Home / Pemuda / Cerpen / Jika Pinangan ini Diterima, Kalian Bisa Langsung Menikah Malam Ini

Jika Pinangan ini Diterima, Kalian Bisa Langsung Menikah Malam Ini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Buku itu masih kupegang. Sedari tadi, sudah satu jam lebih aku bersama seorang teman mondar-mandir mencari buku. Dan kini, baru terduduk di kursi yang berada di pojokan ruangan. Meski kursi itu hanya dari kayu yang kurang nyaman untuk diduduki. Tapi, aku tetap menikmati buku yang kini ada di hadapanku.

Sesekali, kulihat lelaki berbaju biru yang kini duduk di sampingku. Ada jarak. Ada hijab yang memisahkan kami. Sebuah tas yang juga berwarna biru milikkku kini menjadi pembatas kami. Meski sekilas kumelihatnya, tapi dia seperti larut dalam fikirannya. Ada sesuatu yang membebani otaknya. Sebagai sahabat, aku tak sungkan-sungkan lagi bertanya kepadanya.

“Kamu kenapa, Ki?”

“Kenapa ngelamun? Buku di tangan kok dianggurin?” Tanyaku sambil tersenyum melihat dia yang hanya melihat lurus ke depan dengan tangan memainkan-mainkan buku.

“Ah, ga kenapa-kenapa Fa.” Jawabnya juga sambil tersenyum.

“Kamu mikirin siapa, Ki? Ada cewek yang kamu taksir? Kalo iya, lamar aja tuh biar ga disambar orang.” Timpalku ngasal.

Dia tidak menjawab. Hanya melihat ke arahku sebentar dan kembali menatap lurus ke depan.

“Atau, jangan-jangan kamu lagi patah hati ya? Ditolak cewek?” Tambahku lebih ngasal lagi.

“Kalo iya, ga usah dipikirkan, Ki. Tuh pacar aku yang selingkuh aja ga aku pikirkan. Biarin aja. Ngapain dipikirkan?”Ucapku tanpa beban.

“Pacar kamu selingkuh, Fa? Yang bener?”

“Iya.” Jawabku sambil mengangguk enteng memberi jawaban.

“Dan sekarang kami dah putus. Dah lama, Ki. Enam bulan yang lalu.”

“Kok kamu ga pernah cerita?” Tanyanya sambil kembali menoleh ke arahku.

Kulihat keningnya berkerut tanda tak yakinnya dia atas apa yang telah kuucapkan.

“Iya. Aku sudah putus enam bulan yang lalu. Aku ga cerita karena ga mau menganggu kamu dengan cerita-cerita aku yang ga penting”

“Kalo mau cerita, ya cerita aja Fa. Kamu kayak orang lain saja. Padahal, seringkali juga kamu cerita yang macem-macem kepadaku.”

“Iya. Tapi ga tahu kenapa. Kemarin itu, aku malas aja cerita tentang itu. Aku ga mau dikasihani, Ki. Aku ngerasa kalau aku bercerita, aku seperti orang lemah. Aku ga mau dikasihani, Ki. Apalagi sama kamu”

“Oh bagus itu.” Katanya mengangguk-angguk sambil tertawa lepas.

“Wah, enak banget ketawanya? Senang ya liat aku sengsara? Senang gitu kamu ngeliat aku merana, Ki? ” Tanyaku sembarangan. Juga dambil tertawa.

“Iyalah. Sengsaramu itu bahagiaku, Fa.”

“Ah, dasar. Ya sudah, terserah kamu saja. Selama kamu senang, aku juga ikut  senang deh!” Jawabku sambil mengangguk dan bibir terseyum tidak simetris.

“Aku bercanda, Fa.” Ucapnya yang kini menahan tawa

“Ya, aku tahu.” Ucapku yang kini tanpa tawa.

“Aku ingat kata-katamu waktu itu. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Maka dari itu, sejak aku tahu dia selingkuh, aku memutuskan hubungan dengannya. Dan sejak itu juga, aku mencoba memperbaiki diri. Meski saat ini, jilbabku masih belum sempurna.”

“Iya, tidak apa-apa, Fa. Baguslah kalau kamu berfikir seperti itu. Berangsur-angsur, Fa. Yang penting ada perbaikan. ”

“Ya, semoga aku mendapatkan lelaki yang baik, Ki. Yang sabar seperti kamu. Hmm, beruntunglah wanita yang mendapatkan kamu, Ki.”

Ngegembel kamu ga hilang-hilang, Fa!” Jawabnya kembali tertawa.

“Ini ga ngegembel, Ki. Bukan ngegombal juga. Ini Fakta. Nanti kalau aku kepingin nikah, terus belum ada calonnya, tolong cariin aku lelaki yang sabar kaya kamu ya? Kamu tahu kan egoku tinggi menjulang ke langit. Apa jadinya rumah tangga nanti jika salah seorang dari suami istri tidak ada yang mau mengalah.  ”.

“Iya, nanti aku cariin. Tenang saja.” Jawabnya sambil tersenyum, masih mengangguk-angguk.

“Iya, tunggu aja kabar dariku. Tapi, semoga lelaki itu datang dengan sendirinya, Ki. Dan semoga lagi, lebih cepat lebih baik.” Jawabku sambil tersenyum.

“Iya. Semoga.”

Setelah jawaban terakhir darinya, aku tak menimpali lebih lanjut percakapan kami. Aku kembali membaca buku bacaan yang ada di hadapanku yang tadi sempat tertunda.

Tentang dia. Tentang sahabatku yang yang telah setahun kumengenalnya. Dia bernama Muhammad Riski. Dia dan aku tergabung dalam suatu perusahaan multilevel nasional. Kedekatan kami berawal dari kami yang satu kantor.  Dan suatu ketika, kami ditugasi untuk meninjau suatu lokasi yang akan dibeli oleh perusahaan untuk membuat cabang baru. Karena kebersamaan kami itu, lebih kurang dua minggu, akhirnya kami pun semakin dekat. Hanya sebatas sahabat. Dia pun waktu itu tahu aku sudah memiliki pacar.

Tapi ku juga sadar, meskipun saat itu aku tak memiliki pacar, kami pun tidak mungkin berpacaran seandainya pun kami suka sama suka. Kenapa? Karena dia adalah seorang ikhwan. Lelaki yang selalu berusaha menjaga pandangannya. Begitu juga dengan hatinya.

Dia memang orang yang kuat, menurutku. Pada zaman sekarang, jarang sekali aku temui lelaki yang tidak pernah pacaran. Bukan karena dia tidak “laku”. Melainkan tidak pacaran itu adalah pilihannya. Aku salut padanya. Ditambah lagi dengan sifatnya yang terlalu baik. Semisalnya ada orang yang meminta bantuannya, maka dia takkan bisa menolak meski itu akan mengganggu waktunya.

Ya, itulah dia. Dia pun orang yang tidak perhitungan. Semua urusan jika berkaitan dengannya akan berjalan lancar.

Tapi sayangnya, kedekatan kami sebagai sahabat ini hanya berjalan sebulan. Setelah pulang dari peninjauan lokasi itu, akhirnya aku dipindahkan ke kantor yang berbeda kota dari kantor kami saat itu. Tak lagi di Jakarta.

Aku dipindahtugaskan ke Yogyakarta. Itu tandanya, senda gurauku dengannya akan hilang. Tidak akan ada lagi orang yang akan menemaniku jika aku akan membeli sesuatu. Ya, aku tidak tahu, kenapa dia mau saja kuajak pergi untuk menemaniku. Pernah terfikir olehku bahwa Riski itu menyukaiku. Tapi segera kutepis. Mana mungkin lelaki sebaik dia akan berjodoh denganku. Dia orang yang menjaga. Sedangkan aku? Aku memiliki pacar waktu itu. Ya, meski aku dan pacarku itu tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, tapi tetap saja judulnya waktu itu aku punya pacar.

Sempat sedih rasanya waktu kutahu akan dipindahkan ke kantor yang ada di Yogyakarta. Tapi mau bagaimana lagi. Ini tuntutan. Sepertinya dia juga sedikit sedih karena kepergianku. Aku tidak yakin sebenarnya dia sedih atau tidak. Tapi aku berharap dia merasa kehilangan akan kepergianku.

Pertama pindah ke jogja, memang berat rasanya. Semuanya serba baru. Teman baru, bos baru dan lingkungan baru. Sudah pasti aku harus menyesuaikan diri lagi mulai dari awal. Dan ketika aku melewati masa penyesuaian itu, dialah menjadi tempatku bercerita. Aneh memang, seharusnya aku becerita tentang kesulitanku itu kepada pacarku. Tapi tidak demikian. Riskilah tempat aku bercerita.

Dia berbeda dengan pacarku. Dia dengan setia mendengar semua keluh kesahku. Dia memberikan saran yang tidak menggurui. Itu yang aku suka darinya.

Enam bulan di kantor baru, akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa dia juga akan dipindahkan ke kantor yang di Yogyakarta. Betapa senangnya aku. Tak tergambarkan. Satu kantornya kami, itu berarti kami akan berada dalam satu kota lagi. Dan itu tandanya, dia bisa kuajak lagi menemaniku membeli sesuatu yang memang membutuhkan teman. Sudah pasti dia tidak akan keberatan.

Dan karena itulah sekarang kami di sini. Dia menemaniku ke Gramedia. Membeli buku yang aku inginkan. Lagipula, aku tahu dia takkan menolaknya karena dia juga orang yang menyukai buku-buku.

Sebenarnya, karena ingat ucapan darinyalah, setelah putus dengan pacarku dulu, aku tidak pernah lagi berpacaran. Katanya, orang yang berpacaran itu adalah orang yang tidak percaya takdir. Lagi-lagi, aku selalu ingat kata-katanya itu.

*****

Sebulan kemudian, lebaran Idul Fitri pun tiba. Aku pulang ke rumah orang tua yang berada di kota Bandung. Ternyata Riski juga ke Bandung, berlebaran di rumah saudaranya. Karena alasan lebaran, kusuruhlah dia sekalian mampir ke rumah. Setidaknya melihat sendiri bagaimana kondisi keluargaku.

Ternyata, malam itu dia datang. Dia memakai koko putih dengan celana semi jins berwarna hitam. Di lehernya tergantung simetri sarung berlipat berwarna merah marun. Tidak terlalu seperti pak kiyailah. Masih ada aroma anak mudanya.

Ketika dia masuk dan mengucapkan salam, dia pun segera menuju meja tamu setelah kupersilahkan. Di sofa berwarna coklat itu, dia duduk. Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam.

Segera kuberlari ke belakang memanggil Ayah dan Ibuku. Tak lama kemudian, kedua orang tuaku pun segera menuju ruang tamu, menemui Riski yang sudah duduk di sana. Sementara mereka mengobrol, aku pun pergi ke belakang untuk mengambilkan minuman.

Tapi sekembalinya aku dari dapur dengan membawa minuman di tangan, aku mendengar potongan kalimat yang sangat mengejutkan.

“………….. Maksud kedatangan saya malam ini ke sini adalah untuk meminang anak Bapak, Sofana Maharani.”

Kakiku terhenti. Tidak sanggup melangkah lagi. Jantungku berdegup kencang. Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Yang pasti, dadaku serasa sesak. Nafasku seakan hendak berhenti. Tak terasa, ada air mata yang jatuh membasahi pipi.

Kata-kata itu. sebuah kalimat dahsyat yang tak pernah terlintas di otakku, dia akan mengucapkannya. Tak pernah terfikir olehku, dia akan melakukan apa yang telah terjadi malam ini.

Aku tak lagi berkonsentrasi. Aku tak mendengar lagi ucapan mereka selanjutnya. Yang kulihat hanyalah ada dua orang asing masuk ke ruang tamu, duduk di sebelahnya.

Aku bingung harus melakukan apa. Kakiku tak sanggup lagi untuk melangkah. Melangkah ke tempat mereka yang sedang berkata-kata.

“Nak, ayo ke sini. Kenapa berdiri di sana?”

Aku kaget. Ternyata, ayah melihatku berdiri bersandar di pintu dapur. Masih dengan minuman di tangan. Berat rasanya kulangkahkan kaki. Tapi kuberpura-pura tidak tahu. Perpura-pura tak mendengarkan apa-apa.

Setelah sampai di ruangan itu, aku tersenyum kepada kedua orang yang berada di samping  Riski. Sedangkan kepadanya, aku tak berani memandang.

“Tunggu Pak,  Bu, saya ke belakang dulu mengambilkan gelas lagi.”

Tanganku pun meletakkan minuman yang tadi kubawa. Tapi sayang sekali, gelas pertama yang kuletakkan di meja malah tumpah isinya saking bergetarnya tanganku.

Astaghfirullah.” Ucapku dalam hati. Betapa malunya aku. Jika kulihat kini mukaku di cermin, merah sudah mukaku pastinya.

“Ya Allah, kuatkan aku.” Jeritku dalam hati.

“Ya sudah, Nak. Duduk saja di sini. Untuk minuman, biar adikmu saja yang mengambilkan.” Ucap ayah kepadaku.

“Tidak apa-apa Ayah, biar saya saja.”

“Jangan membantah kata Ayah. Ayo duduk di sini. Di dekat ayah. Minumannya letakkan saja di situ.”

Aku pun mengangguk dan segera duduk di samping ayah.

“Begini, Nak. Nak Riski datang bersama orang tuanya untuk melamarmu.” Semua orang yang ada diruangan diam mendengarkan perkataan Ayah.

“Bagaimana? Ayah setuju-setuju saja jika kamu mau.” Ucap Ayah melanjutkan.

“Semua keputusan ada di tanganmu, Nak. Jika pinangan ini diterima, kalian bisa langsung menikah malam ini. Riski bersama orang tuanya telah mempersiapkan semuanya, termasuk mas kawinnya.” Ibu menambahkan.

Ucapan keduanya meruntuhkan pertahananku. Aku yang menunduk sedari tadi dan berpura-pura tidak tahu tentang apa yang kudengar di dapur tadi, sekarang malah ditembakkan langsung ke telingaku.

Sesak didadaku kembali datang. Seperti ada yang menekan-nekan. Rasa ini aneh. Namun, indah rasanya. Kembali air mataku mengalir. Tapi aku masih diam terpaku tak mengeluarkan kata sepatah pun. Aku masih menunduk. Tak berani menegakkan kepala karena Riski duduk di kursi yang persis berada di hadapanku.

“Bagaimana Sofa? Bersediakah engkau mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku? Bersediakah engkau menua bersamaku? Menjalani berdua suka duka hidup di dunia untuk bekal di akhirat kelak? Aku memang hanya begini adanya. Tapi aku berharap engkau sudi menjadi makmumku. Dan aku sangat berharap, engkau bersedia menjadi ibu dari anak-anakku.”

“Jawablah, Nak. Riski telah bercerita tentang kamu kepada kami, orang tuanya. Dan kami setuju Riski telah melabuhkan hatinya kepadamu.”  Ucap seorang perempuan yang kemungkinan besar adalah wanita yang melahirkan Riski.

Aku masih diam. Kata-kata yang ingin kuucap seperti tersendat. Tak bisa keluar dari mulutku. Sebagai isyarat, akupun mengangguk. Dan terdengar semua orang yang ada diruangan itu mengucapkan, “Alhamamdulillah.”

Tak berapa lama kemudian, ijab kabul pun mengudara di ruangan. Pantulan kata nan indah itu pun kudengar. Kembali kutitikkan air mata. Tak hanya aku. Pipi orang-orang  yang ada di ruang ini semuanya juga dibasahi air mata. Termasuk dia. Seorang lelaki yang kukagumi akhlaknya yang kini menjadi suamiku. Seseorang yang akan menjadi imamku nanti, hingga akhir hayatku. Tak terbayangkan, betapa mengharu birunya jiwaku saat ini.

Ya, malam ini aku telah menjadi istrinya. Seorang wanita yang halal baginya. Tidak tahu dari mana, tak lama kemudian dia membimbing tanganku menuju kamar tidurku.  Sepertinya dia telah merencanakan ini sebelumnya bersama Ayah. Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh dua lelaki terpenting dalam hidupku ini sebelumnya. Suatu kejutan yang sangat tidak terduga bagiku.

“Terima kasih, ya Allah.” Ucapku berkali-kali dalam hati.

“Dan, kini aku percaya takdir dari-Mu.”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.
  • Muchtar Prawira Sholikhin

    Cerpen yang seger… Tapi sayang ceritanya klise untuk tataran ikhwah. Jarang sekali dalam dunia nyata sesederhana cerpen di atas. :D

Lihat Juga

Cover buku "Bukan Sekadar Ayah Biasa: “Pengalaman Ayah Hadir dalam Pengasuhan Anak”".

Bukan Sekadar Ayah Biasa : “Pengalaman Ayah Hadir dalam Pengasuhan Anak”

Organization