertamanya, rakyat ingin bertemu langsung dengan Raja bisa diibaratkan dengan berkomunikasi langsung tanpa perantara kepada Sang Pencipta.

Poin kedua, melalui shalat pula, manusia seharusnya berkeluh kesah terhadap berbagai permasalahan yang telah melanda. Sebab solusi dari-Nyalah yang kita harapkan. Maka dari itu, curhatan yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah langsung meminta dan berbicara kepada-Nya dalam shalat lewat untaian doa-doa.

Jika sang Raja membuka sesi curhat rakyat hanya satu hari dalam satu minggu. Ini berbeda. Kita diberikan waktu lima kali dalam satu hari untuk bisa bercurhat kepada-Nya. Apapun itu. Keluh kesah, kegelisahan, berbagai masalah ataupun permintaan hendaknya kita tuju hanya kepada-Nya.

Setiap kali shalat, satu ayat yang tak pernah terlupakan selalu terbaca ketika membaca surah Pembuka ayat kelima,

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”

Di sinilah manusia mengakui, bahwa manusia hanya meminta pertolongan kepada-Nya, bukan kepada yang lain.

Poin ketiga, mendapatkan hadiah berupa pahala. Setiap orang yang mengerjakan kebaikan apapun bentuknya, pasti akan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk shalat. Ibadah yang melekat kuat untuk umat muslim di seluruh dunia. Sebab pahala shalat inilah yang akan berulang-ulang diperoleh oleh setiap insan yang mengerjakannya tiap-tiap waktu. Sehari lima waktu. Satu minggu tiga puluh lima waktu. Sebulan? Setahun?

“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal ibadah seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia sukses dan beruntung. Dan jika rusak shalatnya, maka dia merugi dan sengsara.” (HR. Abu Dawud no. 864, at-Tirmidzi 413, dan dishahihkan oleh penulis kitab Bahjatun Nadhirin, 2/255)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Belasan Masjid dan Madrasah di Myanmar Terancam Diratakan dengan Tanah