Home / Berita / Opini / Kongres PDGI, Dokter Gigi dan Kesehatan Gigi Masyarakat Indonesia

Kongres PDGI, Dokter Gigi dan Kesehatan Gigi Masyarakat Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).
Logo Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).

dakwatuna.com – Alhamdulillah, Kongres XXV PDGI yang berlangsung pada tanggal 28-31 Mei 2014 di kota Pontianak, Kalimantan Barat telah selesai dilaksanakan. Kongres diikuti oleh 190 cabang dengan peserta lebih dari 1000 delegasi yang berasal dari seluruh Indonesia. Kongres XXV PDGI ini juga dihadiri Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof Dr Ali Gufron Mukti PhD, serta Gubernur Kalimantan Barat, Drs Cornelis MH.

Kongres PDGI sebagai forum nasional tertinggi melibatkan seluruh komponen organisasi PDGI dari pengurus pusat, wilayah dan cabang untuk bersama-sama mengevaluasi perjalanan organisasi,  serta membahas kebijakan maupun program organisasi yang telah, belum dan akan dilaksanakan.

Pemilihan Ketua PB PDGI Masa Bakti 2014-2017

Berdasarkan pencalonan dari para delegasi yang hadir, akhirnya ditetapkan 4 orang calon Ketua PB PDGI masa bakti 2014-2017 yaitu drg Farichah Hanum MKes, drg Azrial Azwar SpBM, drg Ugan Gandar dan drg Harry Agung Tjahjadi MKes. Setelah melalui pemaparan visi dan misi, babak tanya jawab, pemungutan suara, serta penghitungan suara, akhirnya terpilih drg Farichah Hanum MKes sebagai Ketua Pengurus Besar PDGI masa bhakti 2014-2017.

Pada Kongres XXV PDGI ditetapkan pula tuan rumah untuk RAKERNAS yaitu di Jawa Timur dan Kongres PDGI berikutnya di Medan.

drg Farichah Hanum MKes menyampaikan visinya adalah PDGI menjadi satu-satunya organisasi profesi dokter gigi yang profesional dan berwibawa. Hal ini tidaklah mudah karena beliau harus mengayomi sedikitnya 14 Pengwil dan 190 Pengcab PDGI yang ada di seluruh Indonesia. PB PDGI juga menaungi sedikitnya 15 Ikatan Keahlian dan Ikatan Peminatan Ilmu Kedokteran Gigi. Dalam Kongres PDGI XXV ini juga ada 5 ikatan peminatan yang baru dikukuhkan, yaitu:

  1. Ikatan Gerodontologi
  2. Ikatan Kranio-mandibula
  3. Ikatan Anastesi Kedokteran Gigi
  4. Ikatan Kedokteran Gigi Militer
  5. Ikatan Manajemen Perawatan Gigi dan Mulut Individu Anak Berkebutuhan Khusus

Belum lagi mengayomi sekitar 24 ribu lebih dokter gigi dan 2 ribu lebih dokter gigi spesialis di seluruh Indonesia. Angka ini akan terus bertambah seiring bertambahnya juga universitas/ institusi baru yang membuka program Pendidikan Dokter Gigi. Di tahun 2014 ini jumlah universitas/institusi yang memiliki program Pendidikan Dokter Gigi berjumlah sekitar 30 (terbayang waktu saya menjabat sekjen PSMKGI 2008-2010 baru sekitar 17 universitas/institusi).

Belum lagi masalah kesehatan gigi di masyarakat kita yang sangat tinggi. Menurut  Dr drg Zaura Rini Anggraeni MDS (Ketua PB PDGI 2011-2014), 168jt jiwa penduduk Indonesia menderita sakit gigi. Dari 168jt itu rata-rata gigi berlubang hingga lima gigi orang dewasa dengan 25% masih bisa ditambal dan 75% masuk fase terminal-mati. Selama ini, kesehatan gigi masih dikesampingkan padahal Kesehatan gigi dan mulut memiliki kaitan erat dengan sistem kesehatan seluruh tubuh karena mulut di mana tempat gigi berada merupakan pintu masuk makanan dan minuman ke dalam tubuh. Apabila gigi busuk atau infeksi pada gusi, maka hal tersebut bisa merusak keseimbangan dan ketahanan tubuh. Karena kuman yang beredar lewat aliran darah dapat terhenti pada saluran organ vital di antaranya katup jantung dan ginjal yang bisa membahayakan.

Dari hal-hal tersebut di atas, terlihat peran dokter gigi baik yang praktek di unit-unit pemerintah atau pun mandiri sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat.

Menurut catatan Kemenkes tahun 2011 ada 8.731 dokter gigi yang bekerja di fasilitas kesehatan pemerintah dan pada tahun 2013 angka tersebut naik menjadi 13.144 dokter gigi. Dari data yang sama, rasio dokter gigi puskesmas di Indonesia sebesar 0,72. Artinya 72% puskesmas mempunyai dokter gigi. Angka ini termasuk tinggi. Namun pada kenyataannya rasio yang tinggi tersebut tidak  sesuai dengan kebutuhan dan kenyataan di lapangan. Karenakan penyebaran yang tidak merata.

Banyak dokter gigi yang praktek/stay di kota-kota besar di Indonesia, utamanya pulau Jawa. Bahkan dikabarkan, provinsi Kalimantan Barat dimana Pontianak menjadi tuan rumah Kongres PDGI XXV ini, ada 1 kabupaten yang hanya memiliki 1 dokter gigi di puskesmasnya. Selain itu, PB PDGI juga harus menjadi solusi terhadap persoalan-persoalan keprofesian kedokteran gigi seperti persoalan-persoalan terkait JKN, mahalnya alat dan bahan, dokter gigi asing, tukang gigi, internship, UKDGI, dan lain-lain.

Tapi, terlepas dari setiap persoalan yang ada, kami tetap harus memiliki sikap optimis. Insya Allah, semua persoalan keprofesian dokter gigi tersebut dapat  diselesaikan dengan baik secara bersama-sama bersinergi dengan pihak-pihak terkait.

Akhir kata, saya ucapkan SELAMAT dan SUKSES kepada drg. Farichah Hanum, MKes sebagai ketua PB PDGI 2014-2017. Semoga dapat menjalankan amanah ini dengan baik dan saya juga ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Dr drg Zaura Rini Anggraeni MDS sebagai Ketua PB PDGI 2011-2014.

VIVA PDGI.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
drg. M Tryanza Maulana, MM
Sekjen PROKAMI (Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia) Founder www.rumahsenyum.org I www.periksagigigratis.com

Lihat Juga

Kesehatan

Pemerataan Dokter Hingga Pelosok, Jadi PR Besar Pemerintah