Home / Berita / Opini / Harta dan Jabatan

Harta dan Jabatan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Imam An-Nawawi pengarang kitab Matan Arba’in yang disyarah dalam kitab Majalisus Saniyah menceritakan suatu hikayah. Dalam suatu negeri yang Raja telah meninggal tanpa meninggalkan pengggantinya. Setelah masyarakat bermusyawarah, akhirnya berbondong-bondong dari desa dan seluruh penjuru kota keluar untuk mengankat Raja yang baru. Setelah Raja tersebut dipilih, Sang Raja berkuasa dengan sewenang-wenang mengumpulkan upeti dan pajak yang banyak. Sedangkan kehidupan rakyatnya morat-marit dalam kelaparan.

Adapun kehidupan Sang Raja begitu mewah. Semua makanan terhidang di hadapannya. Saking asyiknya menikmati kemewahan tersebut membuat Raja tidak keluar dari Istana sedikit pun. Waktu pun berlalu begitu lama. Sang Raja berkehendak keluar dari istana untuk melihat kondisi rakyatnya. Ditemani oleh pasukan pengamanan yang berpakaian besi ala pasukan perang, Sang Raja terus berjalan di atas kudanya yang diletakkan kursi terbuat dari emas dan permata delima.

Balasan Setimpal

Di tengah perjalanan tersebut, ada seorang Kakek berpakaian compang-camping bermaksud ingin bertemu dengan Raja secara langsung. Namun dihalangi oleh pasukan keamanan Raja. Terjadilah keriuhan antara pasukan tersebut dengan seorang Kakek yang terus bersikeras ingin bertemu Raja, sehingga perdebatan tersebut sampai ke telinga Raja. Akhirnya si Kakek dibolehkan berjumpa dengan Sang Raja.

“Wahai Raja, turunlah sebentar dari kursimu itu; aku hendak berbicara empat mata denganmu,” ujar sang Kakek.

Spontan saja Sang Raja menjawab, “Tidak mau.”

“Kalau begitu, rendahkanlah tubuhmu agar aku bisa membisikkan berita penting kepadamu,” pinta si Kakek.

Rajapun menundukkan kepala sambil mendengar bisikan si Kakek yang bernada pertanyaan, “Taukah siapa aku, wahai Raja?” Tanya si Kakek.

“Tidak!” Jawab Sang Raja.

“Akulah Malaikat Maut yang diperintahkan oleh Allah untuk mencabut ajalmu dengan cara yang paling sakit di dunia ini,” ucap si Kakek.

Mendengar ucapan tersebut, seluruh badan Raja gemetaran dan tanpa sadar Sang Raja terjatuh ke tanah yang tadinya duduk di atas kursi di pundak kuda.

Baju Emas yang dipakai Sang Raja dan mahkota dilapisi delima tersebut pun berbicara, “Aku yang dulu kau rampas dari rakyat secara paksa. Hari ini tidak akan bermanfaat lagi untukmu.”

Sang Raja pun berkata, “Wahai Malaikat Maut, izinkan aku sejenak untuk pulang dan menasehati pada anak dan istriku. Agar mereka bertaubat, tidak lalai dengan kemegahan dunia. Akan kuperintahkan kepada bendahara Istana untuk mengembalikan semua harta rakyatku.”

“Tidak ada waktu lagi bagimu wahai Raja, begitu lama engkau menjadi Raja, lihatlah betapa hancurnya agama ini di bawah kepemimpinanmu. Allah telah bersikap baik terhadapmu. Dahulu, engkau adalah masyarakat miskin. Kemudian Allah menjadikanmu seorang Raja. Mulai hari ini, terimalah azab atas perbuatanmu, wahai Raja.” Dicabutlah nyawa Sang Raja dengan kesakitan yang dasyat. Tinggallah mayat Raja tersebut dikelilingi oleh pasukannya.

Malaikat Maut dalam bentuk seperti seorang kakek pun terus berjalan hingga berjumpa dengan seorang tua renta yang sedang bercocok tanam di kebun. Selesai memberi salam, pemilik kebun mempersilahkan sang kakek tersebut untuk duduk. Menurut riwayat, pemilik kebun tersebut adalah seorang ‘Abid (ahli ibadah).

“Ada tujuan apa sehingga Kakek datang ke sini?” Tanya si ‘Abid.

“Aku adalah Malaikat Maut. Kedatanganku ke sini untuk mengambil nyawamu, wahai hamba Allah,” jawab sang Kakek.

Sambil tersenyum, si ‘Abid pun berkata, “Adakah hal lain yang Allah kabarkan kepadamu?”

“Allah menyuruhku bertanya padamu, seperti apakah aku harus mengambil nyawamu,” tanya sang Kakek.

Si ‘Abid pun menjawab, “Wahai Malaikat, beri waktu aku sejenak untuk pulang ke rumah menjumpai anak dan isteriku. Aku akan mandi dan shalat Zhuhur. Ambillah nyawaku dalam shalat zhuhur itu, mohonlah pada Allah jika boleh demikian.”

Permintaan si ‘Abid dikabulkan oleh Allah lewat perantara Mailaikat Maut tersebut. Selesai menasehati anak dan istrinya, si ‘Abid mandi dan melakukan shalat. Saat si ‘Abid sedang sujud sambil membaca Subhana Rabbiyyal A’la Wabihamdihi malaikat menghampiri si ‘Abid dan mengambil nyawanya dengan penuh kelembutan tanpa merusak nafas si ‘Abid. Keluarlah ruhnya bersamaan dengan nafasnya yang sedang bertasbih memuji Allah tanpa terasa sakit walau sebesar zarrah pun.

Amanah Dalam Jabatan

Ada banyak makna dan hikmah yang bisa dipetik dari dua kejadian di atas. Pertama, jabatan.  Setiap orang yang telah dipercaya oleh rakyat untuk menduduki suatu jabatan. Peganglah dia dengan penuh amanah dan rasa tanggungjawab pada manusia di dunia dan tanggung jawab di Yaumil Mahsyar di pengadilan Allah. Banyak kita lihat, berlomba-lomba mengumpulkan massa dan mengobral ribuan janji manis untuk para simpatisan dan pendukungnya. Sekarang, mereka para calon legislatif (Caleg) yang bertarung pada 09 April silam telah ditetapkan sebagai anggota dewan. Artinya, siapa saja yang sebelumnya menjadi Caleg dan mengumpulkan suara terbanyak, sekarang tinggal menunggu hari pelantikan untuk merealisasikan segerobak janji manisnya saat kampanye berlansung.

Mamanfaatkan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat untuk mengabdi pada negeri bukan malah memperkaya diri. Sadarilah mulai dari sekarang sebelum engkau dilantik. Bersumpahlah atas nama Allah, engkau akan menggunakan jabatan tersebut dengan garis lurus sesuai aturan agama dan hukum yang berlaku. Lapangkanlah dada dan pikiran untuk siap menerima setiap kritikan dan masukan dari rakyat. Karena sebenarnya, engkau pun bisa masuk menjadi anggota dewan berkat adanya pilihan mereka para rakyat. Ringankan langkahmu untuk melihat setiap permasalahan dalam masyarakat. Lemah lembutkan suaramu untuk selalu meminta pendapat para cendikiawan dalam setiap keputusanmu. Karena sesungguhnya ucapanmu itu mewakili ribuan masyarakat yang memilihmu.

Kedua,harta. Harta merupakan perhiasan dunia yang dapat menyilaukan setiap mata yang melihat dan hatinya selalu terpikat. Kecuali mereka yang telah mampu mengontrol hawa nafsunya terhadap dunia sehingga harta bukan lagi tujuannya. Betapa banyak manusia tidak lagi peduli harta itu halal atau haram yang penting baginya harta bisa didapat. Kenikmatan harta telah menyilaukan pandangannya. Seolah harta hanya bisa ditempuh lewat jalan yang haram. Anehnya, yang sering mucul dari mulut mereka, jangankan yang halal, yang haram saja susah dicari.

Kehidupan di era ekonomi yang kapitalis ini, setiap aktifitas selalu dikaitkan dengan harta benda. Keberadaan harta telah memikat hati manusia. Apapun yang dilakukan, tujuan akhirnya untuk menambah saldo pada buku banknya. Teringat ucapan seorang teman yang merantau di Jakarta, “Uang memang bukan segalanya. Tapi segalanya butuh uang.” Konsep tersebut memang ada benarnya. Namun bukan berarti semuanya benar. Artinya, jangan sampai pada kegiatan keagamaan pun masih mencari keuntungan.

Advertisements

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Usman Nazaruddin, SH.I
Alumnus Fakultas Hukum Islam STAIN Malikussaleh, Pengurus Majelis Talim Asy-Syifa, Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Akt. IV Tahun 2014.

Lihat Juga

Kaulah Surga Dunia Akhiratku, Bu