Home / Berita / Opini / Dosa yang Membudaya Menjelang Pilpres

Dosa yang Membudaya Menjelang Pilpres

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 - (lensaindonesia.com)
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 – (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Persaingan antar kubu Capres dan Cawapres sudah menjadi tradisi turun temurun yang selalu merebak menjelang pemilu. Apalagi, pada Pemilu Presiden kali ini hanya menjagokan dua pasang calon Presiden beserta wakilnya. Dan hal ini, baru pertama kali terjadi semenjak pemilihan langsung dilakukan di Republik ini. Tak ayal lagi, aura “tempur” semakin terasa takkala ditemukan bukti-bukti persaingan secara tidak sehat yang ditemukan dari keduanya. Semenjak penetapan nomor urut dan kampanye terbuka, suasana semakin memanas seiring dengan merebaknya kasus-kasus seperti black campaign yang tidak terkendali dan semakin memperkeruh suasana jelang Pilpres kali ini.

Maraknya  kasus black campaign antar kedua kubu membuktikan bahwa pilpres kali ini sudah melenceng jauh dari tujuan utama kedua calon kandidat Presiden. Mereka yang seharusnya menyibukkan diri untuk semakin memantapkan visi dan misi serta tujuan utama memimpin negeri ataupun memperbanyak kegiatan positif untuk rakyat, justu melakukan hal sebaliknya. Mereka saling ejek dan menjatuhkan nama baik antara saingannya. Saling hina, melecehkan, mengadu domba dan segala perbuatan buruk lain yang terjadi dalam kampanye hitamsudah sangat melenceng jauh dari sistem persaingan sehat dan juga berpengaruh negatif dalam tataran agama yang mengharuskan siapapun untuk tetap berlaku baik dan bersaing secara sportif kepada lawan dalam suatu kompetisi.

Pemilu Presiden selalu menjadi polemik di antara kaum muslimin. Terkadang, tidak sungkan-sungkan untuk mencela dan tanpa sadar malah mengghibah kepada sesama muslim. sudah seharusnya kita selalu menyikapi segala sesuatu itu dengan adil. Bagaimanakah seorang muslim menyikapi polemik terhadap pemilihan sesuatu?

Melihat kondisi tersebut, agaknya kedua kubu sudah tidak memperhatikan persaingan dari sisi agama. Tetapi hanya mengutamakan kemenangan dari kubu yang dijagokan. Memang, masalah ini adalah masalah yang besar, tentunya dalam Islam. Berbicara masalah Pemilu, sebenarnya memang tidak sesuai dengan syariat Islam itu sendiri. Karena urusan Pemilu bukan berasal dari Islam, tetapi berasal dari demokrasi. Namun kenyataan yang ada, kita dihadapkan pada kondisi seperti ini, justru kita sering melihat calon saling menjelek-jelekkan. Padahal, selaku penduduk yang mayoritas beragama Islam, hal ini tentunya dapat sedikit diminimalisir tanpa terus-terusan larut dalam upaya mencari kesalahan dan keburukan orang lain, tanpa bukti dan alasan yang jelas.

Tidak berhenti disitu, kebanyakan para pelaku yang terlibat dalam politik praktis hampir keseluruhannya selalu memiliki kecenderungan untuk menjadi sosok yang gemar sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya, boleh saja kita melakukan kritik. Karena kritik adalah koreksi atas kesalahan sehingga terhindar darinya untuk kali kedua. Adapun menghina adalah sikap merendahkan dan meremehkan pribadi pelaku kesalahan tanpa memandang kerja keras dan usaha yang dilakukan.

Oleh karena hal tersebut, mari sedikit kita merenungi dan mengingat. Apakah sudah sangat tepat suatu hinaan dan kritikan kita terhadap orang yang dikritik? Atau, justru dengan celaan kita telah mengundang suatu ghibah dan justru menjurus kepada adu domba antar sesama muslim lainnya? Kita jangan sampai termakan suatu isu yang tidak ada kenyataannya atau dibesar-besarkan.

Hukum Menghina Orang Lain

Padahal, jelas Rasulullah sangat melarang kita menghina sesama saudara seiman seperti dalam sebuah hadits, “Adalah sebuah keburukan yang nyata, apabila seorang muslim menghina saudaranya.” (HR. Muslim)

Kebanyakan orang yang suka menghina saudaranya adalah orang-orang yang suka mencari kesalahan dan kekurangannya dibanding meneliti kebaikan dan keutamaannya. Orang yang sepanjang hidupnya memilki perilaku seperti ini, selamanya tidak akan pernah memiliki rasa tertarik kepada siapapun, dan selamanya tidak akan mampu melakukan perbaikan apapun. Sunnatullah yang berlaku pada manusia, kecuali para Nabi dan Rasul, diri mereka terbangun di atas gabungan dua hal, kekurangan dan kesempurnaan. Jadi tidak adanya kesempurnaan tanpa adanya kekurangan.

Dalam Hadist yang lain, Rasulullah juga bersabda, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah). Jika ia tak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya.” (HR. Muslim )

Islam sangat menjunjung nama baik dan kepribadian setiap orang khususnya seorang muslim. Namun, pada kenyataannya, hal ini tidak pernah kita indahkan dalam kehidupan sekarang. Apalagi dalam masa kampanye Pemilihan Presiden yang sedang berlangsung, sangat sering kita jumpai bahkan kita dengarkan langsung bagaimana para elite dalam berkampanye yang selalu mengedepankan dan mengangkat isu-isu yang terkait permasalahan keadaan jasmani, agama, kekayaan, hati, akhlak, bentuk lahiriyah dan sebagainya. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-olok. Sungguh, hilang arahkah para pelaku politik hari ini?

Seorang ahli hikmah berkata, aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan. Namun, aku seringkali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya. (mengutip Jalan Dakwah)

Walaupun dalam berkampanye, seharusnya kita sebagai umat Islam tidak berhak untuk mencari-cari kesalahan orang lain, lalu menyebarkannya. Apalagi berusaha mempermalukan orang tersebut di depan umum dengan menggunakan ilmu dan kepandaian kita. Tetapi, tonjolkanlah kelebihan yang kita miliki, utarakan visi misi, perjelas track record dan prestasi yang dimiliki. Sehingga menjadi nilai tambah bagi kita dalam berkampanye dan mendapat simpatik yang lebih dari masyarakat yang mendengarkannya.

Semoga kita bukan orang-orang yang membudidayakan dosa karena jelas dosa adalah suatu yang sangat kita hindari. Dengan demikian, lebih baik selalu mengintropeksi diri kita sebelum menilai orang lain. Silahkan melakukan kampanye sesuai dengan aturan dan anjuran undang-undang yang berlaku dan sebisa mungkin menghindari perbuatan-perbuatan yang tercela dan dibenci oleh agama dan Allah. Seperti mencela, menghina dan mengadu domba orang lain. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan hadirnya seorang pemimpin negeri yang lebih peduli terhadap rakyatnya dan menjadi penerang dalam urusan agama-Nya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mustafa Kamal, S.ST.
Alumnus Politeknik Negeri Lhokseumawe. Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan 4 (2014).

Lihat Juga

Donald Trump, presiden AS ke-45. (blogspot.com)

Kemenangan Trump Dipastikan Untungkan Israel

Organization