Home / Berita / Internasional / Asia / Karena Situasi Politik dan Keamanan Timur Tengah, Uni Emirat Arab Terapkan Wajib Militer

Karena Situasi Politik dan Keamanan Timur Tengah, Uni Emirat Arab Terapkan Wajib Militer

Militer Emirat (Aljazeera)
Militer Emirat (Aljazeera)

dakwatuna.com – Abu Dhabi. Pemerintah federal Uni Emirat Arab mengeluarkan undang-undang wajib militer, Sabtu (7/6/2014) kemarin. Undang-undang ini akan mewajibkan setiap rakyat Emirat yang berumur antara 18-30 tahun untuk turut serta dalam tugas-tugas kemiliteran dalam jangka waktu tertentu.

Langkah ini dinilai menunjukkan kekhawatiran negara Teluk ini terhadap apa yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah saat ini. Sebenarnya Emirat tidak sedang mengalami ancaman langsung dari negara tetangga.

Kondisi internalnya juga tidak kacau dengan adanya kelompok-kelompok garis keras seperti yang tengah terjadi di Saudi Arabia misalnya. Apalagi Emirat, seperti negara-negara Teluk lainnya mempunyai hubungan koalisi dengan Barat yang keniscayaan mereka akan turut melindungi kedaulatannya.

Namun Emirat masih merasa keamanannya terancam, karena masih ada tiga pulau Emirat yang masih dikuasai oleh Iran sejak tahun 70-an, dan kondisi keamanan Timur Tengah saat ini sedang sangat kacau terutama di Suriah, Irak, dan konflik dengan Israel.

Dalam undang-undang terkait wajib militer, disebutkan bahwa undang-undang itu bertujuan menanamkan dan menguatkan nilai-nilai loyalitas dan pengorbanan dalam jiwa rakyat Emarat. Rakyat yang berumur antara 18-30 tahun wajib berperan dalam tugas-tugas militer. Namun untuk para sarjana tinggi hanya diwajibkan selama 9 bulan, sedangkan selainnya diwajibkan selama 2 tahun. Adapun kaum wanita, mereka diberi kebebasan memilih. (msa/dakwatuna/aljazeera)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

4.200 Pengajar Dikerahkan Untuk Mengajar Bahasa Turki Kepada Pengungsi Suriah