Home / Pemuda / Essay / Rahasia di Balik Ujian

Rahasia di Balik Ujian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (merdeka.com)
Ilustrasi. (merdeka.com)

dakwatuna.com – Terkadang, kita mengeluh atas ketetapan yang sudah Allah berikan pada. Ketika apa yang kita harapkan tak pernah menjadi kenyataan, ketika hidup tak berubah-ubah. Padahal katanya, bumi itu berputar. Tapi, mengapa posisi kita selalu saja berada di bawah? Ketika ujian terus-menerus menerpa? Sampai-sampai kita menghakimi Allah atas cobaan yang tak mampu kita hadapi. Hingga akhirnya berputus asa. Na’udzubillah.

Padahal, saat kita menengok ke bawah, ternyata ujian hidup yang kita alami tidak lebih berat dari apa yang orang lain hadapi. Hanya saja, kita yang terlalu banyak mengeluh. Seolah-olah kitalah orang yang paling berat ujiannya. Bahkan, hingga kita lupa untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan, tanpa kita meminta sekalipun. Tidak ingatkah kita dengan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah[2]:286)

Ternyata, orang yang selama ini kita lihat begitu ceria, seolah hidupnya tanpa beban, justru memiliki masalah yang berat, yang jauh lebih besar dari apa yang kita alami. Lantas, bagaimana ia bisa tetap tegar menghadapi semuanya? Karena ia selalu tersenyum seraya mensyukuri apa yang telah Allah berikan padanya. Setidaknya, ia merasa masih lebih beruntung, seperti kisah di bawah ini.

Hari ini adalah pengumuman kelulusan UN SMA. Semua anak kelas 3 SMA menanti dengan sabar, berharap diberikan yang terbaik. Surat kelulusan itu dikirimkan via pos. Matahari sudah terbit sejak pukul 6 pagi. Ketika mengecek Facebook (FB)sudah banyak teman-teman yang update status, dari yang sedang menanti pak pos hingga yang mengucapkan ribuan terimakasih karena sudah diberi kelulusan.

Tapi ternyata, ada beberapa anak yang kurang beruntung. Mereka dinyatakan tidak lulus UN. Beragam ekspresi mereka tunjukkan, dari yang awalnya tidak berhenti-berhenti untuk update status di FB langsung menghilang dan tidak bisa dihubungi sama sekali, yang langsung menangis gak jelas, gak mau keluar rumah karena malu, bahkan ada yang masih bisa tersenyum. Bagaimana bisa?

Padahal, dilihat dari latar belakangnya, tidak semua anak yang tidak lulus itu bodoh. Karena tidak ada manusia yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya manusia malas. Memang, ada beberapa yang menyontek. Sehingga mungkin terkena karma dari teman yang merasa dizhalimi. Yang sudah belajar mati-matian, tapi hanya bisa mendapatkan nilai pas-pasan. Sedangkan yang menyontek bisa mendapat nilai besar. Namun, memang ada satu mata pelajaran yang ia terkecoh kunci jawabannya. Alhasil, Kun Fayakun, tidak lulus.

Selanjutnya, yang memang ketika dilaksanakan UN kondisi jiwanya sedang tidak stabil, akibat ujian hidup yang harus diterimanya, orang tua yang hanya tinggal satu-satunya dipanggil Ilahi. Sehingga, apa yang ada dalam pikirannya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Meskipun, di mata pelajaran lainnya, sebelum kejadian itu, ia masih bisa mendapatkan nilai yang cukup memuaskan.

Yang lainnya bahkan ada yang sudah diterima di Perguruan Tinggi. Ketika mendapat kabar ini, dia bagaikan disambar petir. Bagaimana bisa? Reaksinya benar-benar tidak diduga, bahkan oleh teman-temannya sendiri. Ketika ditelpon ia marah-marah tidak jelas, ia merasa sudah gagal. Padahal, saat itu masih ada UN ulang yang tentu saja bisa memperbaiki nilai yang masih kurang. Bahkan, ketika ditemui di rumahnya, ia sama sekali tidak mau bertemu siapapun dan memutuskan untuk menyendiri dulu.

Ya, rata-rata reaksinya sama. Kaget. Merasa dunia sudah berakhir. Merasa sudah tidak ada harapan lagi. Merasa hidupnya sia-sia. Mungkin, ini memang suatu bentuk ketidakadilan di negeri kita tercinta ini. Apalagi untuk teman-teman yang senantiasa menjunjung tinggi kejujuran. Tapi, bukan ini yang akan kita kaji, melainkan reaksi yang tidak disangka-sangka oleh teman lainnya.

Dia dan temannya memang awalnya sudah berjanji untuk tidak menyontek, apapun yang terjadi. Bahkan ketika surat ketidaklulusannya sampai ditangannya, ia tidak pernah menyesal akan keputusannya itu. Padahal, ketika UN sedang berlangsung, semua teman-temannya dengan sukarela menawarkan memberi kunci jawaban. Tapi, ia hanya tersenyum. Ia sudah berjanji, tekadnya sudah bulat.

Memang, malam sebelum pengumuman kelulusan itu, ia menangis. Tangisannya meledak, entah kenapa, ia pun tidak tahu. Itu hanya muncul secara tiba-tiba. Mungkin karena ia telah membayangkan resiko terburuk yang akan diterimanya. Namun dalam tangisannya itu, ia tetap tidak menyesal. Karena baginya yang penting Allah selalu bersamanya. Allahtahu yang terbaik untuknya. Sehingga, di ujung tangisannya ia tersenyum. Ia katakan pada dirinya, Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuknya.

Ajaibnya, hari-hari berikutnya ia tak pernah menangis. Ya, sejak surat itu ada di tangannya sampai ia dinyatakan diterima di Pergutuan Tinggi idamannya melalui jalur SNMPTN. Dimana teman-temannya yang lulus banyak yang gagal dalam SNMPTN. Skenario Allah memang indah. Karena Allah Mahatahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Ia bahkan menjadi penguat bagi teman-temannya yang juga tidak lulus.

Setelah surat itu ada di tangannya, ia berlari ke kamarnya. Berdiri di depan cermin, lalu tersenyum pada dirinya sendiri. Aku sudah siap. Begitu katanya pada diri sendiri. Detik berikutnya, sms-sms berdatangan dan bertanya, lulus? Ia hanya membalas, Alhamdulillah. Sampai akhirnya ada yang menelponnya dan menangis ingin bunuh diri karena tidak lulus. Lalu dengan santainya ia berkata, “Aku juga gak lulus, kok.” Temannya bingung. Sampai bertanya berkali-kali. Dia menjawab, “Serius.” Lalu mengalirlah kalimat-kalimat motivasi. Hingga temannya mengatakan terimakasih dan berjanji untuk memperbaikinya bersama-sama.

Bagaimana bisa seseorang yang sedang ditimpa ujian tersenyum dengan santainya bahkan bisa membantu temannya yang lain untuk sama-sama bangkit dari kegagalan? Itu karena, ia tahu Allah akan memberikan yang terbaik untuknya. Ia tahu, ketika sebuah keputusan dibuat, Allah akan menguji sejauh mana komitmennya terhadap keputusan itu. Ketika ia memutuskan untuk tidak menyontek, Allah justru memberinya kegagalan. Sehingga teman-temannya yang dulunya menawari contekan mencibirnya dan mengatakan, “Aku juga dulu bilang apa?” Tapi ia tetap tersenyum.

Dan senyumannya itulah yang membuat guru-gurunya salut dan memberinya acungan jempol. Karena ketika sedang belajar privat tidak ada satupun yang menampakkan batang hidungnya untuk belajar kembali. Hingga akhirnya, para guru memintanya untuk membujuk teman-temannya. Berhasi,l meskipun tidak semua mau hadir. Dia pun dijadikan contoh untuk para juniornya oleh wali kelasnya atas ketegarannya itu.

Akhirnya, ia mendapatkan janji Allah tersebut. Ia lulus SNMPTN. Pilihan pertama di Perrguruan Tinggi idamannya. Orang tuanya pun tak percaya. Apalagi, ketika itu, tak banyak yang lulus SNMPTN. Sehingga pada awalnya, ia tidak terlalu banyak berharap. Ia benar-benar hanya memasrahkan semuanya pada Allah. Karena ia tahu, Allah Mahatahu yang Terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Tidak hanya itu, motivasi yang ia berikan pada temannya yang senasib dengannya berbuah manis. Temannya pun diterima di PT idamannya. Meskipun selang satu tahun dari kelulusannya. Dan yang lainnya bisa termotivasi untuk memperbaiki nilai dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Itulah, ketika kita tersenyum atas masalah yang sedang dihadapi, tidak hanya diri kita sendiri yang menjadi tenang, tapi orang di sekitar pun akan merasakan dampaknya.

Padahal, apa yang sebenarnya ia rasakan benar-benar berat. Ia tidak lulus UN. Sedangkan orang tuanya merupakan sarjana dari PT ternama di Indonesia. Belum lagi cibiran dari teman-teman yang menganggapnya sok suci. Atau dari orang-orang sekitarnya, karena bisa dibilang, ia adalah orang yang cukup populer di lingkungannya. Tapi ia bisa, sama sekali tak terlintas dalam pikirannya untuk menyesali diri, apalagi untuk mengakhiri hidupnya.

Hikmah yang didapatkannya pun masih bisa terasa sampai sekarang, sampai ia sudah hampir-hampir menjadi orang. Hikmah tentang cita-citanya, bahwa ia punya potensi. Potensi di tempat lain, bukan di mata pelajaran yang menjerumuskannya. Hikmah tentang mengelola emosi. Sehingga akhirnya hidupnya terasa lebih indah dan dia benar-benar sedang menaiki tangga kesuksesannya.

Jadi, masihkah kita menyesali takdir Allah? Lantas kalau orang lain bisa kenapa kita tidak? Apalagi, Allah sudah berjanji bahwa kita tidak akan diberi ujian melebihi batas kesanggupan kita. Ingatlah, ketika kita sedang ditimpa musibah, diberi ujian, Allah sudah menyiapkan skenario terbaiknya, akan ada hadiah besar yang menanti kita. Karena, Allah Mahatahu yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hafizhotunnisa Ishmatullah
Lahir di Sumedang, 20 Mei 1992. Tinggal di Bandung. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Hobi menulis artikel, cerita fiksi baik dalam bentuk serial ataupun cerita pendek, puisi dan lain-lain. Merupakan salah satu tim redaksi Teen Zone tahun 2013 dan kontributor Ummi Online. Karya-karya yang dipublikasikan bisa dilihat di hiishma.tumblr.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Wahai Ukhti, Bersabarlah Dalam Penantianmu