Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Wa Ukhraa Tuhibbunahaa…

Wa Ukhraa Tuhibbunahaa…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. (kpu.go.id)
Ilustrasi – Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. (kpu.go.id)

dakwatuna.com – “Hai orang-orang yang beriman, maukah  kamu aku tunjukkan transaksi yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. ash-Saff: 10-13)

Mari berpusing-pusing sedikit menelaah ayat di atas. Ayat wajib para mujahid. Secara umum, ada dua janji Allah bagi yang mau bertransaksi dengan iman dan jihad; janji di akhirat, dan janji di dunia. Janji di akhirat berupa terbebas dari azab, dosa-dosa yang diampuni dan dimasukkan ke dalam jannah. Sedangkan janji di dunia berupa pertolongan di saat berjihad dan kemenangan yang dekat. Menurut  Imam Ibnu Katsir, kemenangan yang dekatmaksudnya khairuddunya (fasilitas duniawi).  Khair, sebagaimana dalam al-‘Adiyat ayat 8, artinya adalah harta benda.

Kita tahu perbedaan janji akhirat dan janji dunia. Janji di akhirat bersifat kekal dan abadi, sedangkan janji di dunia bersifat nisbi dan relatif. Janji akhirat itu pasti kemuliaannya, sedangkan janji dunia itu masih koma, tergantung pensikapannya. Itulah sebabnya tentang janji dunia ini, al-Quran membahasakannya dengan kalimat wa ukhraa tuhibbunaha (ada hal lain yang kamu sukai). Tapi sebenarnya bukan itu intinya. Saya baru ngeh, mengapa dalam surat an-Nisaa`: 73, al-Quran membahasakan kemenangan itu dengan fadhlun. Artinya kelebihan, tambahan. Bonus kalau dalam bahasa sekarang. Dan kita tahu, bonus itu mesti dipersepsi begini: kalau diberi syukur, tidak pun tak mengapa. Bukankah begitu?

Bicara tentang pemilu, BAPILU punya standar untuk menilai hasilnya. Begitu juga KPU. Kalau disimplifikasi, ukurannya satu: kursi.  Dan untuk standar itu, berjuta-juta lembar kertas dipelototi, direkap, discanning.  Ada C1, ada D1, dan lain-lain yang saya tidak tahu. Itu tidak salah, bahkan harus, untuk menyempurnakan ikhtiar. Tapi ada baiknya menatap jernih. Kursi yang banyak, akses ekonomi yang luas, jabatan publik berikut semua fasilitas pengiringnya ini masuk kategori janji di dunia, karunia yang disegerakan. Kita paham, itu diperlukan, untuk perluasan dakwah.  Hanya, ia bukan jaminan diampuninya dosa. Apalagi diselamatkan dari neraka dan masuk surga. Bahkan, kalau tidak berhati-hati, bisa menjadi sumber perpecahan, wal ‘ iyadzu billah.

Sekarang, mari  flash back ke perang uhud. Kisahnya ada di surat Ali ‘Imran ayat 152. Mula-mula kalian optimis, ketika semua tanda mengarah pada kemenangan. Sampai kemudian kalian melemah dan sering berselisisih. Menuruti prasangka dan curiga. Mengintai menyikut kawan sendiri. Lalu kalian berani melanggar perintah, menabrak syariat. Kapan tepatnya perilaku seperti itu mulai muncul? Sesudah terbayang gaji yang wah, status terhormat, akses dan relasi dan fasilitas lainya. Lalu Allah menembak akurat penyebab semua itu, rupanya ada di antara kalian yang cita-citanya tak lebih dari kenikmatan dunia, di saat yang lain tulus berjuang untuk akhirat.

Tak ada yang salah dengan janji dunia yang disegerakan. Tapi bahkan untuk komunitas sekelas sahabat sekalipun, hal itu pernah menjadi sumber kekalahan. Karena itu, kalau kembali ke surat ash-Shaff, perintahnya hanya dua: iman dan jihad. Hanya itu. Keyakinan dan amal. Tidak lebih. Adapun hasil, biarlah menjadi wilayah prerogatif Allah. Apalagi bonus. Tak layak rasanya menagih bonus. Sebab Yang Maha Memenangkan ini membimbing; perjuangan ini hendaknya bervisi akhirat, jangka panjang.

Untuk itu, iman dan jihad yang diperlukan, bukan hasilnya, apalagi bonusnya. Berat memang. Modal yakin dan percaya, lalu beramal dengan kualitas jihad, tanpa khawatir memikirkan hasil. Hanya manusia-manusia terpilih yang lolos ke level ini. Itulah sebabnya, bagi mereka Allah menegaskan: yang seperti itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS. ash-Shaff: 11).

Saudaraku, tak ada maksud mengajak bernostalgia dengan kekalahan. Dan sayapun bukan siapa siapa untuk menentukan judul kita hari ini, kemenangan atau kekalahan. Sekedar ingin berbagi, bahwa ketika visi akhirat bergeser kepada visi duniawi, di situlah kekalahan yang sesungguhnya dimulai. Jadi, pasca Pemilu ini, mari bertanya tentang apa yang sudah kita lakukan, bukan apa yang sudah kita dapatkan. Wallahul musta`an.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad As'ad Mahmud, Lc
Lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren, di Tengaran, yang kebetulan diasuh oleh Bapaknya sendiri. Mengenyam pendidikan TK dan SD di Tengaran,sambil nyantri di Pesantren Sabilul Khoirot, Tengaran. Sampai lulus dari Mts Negeri Salatiga tahun 1996. Setelah menyelesaikan studinya di MAPK Solotahun 1999, sempat merasakan bangku kuliah IAIN Sunan Kalijaga. Hanya satu tahun, sebelum kemudian lolos seleksi untuk melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar Kairo, di Fakultas Syariah. Kemudian kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S1 pada tahun 2005. Sekarang menjadi pengurus yayasan pendidikan islam sabilul khoirot, Tengaran sekaligus sebagai pengajar di MA NUrul Islam YPI Sabilul khoirot di bidang Fiqih.

Lihat Juga

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia