Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Laba-Laba Merah

Laba-Laba Merah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (fotografer.net / Rahman Hakim)
Ilustrasi. (fotografer.net / Rahman Hakim)

dakwatuna.com – Menjalani hidup di antara laba-laba kehidupan. Aral itu tak selamanya kukuh membentang. Adakalanya, ia samar tak tampak. Terlena, terpedaya, hilang kewaspadaan. Terkecoh, terpikat dalam jeratan.

***

Rasanya seperti tak biasa. Banyak sekali bergelantungan di antara dahan-dahan. Dari dulu, biasanya memang ada satu-dua laba-laba besar di kebun belakang rumah. Tapi, warnanya hitam. Mulanya hanya seekor. Kali ini, ada yang berwarna merah. Mungkin musimnya sedang mendukung. Kemudian menjadi banyak sekali laba-laba merah itu.

Serangga-serangga yang berterbangan kian kemari, tak lagi bisa leluasa. Terjerat dan menjadi santapan. Jangan berharap untuk hinggap istirahat pada sarangnya. Berhadapan dengan tantangan hidup yang kian sulit.

***

Melewati satu ujian berhadapan dengan ujian lain. Tegar melewati berbagai badai. Terlena oleh angin sepoi-sepoi. Terjatuh dalam kelengahan. Gertakan tak mampu menghentikan laju. Terhenti oleh sapaan manis dan senyuman. Kukuh dalam kesulitan. Tapi terkecoh oleh keindahan.

Belantara laba-laba, jalan seperti luas terhampar. Seperti tak ada apa-apa. Lincah kesana-kemari. Menikmati. Sedang bahaya mengintai, bersiap menangkap mangsa. Saat-saat aral memperdaya, menghampiri tanpa disadari. Terjebak dalam permainan, menjadi korban pencitraan.

Betapa pun ia indah dipoles, disembunyikan dalam samar, aral tetaplah aral. Ia bisa berubah rupa. Menjadi bentuk yang lain. Mengecoh, membuat terlena dan memperdaya. Jebakan itu mesti dibuat indah dan menarik, memikat untuk dihampiri. Menyapa dengan ramah, tapi menggigit dengan tajam. Indah tapi berbahaya. Tenang tapi menghanyutkan.

Tak hanya memandang apa yang tampak. Tetapi kewaspadaan tentang apa yang berada di baliknya. Tak hanya apa yang diperlihatkan. Tetapi apa yang disembunyikan. Tak tampak, tapi mengawasi. Terasa mudah, padahal tak dimengerti. Terasa manis, tetapi umpan.

Sebenar kewaspadaan. Agar perjalanan tak terhenti sia-sia. Sebenar pengharapan. Agar perjalanan terjaga, berlanjut hingga muara akhir kemenangan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

PEMIRA, Cara PKS Jaring Capres 2014