Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Resep Menghijaukan Hidup

Resep Menghijaukan Hidup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput kita. Ini adalah kalimat yang cocok menggambarkan diri yang selalu merasa tidak lebih baik dan beruntung di banding orang lain.

Ironis. Setiap manusia memang terkadang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Tidak pernah bersyukur atas apa yang telah mereka punya. Sang khalifah bumi ini memang selalu merasa ada yang kurang. Meski terkadang, dia telah lebih beruntung dari orang lain.

Saya pernah diingatkan seorang wanita mulia yang telah melahirkan saya ke atas dunia ini. “Nak, jan mancaliak juo ka ateh. Salimpanan mato wak beko.” Nak, jangan selalu melihat ke atas. Nanti perih mata kita.

Ada betulnya pesan sang Ibu. Jika kita ambil arti “lurus”nya, kemungkinan jika kita selalu melihat ke atas, ada debu yang bisa memasuki mata. Tapi, yang dimaksud oleh ibunda tercinta bukanlah seperti itu. Beliau sebagai manusia yang telah lahir terlebih dahulu mengingatkan anaknya agar tidak membanding-bandingkan nasib dengan orang yang memiliki kelebihan dari kita. Hal itu hanya akan membuat kita selalu merasa kurang. Dan ujung-ujungnya, membuat kita tidak bersyukur.

Di satu sisi kita tidak boleh membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Mungkin seperti membandingkan harta, menimbang-nimbang siapa yang kaya dan yang miskin. Jikalau kita sedih dengan kekurangan diri dan kelebihan mereka, mungkin  hanya sesak yang bertambah di dalam dada.

Rasa tidak enak ini hanya untuk mereka yang tidak berjiwa besar. Dalam agama dikenal sebagai orang yang tidak bersyukur. Seseorang dikatakan tidak bersyukur jika mereka hanya menyemai semak sesak itu, tanpa berusaha untuk memperbaiki diri.

Di sisi lain, membandingkan diri dengan orang lain memang penting sebagai bahan evaluasi. Jika mereka sukses, kita harus tahu apa yang membuat mereka sukses. Dan coba pikirkan, apakah pantas iri jika usaha kita belum seberapa dibandingkan dengan jiwa-jiwa pemilik kesuksesan itu?

Karena itu, boleh kita membandingkan diri dengan orang lain untuk tujuan memperbaiki diri. Memperbaiki semua salah yang telah kita lakukan. Sedikit banyaknya, mereka dijadikan sebagai tempat berkaca untuk pembenahan diri.

Jika dianalisa lebih lanjut, kebanyakan jiwa-jiwa sukses itu dimiliki oleh orang yang telah terbiasa susah. Karena tidak ingin terlalu lama bergumul dalam lumpur kemelaratan, akhirnya mereka mencari cara jitu untuk membalas dendam dengan dunia yang pernah melecehkannya. Jika saja dia tetap lembut pada dunia, tentu dia hanya akan terus dimangsa. Pernah saya mendengar ungkapan kalimat dari seseorang, “Jika kau terlalu lembut pada dunia, maka dunia akan keras kepadamu. Dan jika kau bisa keras terhadap dunia, maka dunia akan lembut kepadamu.”

Membandingkan diri dengan orang lain boleh-boleh saja. Asalkan kita bisa mengambil semua hikmah atas apa yang telah terjadi. Mungkin, saat ini kita hidup sederhana (baca: miskin). Maka, jadikan itu sebagai cambuk keberhasilan.

Kelemahan adalah kelebihan kita. Kelebihan adalah kelemahan kita. Sangat banyak anak orang kaya yang terlena dengan kekayaan orang tuanya. Sehingga dia beranggapan tidak perlu belajar karena ada harta orang tua yang akan menjamin hidupnya kelak. Tentu, sekaya apapun orang tuanya, jikalau dia tidak bisa mengelola, lambat laun harta itupun akan habis. Lalu, bagaimana caranya (setelah itu) menyambung hidup tanpa ada keahlian yang dimiliki? Kelebihannya terlahir dari orang kaya mendatangkan kemalasan yang menjadikan itu kelemahannya.

Karena itu, dalam hidup harus bisa mensiasati semua jalan kesuksesan itu.  Amati cara-cara jitu orang sukses. Bandingkan dengan cara kita. Dan tanyakan, apakah kita juga pantas menjadi pribadi sukses?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Tilawah Khusyuk Tak Perlu Dengan Meniru Imam Terkenal